deddy stanzah / gito rollies / photos / post / the rollies / uce f tekol

Jelang 40 Tahun The Rollies Grup Yang Tak Pernah Membubarkan Diri

oleh Denny Sakrie/KPMI

Hari hari datang dan pergi
Dan kemarin bukan hari ini
Yang telah berlalu
Biar berlalu.

Demikian penggalan lirik lagu ‘Hari-Hari’ yang ditulis bassis The Rollies, Oetje F Tekol, yang dinyanyikan Gito Rollies pada album New Rollies Volume 3 (Musica Studios,1978). Entah kenapa sepertinya terjadi kesepadanan makna lirik lagu itu dengan perjalanan karier The Rollies dari akhir era 60-an hingga sekarang ini.

Siapa yang menyangka jika The Rollies akan memasuki usia yang ke-40. Meskipun personelnya tinggal Bangun Soegito (vokal), Teuku Zulian Iskandar Madian (saxophone,gitar), Benny Likumahuwa (trombone,flute), Didiet Maruto (trumpet), Jimmie Manoppo (drum), dan Oetje F.Tekol (bas), The Rollies tak pernah secara resmi membubarkan diri. Padahal grup yang dibentuk di Bandung pada tahun 1967 ini telah kehilangan sebahagian personel utamanya mulai dari Iwan Kresnawan (drum) di tahun 1974, Deddy Stanzah (bass,vokal) pada 23 Januari 2001, Delly Djoko Alipin (vokal,keyboard) pada 30 Oktober 2002 ,dan Raden Bonnie Nurdaya (vokal,gitar) pada 13 Juli 2003.

Personel The Rollies yang tersisa memang ada yang baru sembuh dari serangan penyakit yaitu Gito Rollies yang sembuh dari kanker dan Jimmie Manoppo yang sembuh dari gangguan ginjal. Walaupun hampir tak pernah manggung dan rekaman lagi, para personel The Rollies masih giat bermain musik. Benny Likumahuwa lebih banyak bermain jazz baik di panggung maupun di rekaman. Jimmie Manoppo tetap bersama Big Band-nya. Didit Maruto aktif sebagai session player di berbagai rekaman dan ikut dalam berbagai orkestra maupun Big Band yang ada di Jakarta. Demikian pula Oetje F.Tekol yang tetap berkutat di dunia musik. Sedangkan Gito di sela-sela kegiatan religius, masih tetap aktif di dunia seni antara lain bermain film seperti Ada Apa dengan Cinta, Gerbang 13 maupun Janji Joni. Terakhir Gito tampil dalam album religius Opick pada lagu Cukup Bagiku.

The Rollies, sebetulnya bukan hanya kelompok musik kebanggaan kota Bandung, melainkan kebanggaan negeri ini. Apa yang menarik dari The Rollies ?

Bisa jadi karena kelompok ini senantiasa mengedepankan sesuatu yang baru dalam kurun waktu perjalanan musiknya. Pergeseran demi pergeseran warna musik memang acapkali ditapaki The Rollies. Selain memiliki personel yang tajam intuisi musikalitasnya, The Rollies pun memiliki beberapa vokalis dengan karakter yang berbeda. Taruhlah misalnya, Delly yang memiliki timbre tenor dan mampu meniti oktaf tinggi. Gito yang beratmosfer soul dan R&B. Deddy Stanzah yang memiripi karakter Blue eyed soul seperti Mick Jagger. Bahkan dipermanis dengan warna vokal melankolik Bonny yang banyak dipengaruhi warna Bee Gees.

Kekuatan The Rollies masih ditopang dengan tatanan musik yang mengacu pada pola brass section (instrumen musik tiup) yang terdiri dari trumpet, trombone, dan saxophone. Dengan elemen-elemen inilah The Rollies menorehkan kontribusi pada industri musik di Indonesia.

Kelahiran

The Rollies bermuasal dari gagasan Deddy Sutansyah yang kemudian lebih dikenal sebagai Deddy Stanzah. Di paruh era 60-an Deddy mengajak drummer, Iwan Kresnawan, dan gitaris, Tengku Zulian Iskandar Madian, dari kelompok Delimas serta Delly dari kelompok Genta Istana. Deddy lalu memilih nama Rollies sebagai identitas bandnya itu.

