harry noerdie / photos / post

Harry Noerdie, Penyanyi Dan Hakim

Kalau ke ruang karaoke, saya selalu pilih ‘Andaikan’. Lagu ini saya hafal sejak kecil di kampung halaman, Flores Timur. Melodinya enak, syairnya puitis. Ini khas lagu-lagu Indonesia sebelum era 1980-an.

Setelah jadi wartawan di Kota Surabaya, tahulah saya bahwa ‘Andaikan’ diciptakan oleh Bapak Harry Noerdi. Dia hakim senior yang bertugas di Pengadilan Negeri Surabaya, Jalan Arjuna. Kebetulan, ah lagi-lagi kebetulan, saya pernah beat alias ngepos di PN Surabaya. Tambah klop!

Saya pun jadi mengenal lebih dekat Pak Harry Noerdi, penulis lagu, penyanyi, yang dulu hanya bisa saya dengar suaranya di tape recorder. Wah, Pak Harry ternyata tidak bertampang artis atau orang terkenal. Sama saja dengan hakim-hakim lain. Orang biasalah.

Bahkan, tak banyak yang tahu kalau dia itu pernah menjadi penyanyi, penulis lagu, yang karya-karyanya hit pada 1970-an. "Saya memang suka musik sejak remaja. Main band, menyanyi, gitaran. Teman saya antara lain Markus Sajogo yang kebetulan sama-sama anak band," cerita Harry Noerdi [69 tahun] suatu ketika.

Beberapa saat setelah reformasi, 1998, Harry Noerdi dipercaya menjadi juru bicara atawa humas PN Sidoarjo. Otomatis, beliau sering berhubungan dengan wartawan. Malam-malam saya sering menelepon Pak Harry untuk meminta konfirmasi atas suatu masalah.

Di ujung wawancara, biasanya saya mengalihkan persoalan, "Bapak masih sempat main gitar atau menulis lagu?" Pak Harry Noerdi biasanya tertawa kecil. Dia bilang musik tidak bisa lepas dari kehidupannya. Menyanyi menjadi hobi yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya.

"Tapi saya sibuk di pengadilan sehingga tidak bisa seperti dulu. Profesi saya kan hakim. Hehehe," ujar penyanyi bersuara bariton ini. Harry Noerdi biasanya menyanyi dengan penuh penghayatan.

Lagu ‘Andaikan’ sangat berasa kalau dia nyanyikan sendiri kendati kualitas vokalnya termasuk tidak istimewa. Dia pernah cerita bahwa lagu ‘Andaikan’ yang sangat terkenal, legendaris itu, ditulis secara spontan. Dia main gitar, bersenandung, ketemu melodi, menulis lirik… jadilah lagu yang belakangan dinyanyikan penyanyi-penyanyi macam Yuni Shara, Elfa Singer’s, Broery Marantika, Ade Manuhutu, Rachmat Kartolo… dan banyak lagi.

Seperti umumnya penulis lagu, Harry Noerdi mengaku tak menyangka bahwa ‘Andaikan’ akan terkenal sampai hari ini. Tugas seniman, kata dia, hanya bikin karya seni. Terkenal atau tidak, populer atau tidak… itu urusan waktu dan pasar. Kebetulan orang Indonesia rata-rata melodius, suka lagu-lagu bermelodi kuat, sehingga ‘Andaikan’ pun cepat menjadi hits di blantika musik pop pada 1970-an.

Di era Presiden B.J. Habibie digelar pemilihan umum multipartai pertama di era reformasi. Kali ini, Harry Noerdi dipercaya sebagai ketua Panitia Pengawas Pemilu [Panwaslu] Kota Surabaya. Kebetulan saya mendapat tugas sebagai reporter politik dengan fokus pada pemilu. Sebanyak 48 partai ikut pemilu, dan itu membuat suasana politik riuh rendah.

Pelanggaran terjadi di seluruh Kota Surabaya. Tiap hari Harry Noerdi mendapat pengaduan dari pengurus partai di desa, kecamatan, hingga kota. Apa boleh buat, Harry Noerdi pun pusing kepala menghadapi proses politik yang sebelumnya tak pernah ditekuninya. Dia seniman musik, dia hakim atawa hamba hukum.

