jimmie manopo / photos / post

Jimmie Manopo Musisi Serba Bisa

Jimmie Manopo Musisi Serba Bisa

Anda & Andi/ KPMI

Pria kelahiran Palembang, Sumatra Selatan, 22 Agustus 1953 ini, mempunyai gaya bicara yang ceplas-ceplos. Banyak yang mengira dia orang yang seenaknya melakukan sesuatu. Tapi terlepas dari itu semua, pria berdarah Manado ini sudah membuktikan bahwa dengan bermusik sudah menghasilkan apa yang telah didapatkannya, seperti sekarang ini, mengingat perjalanan kariernya tanpa mengenyam pendidikan pada sekolah musik formal. Semua dilakukan belajar secara otodidak. Dialah penabuh drum grup The Rollies yang melegenda di Tanah Air dan dia pun sudah menghasilkan lima buah album solo selain sebagai penyanyi juga sebagai penata musik.

Musisi berbakat

Terlahir dengan nama Allan James Manopo, sekitar 1960, James atau Jimmie biasa dipanggil, baru menginjak usia tujuh tahun dibelikan seperangkat alat-alat musik. Namun, tanpa disangka Jimmie kecil yang awalnya hanya senang melihat saja pada akhirnya dapat menguasai gitar, di mana sang kakak yang mengajarinya dan alat instrumen inilah yang pertama dikuasainya, bukan drum yang selama ini kita kenal.

Saat duduk di kelas 5 SD, Jimmie sudah dapat mengajari teman-temannya yang usianya jauh di atasnya, bahkan ada yang sudah kuliah. Bakat musiknya ini merupakan sebuah anugerah. Berangkat dari itu Jimmie kecil mencoba membuat band, yaitu band Bocah pada era 1964-1965 dan di band ini ia memainkan perangkat pukul atau drum. Mulailah pada tahun 1966-1967 saat menginjak usia 14 tahun sebuah band di komplek Kavaleri Bandung mengajaknya bergabung untuk posisi penabuh drum yang kebetulan pada waktu itu sedang kosong.

Pada era inilah Jimmie mulai memasuki dunia musik secara profesional sebagai pemain drum. Walaupun umurnya baru belasan tahun, tetapi sudah dipercaya mengisi posisi itu yang kemudian tampil di TVRI bersama Band Kridaya Sakti Rhythim.

Setelah bermain di mana-mana kemudian ada tawaran menarik dari Sugatha Band untuk bermain di beberapa night club di sekitar Bandung. Di era 1967-1968 Jimmie sudah banyak menarik perhatian musisi kota Bandung untuk mengajaknya bergabung di band mereka di tiga band berbeda, Sugatha Band, New Rhapsodya (versi Dedi Dores), dan New Rhapsodya (versi Uce F Tekol) tahun 1969. Setahun kemudian, Jimmie bergabung dengan band lainnya yang mendapatkan kontrak untuk mengisi sebagai home band di night club Eli Cici Coca yang cukup ternama.

Sebuah kebanggan sendiri jika dapat bermain di night club Jakarta yang saat itu jarang didapat oleh musisi lain. Pada 1974, Jimmie bergabung dengan band The Steel pimpinan Andi Ahmad (sekarang bupati Lampung). Dan, ketika bergabung dengan The Steel, anggota band The Rollies sudah lama menyaksikan keterampilan Jimmie dan mereka tertarik untuk menariknya. Sat itu drummer The Rollies, Iwan Krisnawan memang sering berhalangan.

Tanpa pikir panjang Jimmie pun setuju, dengan syarat masih tetap diperbolehkan bermain untuk band The Steel, yang disponsori oleh Krakatau Steel. Jimmie pun memperoleh gaji bulanan yang lumayan pada waktu itu. Sekitar 1980, ketika The Rollies rekaman di studio Musica, pada waktu bersamaan di studio sebelah ada yang sedang berlatih, yaitu orchestra Telerama. Ketika mereka beristirahat bersama Elfa Secoria, salah satu musisi pendukung, menawari Jimmie sebagai penabuh drum pada orchestra Telerama tersebut yang dipimpin oleh Isbandi.