”Rollies itu berasal dari jenis rambut kita berempat. Saya dan Iskandar berambut roll (keriting), sedangkan Delly dan Iwan berambut lurus. Lalu disingkat menjadi rollies,” demikian ungkap Deddy Stanzah ketika diwawancarai pada tahun 1997.

Saat itu The Rollies membawakan repertoar luar mulai dari The Beatles, Bee Gees, The Rolling Stones. ”Maklum saat itu memang eranya British Invasion cerita Delly pada tahun 1995. Di tahun 1967, Bangun Sugito, alias Gito Rollies, bergabung di Rollies sebagai vokalis. ”Waktu itu Gito sering membawakan lagu-lagu Tom Jones, Engelbert Humperdink, dan sejenisnya. Tapi saya langsung meminta dia membawakan lagu-lagunya James Brown. Ternyata memang cocok,”tutur Deddy Stanzah.

Di tahun itu juga The Rollies dikontrak di Capitol Theater Singapore untuk tampil secara berkala dalam acara Morning Show. Saat itu memang banyak kelompok musik Bandung yang tampil sebagai penghibur di Singapura mulai dari The Peels hingga Trio Bimbo.

Masuknya pemusik jazz berdarah Ambon, Benny Likumahuwa, banyak mempengaruhi wawasan musik The Rollies. Pergeseran secara musikal pun mulai terjadi. Benny yang menguasai instrumen bass, drum, flute, trombone, dan saxophone, menyusupkan gagasan jitu yaitu mengetengahkan instrumen tiup sebagai bagian dari warna musik The Rollies. Akhirnya Gito tak hanya bernyanyi, namun mulai belajar meniup trumpet. Iskandar berpindah dari gitar ke saxophone, sedangkan Benny meniup trombone.

Formasi The Rollies lalu bertambah dengan masuknya Raden Bonny Nurdaya dari kelompok Paramor sebagai gitaris. Gito sendiri mengaku kewalahan harus membagi konsentrasi antara menyanyi dan meniup trumpet. ”Saya akhirnya minta nyanyi saja,” ungkap Gito. Sepulang dari Singapura, posisi trumpet diisi oleh Didiet Maruto.

Di akhir era tahun 60-an The Rollies pun tampil sebagai band pengiring, antara lain mengiringi penyanyi-penyanyi wanita seperti Anna Mathovani dan Fenty Effendi. Bahkan The Rollies sempat menjadi band pengiring Aida Mustafa dalam album Mengapa Menangis yang dirilis Philips Singapore pada tahun 1968.

Pada saat bersamaan Rollies merilis dua album pada perusahaan rekaman Phillips Singapore. Album pertama berisikan lagu-lagu cover version seperti ‘Gone Are The Song Of Yesterday’ (Love Affair), ‘I Feel Good’, ‘Cold Sweat’, dan ‘It’s A Man’s Man’s Man’s World’ (ketiganya milik James Brown), ‘The Love Of A Woman’ (Samantha Sang), ‘Can’t Last Much Longer'(Betty Harris), ‘Sunny’ (Bobby Hebb), ‘You Keep Me Hangin’ On’ (Diana Ross & The Supremes), dan ‘No Sad Songs For Me’ (Bobby Bare).

Warna musik

Jika dicermati album ini memang cenderung mengarah pada warna soul dan R&B. Warna musik semacam inilah yang menjadi cikal-bakal karakter musik The Rollies. Pemilihan genre musik seperti itu rasanya memang klop, karena The Rollies memang telah memilih brass section sebagai fondasi musiknya. Sementara di album kedua, The Rollies cenderung memainkan musik keroncong, langgam, dan lagu-lagu rakyat seperti ‘Putri Solo’, ‘Arjati’, ‘Selajang Pandang’, ‘Kerontjong Kemajoran’, ‘Kerontjong Bandar Djakarta’, ‘Sansaro’, ‘Bubuj Bulan’, ‘Saule Ajo Mama’. hingga ‘Pakpung Pak Mustapha’.

Dengan berlatar brass section, The Rollies akhirnya lebih banyak memainkan repertoar kelompok musik yang memainkan anasir funk, soul, dan jazz rock. Tak heran jika dalam setiap pementasannya The Rollies menyajikan karya-karya dari Tower of Power, Blood Sweat and Tears, Chicago, Malo, dan Sot.