Boleh dikata, Harry Noerdi itu apolitis. Namun, justru kenetralannya inilah yang membuat peserta pemilu yakin bahwa Panwaslu Kota Surabaya bersikap netral. Kredibilitas Panwaslu Surabaya sangat baik jadinya.

"Waktu itu kami menghadapi semua pengaduan dengan enjoy. Semua pengaduan kami kaji, analisis, dan memberikan rekomendasi. Apalagi, kepemimpinan Pak Harry Noerdi di Panwaslu juga sangat demokratis," cerita Romo Eko Budi Susilo, Pr., rohaniwan Katolik, yang juga anggota Panwaslu Surabaya pada tahun 1999.

Eh, kebetulan lagi di Panwaslu ada beberapa anggota yang suka musik dan nyanyi. Harry Noerdi jelas penyanyi dan penulis lagu. Romo Eko sangat senang menyanyi apa saja. Mbak Indah, perempuan anggota Panwaslu, bekas juara bintang radio dan televisi di Jawa Timur. Ditambah beberapa wartawan politik, termasuk saya, suka nyanyi dan antusias di musik. Klop!

"Jangan lupa nanti malam kita rekreasi di Nur Pacific ya? Anda habis menulis berita cepat-cepat gabung ya?" pesan Romo Eko Budi Susilo.

Asal tahu saja, Nur Pacific adalah restoran yang punya fasilitas kamar karaoke paling bagus di Surabaya, saat itu. Tentu saja, saya gabung karena pasti dapat banyak informasi seputar pemilu di Kota Surabaya. Bukankah Pak Harry Noerdi serta para anggota panwaslu ada di sana? Hehehe….

Di situlah, kali pertama, saya menyaksikan penyanyi dan penulis lagu menyanyikan lagunya sendiri. Pak Harry Noerdi membawakan ‘Andaikan’ dengan penuh perasaan. Andaikan seorang kan datang… menghibur hati sedang sunyi…. Lalu, tepuk tangan ramai-ramai.

Karier Harry Noerdi di bidang hukum naik terus. Setelah jadi Humas PN Surabaya, kemudian ketua Panwaslu Surabaya, beliau ditarik ke Mahkamah Agung di Jakarta. Saya pun kehilangan kontak sama beliau. Belakangan, dari Jakarta dia ditugaskan lagi ke Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebagai hakim tinggi. Apa kabar Pak Harry Noerdi sekarang?

Yang jelas, sampai sekarang saya masih memesan lagu ‘Andaikan’ di kamar karaoke di Surabaya. Ini membuat saya tak pernah melupakan sosok Bapak Harry Noerdi. Manusia multitalenta: hakim, penulis lagu, penyanyi, pengawal reformasi, ayah, teman, guru… yang baik.

Berkat musik, hakim senior ini selalu murah senyum, ramah, halus tutur kata, dan siap melayani siapa pun.

Ah, andaikan semua hakim macam Harry Noerdi!

Andaikan seorang kan datang
Menghibur hati sedang sunyi
Ku kan mengabdi padamu seorang
Kekal abadi insani

Andaikan seorang kan datang
Menghibur hati sedang sunyi
Ku kan mengabdi padamu seorang
Kekal abadi insani

Namun ku pohonkan kepadamu
Janganlah kau ragu kan cintaku

Di kala hati sedang pilu
Harapanku seorang s’lalu
Dikalaulah sayang pujaan hati
Saling mencinta dan murni

CATATAN:

Syair lagu yang ditulis Harry Noerdi ini sangat memerhatikan rima. Perhatikan: bait pertama pola rimanya g-i-g-i [datang, sunyi, seorang, insani].
Jembatan atau bridge lagu pakai vokal u [kepadamu, cintaku]. Bait akhir pola rima uu-ii [pilu, s’lalu, hati, murni].

http://hurek.blogspot.com

HN

44 thoughts on “Harry Noerdie, Penyanyi Dan Hakim

  1. klas papat SD nek bu guru ndawuhi nyanyi ning ngarep aku nyanyi andaikan….klo nggak ya…..bagikan bintang nan cemerlang,jauh tinggi diawan….indah nian paras dikau…!