Setelah berembuk dengan pimpinan Isbandi, Elfa pun langsung setuju Jimmie menggantikan Eddy Tulis, dramer sebelumnya. Ketika latihan dia bermain drum sambil mereka-reka partitur dan berpura-pura membaca dengan not balok, padahal sujurnya hatinya dag-dig-dug. ”Untungnya saja akhirnya saya lolos dan berhasil menabuh drum dengan benar,” ujar Jimmie. ”Sungguh ini pengalaman yang tidak terlupakan. Sejak itu saya mulai serius belajar membaca not balok, saya kerja keras tanpa bosan untuk membaca buku-buku musik, tanya ke sana kemari,”

Jimmie pun banyak belajar tentang bagaimana menulis partitur untuk orchestra. Akhirnya Isbandi memberikan kesempatan untuk mengaransmen lagu pada Jimmie. Tetapi sewaktu di studio, ia tidak berani mengarahkan aba-aba ke pada para musisi dan diserahkan kepada Isbandi, dia hanya berdiri dibalik pintu karena malu.

Solo album

Karena mengaransemen lagu sudah bisa, Jimmie mencoba untuk menyanyikan sendiri lagu ciptaannya. Lagu pertamanya berjudul Anugrah yang inspirasinya dibuat, karena kelahiran putri pertamanya. Ketika merekam lagu ini di studio Permata (Roxy Mas), kebetulan bos Akurama Record, Hartono, datang ke studio dan tertarik melihat Jimmie, lalu kemudian ditawari kontrak rekaman.

Album perdananya tidak disangka sukses di pasaran. Kemudian berlanjut dengan penawaran kontrak dua album sekaligus serta diberikan bonus sebuah Mobil. Setelah album kedua Dewi Angan-angan (1981), lanjut album ke tiga bertajuk Ceritamu Ceritaku (1982), ia kembali ditawari perpanjangan kontrak dua album lagi dari Akurama Record.

Penggarapan album keempat bertajuk Ding Dong berlanjut serta tawatan tur The Rollies yang begitu padat, semua dijalankan bersamaan dalam tahun yang sama. Tahun tersebut merupakan tahun berkah bagi Jimmie. Dalam penggarapan album keempat ini sudah memasuki fase kebosanan, karena kesibukan yang luar biasa. Ketika akan menyiapkan album kelima kerja samanya dengan Akurama Record pun berakhir.

Untuk penggarapan album kelima ini, Jimmie mempersiapkan lebih ekstra dibanding album-album sebelumnya, mengingat biayanya ditanggung sendiri. serta aransemen musiknya yang lebih bervariasi. Dia pun mencoba dari awal lagi dengan menawarkan rekamannya ke Flower Sound (Pak Toni).

Dengan tawaran yang dianggap menguntungkan, proyek penggarapan album diteruskan lagi dengan mengajak Widya Kristianti. Baru selesai empat lagu. Pak Toni berubah pikiran. Biaya rekaman Jimme ditanggung sepenuhnya. Namun, karena kesibukan Pak Toni, promosi album terbengkelai dan penjualan agak macet. Padahal banyak produser yang tertarik dengan album kelima ini yang diberi judul Dia yang Kurindu.

Tidak sedikit pula album-album penyanyi lain yang dibantu oleh Jimmie Manopo, baik sebagai penabuh drum atau music director. Antara lain Chrisye, Geronimo, Ebiet G Ade, Nike Ardila, Berlian Hutahuruk, dan Idris Sardi Orkes Symphony (sebagai penabuh drum),

Pengalaman dalam mengiringi penyanyi mempunyai kebanggaan tersendiri bagi Jimmie dan ada kesan yang mendalam ketika dapat bekerja sama dengan mantan Presiden RI Megawati (lagu Moncong Putih), serta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono album Rinduku Padamu. Di tahun 2003 lalu, ia bekerja sama dengan ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) mengadakan pergelaran The Golden Sixties 2003 with Jimmie Manopo Orchestra (konduktor). dengan mengiringi artis musisi legenda seperti Yon & Yok Koeswoyo, Titiek Puspa, Achmad Albar, Jopie Item, dan Mus Mujiono. Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa seorang Jimmie Manopo masih dipercaya mengiringi artis-artis ternama.

Diskografi

(1980) Album perdana

(1981) Dewi Angan-angan

(1982) Ceritamu Ceritaku– Akurama Record

(1984) Ding Dong

(1985) Dia yang Kurindu — Flower Sound Record



11 thoughts on “Jimmie Manopo Musisi Serba Bisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s