Seusai kontrak bermain di Singapura dan Bangkok, The Rollies kembali ke Tanah Air. Di zaman itu negeri ini tengah diguncang fenomena band mulai dari Koes Plus, Panbers, The Mercy’s, Favorite’s Group, hingga D’Lloyd. Di masa inilah The Rollies merilis album Let’s Start Again dan Bad News di Remaco dan Sign Of Love di Purnama Record. ”Terus terang The Rollies kalah pamor dengan Koes Plus. Ketika kami diminta untuk membuat lagu seperti The Mercy’s, kami nggak sanggup. Mungkin karena kami terlalu idealis? Yang jelas kata pihak perekam, album The Rollies kurang komersil,” jelas Benny Likumahuwa.

Meskipun dianggap kurang komersiel, tapi ada beberapa lagu the Rollies yang membekas di khalayak pendengar semisal Salam Terakhir, Setangkai Bunga. Tetapi di era itu The Rollies justeru banyak memperoleh sambutan di pentas-pentas pertunjukan. Beberapa pertunjukan yang pantas dicatat adalah penampilan The Rollies bersama kelompok soul asal Amerika ‘Howler’ dalam acara Soul Show pada 9 Oktober 1971. The Rollies secara musikal dan showmanship mampu mengimbangi grup soul-funk tersebut.

The Rollies pun sering manggung bareng dengan grup multinasional asal Singapura yang kebetulan mengusung unsur brass section yaitu kelompok Fly Baits dan Black Fire Prophecy. Beberapa promotor pertunjukan musik pun memberikan kepercayaan pada The Rollies untuk menjadi grup pembuka kelompok mancanegara seperti Bee Gees di Stadion Utama Senayan pada 2 April 1972 maupun Shocking Blue di Taman Ria Monumen Nasional Jakarta pada 23 Juli 1972. Tak hanya itu, The Rollies pun mencoba melakukan eksperimen bermusik seperti yang diperlihatkan pada konser akbar Summer ’28 (akronim dari Suasana Meriah Menjelang Kemerdekaan ke-28) yang berlangsung di Ragunan, Pasar Minggu, Jaksel, 16 Agustus 1973, yaitu dengan menyandingkan perangkat gamelan Sunda dengan perangkat musik elektrik. Maka dibawakanlah lagu karya Sambas Manuk Dadali sebagai objek eksperimen The Rollies.

Album live

Sayangnya ketenaran The Rollies justeru tumbang karena ulah personelnya sendiri. Tiga personel terlibat penggunaan psikotropika yang akut: Deddy Stanzah, Iwan Kresnawan, dan Bangun Sugito. Deddy mundur dari The Rollies dan Iwan bahkan berpulang pada tahun 1974.

Namun, The Rollies yang limbung akhirnya bisa memulihkan keadaan. Direkrutlah Oetje F Tekol (bas) dan Jimmie Manoppo (drum) yang menjadikan The Rollies seolah memiliki darah baru. The Rollies kembali merilis album baru di tahun 1976 di perusahaan rekaman Hidayat Audio Bandung. Uniknya album itu berbentuk live yang diambil dari rekaman pertunjukan The Rollies saat manggung di Taman Ismail Marzuki pada 2 dan 3 Oktober 1976. Album ini bisa dianggap sebagai album live pertama dari sebuah grup rock di Indonesia.

Setelah itu The Rollies merilis album Tiada Kusangka yang merupakan re-make atas lagu-lagu yang pernah mereka bawakan di album-album ketika Deddy Stanzah dan Iwan Kresnawan masih bergabung di The Rollies.

Selanjutnya di era 1977-1979, The Rollies mendapat kontrak rekaman dari Musica Studio. Ini bisa dianggap sukses kedua dalam perjalanan karier grup ini. Karena di era inilah The Rollies banyak menghasilkan hits seperti Sinar Yang Hilang (Wandi Kuswandi), Dansa Yok Dansa, dan Bimbi (Titiek Puspa), Hari Hari dan Kemarau (Oetje F Tekol), hingga Kau yang Kusayang (Antonius).

Di era ini di samping menggunakan nama New Rollies, Delly dkk mulai membuka diri dengan menyanyikan lagu-lagu karya komposer di luar tubuh The Rollies, misalnya A Riyanto, Titiek Puspa, Johannes Purba, Antonius. Benny Likumahuwa setelah The Rollies merilis album Keadilan (1977) mengundurkan diri dan lebih banyak berkutat di musik jazz. Posisinya lalu digantikan oleh Wawan Tagalos. Tengku Zulfian Iskandar Madian juga mengundurkan diri setelah merilis album Dansa Yok Dansa (1977), posisinya kemudian digantikan Pomo dari The Pro’s.