  2. bierha said: klas papat SD nek bu guru ndawuhi nyanyi ning ngarep aku nyanyi andaikan….klo nggak ya…..bagikan bintang nan cemerlang,jauh tinggi diawan….indah nian paras dikau…!

    ora didukani bu Guru , pak? hehehehhehe

  3. bierha said: klas papat SD nek bu guru ndawuhi nyanyi ning ngarep aku nyanyi andaikan….klo nggak ya…..bagikan bintang nan cemerlang,jauh tinggi diawan….indah nian paras dikau…!

    harmonisasi vocall KATARA -nya bagus loch….cobain deh……klow yg laen sih ktnyah banyak yg suka lagu Vina…tp klow aku suknayah yg KATARA ituh…..mungkin krn KATARA dari bandung kali yah…..he he he

  4. bierha said: klas papat SD nek bu guru ndawuhi nyanyi ning ngarep aku nyanyi andaikan….klo nggak ya…..bagikan bintang nan cemerlang,jauh tinggi diawan….indah nian paras dikau…!

    KATARA mah , group vocal emang paling OKtuh!!Halah!! SARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAa

  5. bierha said: klas papat SD nek bu guru ndawuhi nyanyi ning ngarep aku nyanyi andaikan….klo nggak ya…..bagikan bintang nan cemerlang,jauh tinggi diawan….indah nian paras dikau…!

    Mbak, mau dong lagu ANDAIKAN dan "MANIS DAN SAYANG"nya katara.
    Nuhun.

