kontemporer / photos / post / sambasunda

Sambasunda, Musik Ekspresif Kontemporer

SAMBASUNDA memang bukan kelompok musik yang mengusung irama samba asal Brasil dalam balutan musik tradisi Sunda, ataupun musik khas Brasil yang disundakan. Tetapi, Sambasunda merupakan bentuk musik yang benar-benar nyunda atau bisa dikatakan sebagai musik Sunda kontemporer.

Suatu suguhan musik yang memiliki karakteristik khas yang dihasilkan dari alat-alat musik asli Sunda. Seperti halnya suguhan musik degung ataupun kecapi suling pada umumnya.

Namun, ada banyak yang membedakan musik Sambasunda dengan grup-grup musik Sunda lainnya. Kelebihan meramu nada-nada alat musik khas Sunda menjadi komposisi irama yang begitu akrab seperti halnya komposisi musik pop, jazz bahkan terkadang sentuhan latin.

Kelebihan lain adalah, tembang-tembang yang digunakan, bait-bait kata yang diterapkan merupakan rangkaian kata bahasa Sunda yang umum dipergunakan. Bahkan ada beberapa yang mengutip syair kaulinan budak, semisal pada lagu "Jaleuleuja".

Hal itulah yang hinggap di telinga sepanjang menyaksikan pergelaran Sambasunda dalam ajang musik "Art from Campus" bertempat di Gedung Kesenian Sunan Ambu, STSI Bandung, Kamis (5/2) malam lalu. "Suatu suguhan musik kelas dunia," ungkap Johnson (35), salah seorang mahasiswa asal Colorado yang turut menyaksikan.

Di bawah pimpinan Ismet Ruchimat, S.Sn. M.Hum., sejak awal Sambasunda menawarkan suguhan musik cukup ekspresif dengan kemampuan setiap personelnya memainkan alat musik. Tembang "Banondari" dengan olah vokal Rita Tila, disambung komposisi "Bubuka" yang kental dengan irama pukulan kendang yang rancak.

Melihat antusias penonton yang menyeruak maju ke depan panggung, Ismet memberikan tanda agar tempo dinaikkan dan pada bagian lain disisipi "Karatagan Pahlawan" menjadikan irama musik menjadi semakin ingar bingar dan menantang penonton yang turun dari kursi untuk meningkahinya dengan gerakan irama pencak silat.

Keakraban yang diciptakan melalui variasi komposisi nada-nada dari alat musik pukul, dawai, dan tiup, merupakan nilai tambah dari musik Sambasunda. Kelompok musik yang berpijak pada tradisi, kreasi, dan kontemporer yang garapan-garapannya mengakar pada seni tradisi Indonesia. Musik ini mulai akrab di penikmat musik kontemporer di sejumlah negara yang pernah disinggahi kelompok asal Kota Bandung yang personelnya jebolan Seni Karawitan (musik) STSI Bandung.

Rita Tila dengan gaya panggungnya yang kenes, bisa saja menjadi nilai tambah penampilan Sambasunda. Namun, bila didengar lebih saksama, petikan kecapi ditingkahi gesekan biola dengan kord minor yang lebih dominan, ditimpali pukulan kendang dan jimbe, serta permainan karinding, menjadi keutuhan penampilan Sambasunda.

Sebagaimana diakui Ismet, yang diungkapkan di setiap sela-sela repertoar yang akan dimainkan. "Inilah musik kita, musik tradisi yang harus jadi pijakan kemanapun kita bermain musik. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi yang akan memainkan," ujar Ismet.

Ya, Sambasunda sejak awal memproklamasirkan diri sebagai kelompok musik yang berpijak pada tradisi, kreasi, dan kontemporer yang garapan-garapannya mengakar pada seni tradisi Indonesia.

Bukti dari eksistensi dan keseriusan, juga mereka tunjukkan tidak hanya melalui bentuk pergelaran di sejumlah kota di dalam negeri maupun luar negeri, serta cukup produktif mencetak album. Tidak kurang dari enam album telah mereka keluarkan, "Rythmical Sundanese People", "Gebyar Bali Jaipong: Bajidor Kahot", "Sunda-Bali: Millenium Ritual", "Takbir dan Shalawat", "Salsa and Salse", dan "Sambasunda".

Nama Sambasunda mulai diperkenalkan sejak tahun 1998. Awal 1990 mereka memberi nama kelompok musik ini "PRAWA". Kemudian pada tahun 1997 nama "PRAWA" diganti menjadi CBMW. Nama ini terus dipakai hingga beberapa saat setelah diluncurkannya album perdana yang bertema "Rhythmical in Sundanese People". Terinspirasi oleh salah satu lagu yang ada di "Rhythmical in Sundanese People" yang berjudul "Sambasunda", akhirnya kelompok ini pun berganti nama menjadi Sambasunda hingga kini.

Kini meski nama mereka sudah dikenal di sejumlah negara, Ismet yang juga tercatat sebagai salah seorang staf pengajar di STSI Bandung selalu mewanti-wanti rekan-rekannya di Sambasunda maupun siswa-siswanya agar tidak jemawa manakala sudah memiliki nama. "Kelestarian seni tradisi (Sunda) yang menjadi pijakan kita, memainkan musik menjadi tujuan lebih utama dibandingkan segalanya," ujar Ismet

Pikiran Rakyat





One thought on “Sambasunda, Musik Ekspresif Kontemporer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s