Di tahun 1979 The Rollies memperoleh penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim, karena lagu Kemarau. Lagu yang dikarang Oetje F Tekol dianggap memuat misi dan pesan lingkungan hidup.

Perbedaan visi musik

Memasuki era 1980-an terjadi perbedaan visi musik di antara personel The Rollies. Pada masa ini Rollies memang tidak banyak melakukan pertunjukan dan rekaman. Seluruh personel malah disibukkan dengan proyek musik masing-masing. Didiet Maruto ikut bergabung dengan Abadi Soesman Jazz Band, Wawan Tagalos mendukung grup baru Drakhma, Oetje F Tekol aktif sebagai pencipta lagu dan penata musik di berbagai album pop. Bonny Nurdaya mendaurulang lagu-lagu lama The Rollies seperti Salam Terakhir dan Setangkai Bunga. Bahkan ia sempat bereksperimen memadukan musik tradisional Sunda dengan repertoar The Beatles dalam album Punk Reog.

Sementara Gito Rollies mulai aktif berakting di layar lebar dengan membintangi film Perempuan Tanpa Dosa, Di Ujung Malam hingga Kereta Terakhir. Jimmie Manoppo merintis solo karier di Akurama Record dan menghasilkan 4 album : Album Perdana, Ceritaku Ceritamu, Dewi Angan-angan, dan Ding Dong. Sedangkan Delly Rollies juga bersolo karier lewat 5 album solo dengan penata musik Fariz RM, Harry Sabar dan Willy Sumantri.

Di tahun 1983 The Rollies mencoba comeback lagi lewat album Rollies 83 (Sokha Record) dengan hits Dunia Dalam Berita (Oetje F Tekol) dan Mabuk Cinta (Harry Sabar). Ini merupakan kebangkitan ketiga The Rollies. Sayangnya setelah merilis album Rollies dengan hits Astuti dan Burung Kecil, tampaknya The Rollies seolah tak memiliki sesuatu yang bisa diandalkan.

Bermunculannya grup-grup seperti Krakatau, Karimata, Emerald, hingga Bhaskara seolah menggilas kekuatan musik The Rollies. Kehadiran grup berkonotasi fusion tersebut menjadikan kelompok musik ini seolah macan kertas yang tiada berdaya.

Meskipun tetap bertahan dengan merilis album-album baru hingga era 90-an, tapi secara jujur harus diakui masa gemilang The Rollies memang telah lampau. Dan, Oetje F Tekol seolah telah meramal keadaan tersebut dalam lirik lagu Hari-Hari.

Hari ini
tak pernah akan kembali
Dan nikmati hingga kemarin
Takkan kau sesali lagi

DISKOGRAFI

1. The Rollies – The Rollies (Phillips,1968)

2. Hallo Bandung! – The Rollies (Philips,1969)

3. Let’s Start Again – The Rollies (Remaco,1971)

4. Bad News – The Rollies (Remaco,1972)

5. Sign Of Love – The Rollies (Purnama Record,1973)

6. Rollies Live Show TIM 2 & 3 Oct 1976 – The Rollies (Hidayat Audio, 1976)

7. Tiada Kusangka – The Rollies (Hidayat Audio,1976)

8. Keadilan – New Rollies (Musica Studios,1977)

9. Dansa Yok Dansa – New Rollies (Musica Studios,1977)

10.Bimbi (Vol.3) – New Rollies (Musica Studios,1978)

11.Kemarau – New Rollies (Musica Studios,1978)

12.Kerinduan – New Rollies (Musica Studios,1979)

13.Pertanda – New Rollies (Musica Studios,1979)

14.Rollies’83 (Mabuk Cinta) – Rollies (Sokha,1983)

15.Rollies (Astuti) – Rollies (Sokha,1984)

16.Rollies’86 (Problema) – Rollies (Sokha,1986)

17.Iya Kan? – Rollies (Sokha,1990)

18.New Rollies’97 – New Rollies (Musica Studio,1997)

(Republika, 06 dan 13 Nopember 2006)/mas Thomas











11 thoughts on “Jelang 40 Tahun The Rollies Grup Yang Tak Pernah Membubarkan Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s