  6. nadanusantara said: Kalau ke ruang karaoke, saya selalu pilih ‘Andaikan’. Lagu ini saya hafal sejak kecil di kampung halaman, Flores Timur. Melodinya enak, syairnya puitis. Ini khas lagu-lagu Indonesia sebelum era 1980-an.Setelah jadi wartawan di Kota Surabaya, tahulah saya bahwa ‘Andaikan’ diciptakan oleh Bapak Harry Noerdi. Dia hakim senior yang bertugas di Pengadilan Negeri Surabaya, Jalan Arjuna. Kebetulan, ah lagi-lagi kebetulan, saya pernah beat alias ngepos di PN Surabaya. Tambah klop!Saya pun jadi mengenal lebih dekat Pak Harry Noerdi, penulis lagu, penyanyi, yang dulu hanya bisa saya dengar suaranya di tape recorder. Wah, Pak Harry ternyata tidak bertampang artis atau orang terkenal. Sama saja dengan hakim-hakim lain. Orang biasalah.Bahkan, tak banyak yang tahu kalau dia itu pernah menjadi penyanyi, penulis lagu, yang karya-karyanya hit pada 1970-an. "Saya memang suka musik sejak remaja. Main band, menyanyi, gitaran. Teman saya antara lain Markus Sajogo yang kebetulan sama-sama anak band," cerita Harry Noerdi [69 tahun] suatu ketika.Beberapa saat setelah reformasi, 1998, Harry Noerdi dipercaya menjadi juru bicara atawa humas PN Sidoarjo. Otomatis, beliau sering berhubungan dengan wartawan. Malam-malam saya sering menelepon Pak Harry untuk meminta konfirmasi atas suatu masalah.Di ujung wawancara, biasanya saya mengalihkan persoalan, "Bapak masih sempat main gitar atau menulis lagu?" Pak Harry Noerdi biasanya tertawa kecil. Dia bilang musik tidak bisa lepas dari kehidupannya. Menyanyi menjadi hobi yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya."Tapi saya sibuk di pengadilan sehingga tidak bisa seperti dulu. Profesi saya kan hakim. Hehehe," ujar penyanyi bersuara bariton ini. Harry Noerdi biasanya menyanyi dengan penuh penghayatan.Lagu ‘Andaikan’ sangat berasa kalau dia nyanyikan sendiri kendati kualitas vokalnya termasuk tidak istimewa. Dia pernah cerita bahwa lagu ‘Andaikan’ yang sangat terkenal, legendaris itu, ditulis secara spontan. Dia main gitar, bersenandung, ketemu melodi, menulis lirik… jadilah lagu yang belakangan dinyanyikan penyanyi-penyanyi macam Yuni Shara, Elfa Singer’s, Broery Marantika, Ade Manuhutu, Rachmat Kartolo… dan banyak lagi.Seperti umumnya penulis lagu, Harry Noerdi mengaku tak menyangka bahwa ‘Andaikan’ akan terkenal sampai hari ini. Tugas seniman, kata dia, hanya bikin karya seni. Terkenal atau tidak, populer atau tidak… itu urusan waktu dan pasar. Kebetulan orang Indonesia rata-rata melodius, suka lagu-lagu bermelodi kuat, sehingga ‘Andaikan’ pun cepat menjadi hits di blantika musik pop pada 1970-an. Di era Presiden B.J. Habibie digelar pemilihan umum multipartai pertama di era reformasi. Kali ini, Harry Noerdi dipercaya sebagai ketua Panitia Pengawas Pemilu [Panwaslu] Kota Surabaya. Kebetulan saya mendapat tugas sebagai reporter politik dengan fokus pada pemilu. Sebanyak 48 partai ikut pemilu, dan itu membuat suasana politik riuh rendah.Pelanggaran terjadi di seluruh Kota Surabaya. Tiap hari Harry Noerdi mendapat pengaduan dari pengurus partai di desa, kecamatan, hingga kota. Apa boleh buat, Harry Noerdi pun pusing kepala menghadapi proses politik yang sebelumnya tak pernah ditekuninya. Dia seniman musik, dia hakim atawa hamba hukum.Boleh dikata, Harry Noerdi itu apolitis. Namun, justru kenetralannya inilah yang membuat peserta pemilu yakin bahwa Panwaslu Kota Surabaya bersikap netral. Kredibilitas Panwaslu Surabaya sangat baik jadinya."Waktu itu kami menghadapi semua pengaduan dengan enjoy. Semua pengaduan kami kaji, analisis, dan memberikan rekomendasi. Apalagi, kepemimpinan Pak Harry Noerdi di Panwaslu juga sangat demokratis," cerita Romo Eko Budi Susilo, Pr., rohaniwan Katolik, yang juga anggota Panwaslu Surabaya pada tahun 1999.Eh, kebetulan lagi di Panwaslu ada beberapa anggota yang suka musik dan nyanyi. Harry Noerdi jelas penyanyi dan penulis lagu. Romo Eko sangat senang menyanyi apa saja. Mbak Indah, perempuan anggota Panwaslu, bekas juara bintang radio dan televisi di Jawa Timur. Ditambah beberapa wartawan politik, termasuk saya, suka nyanyi dan antusias di musik. Klop!"Jangan lupa nanti malam kita rekreasi di Nur Pacific ya? Anda habis menulis berita cepat-cepat gabung ya?" pesan Romo Eko Budi Susilo.Asal tahu saja, Nur Pacific adalah restoran yang punya fasilitas kamar karaoke paling bagus di Surabaya, saat itu. Tentu saja, saya gabung karena pasti dapat banyak informasi seputar pemilu di Kota Surabaya. Bukankah Pak Harry Noerdi serta para anggota panwaslu ada di sana? Hehehe….Di situlah, kali pertama, saya menyaksikan penyanyi dan penulis lagu menyanyikan lagunya sendiri. Pak Harry Noerdi membawakan ‘Andaikan’ dengan penuh perasaan. Andaikan seorang kan datang… menghibur hati sedang sunyi…. Lalu, tepuk tangan ramai-ramai.Karier Harry Noerdi di bidang hukum naik terus. Setelah jadi Humas PN Surabaya, kemudian ketua Panwaslu Surabaya, beliau ditarik ke Mahkamah Agung di Jakarta. Saya pun kehilangan kontak sama beliau. Belakangan, dari Jakarta dia ditugaskan lagi ke Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebagai hakim tinggi. Apa kabar Pak Harry Noerdi sekarang?Yang jelas, sampai sekarang saya masih memesan lagu ‘Andaikan’ di kamar karaoke di Surabaya. Ini membuat saya tak pernah melupakan sosok Bapak Harry Noerdi. Manusia multitalenta: hakim, penulis lagu, penyanyi, pengawal reformasi, ayah, teman, guru… yang baik.Berkat musik, hakim senior ini selalu murah senyum, ramah, halus tutur kata, dan siap melayani siapa pun.Ah, andaikan semua hakim macam Harry Noerdi!Andaikan seorang kan datangMenghibur hati sedang sunyiKu kan mengabdi padamu seorangKekal abadi insaniAndaikan seorang kan datangMenghibur hati sedang sunyiKu kan mengabdi padamu seorangKekal abadi insaniNamun ku pohonkan kepadamuJanganlah kau ragu kan cintakuDi kala hati sedang piluHarapanku seorang s’laluDikalaulah sayang pujaan hatiSaling mencinta dan murniCATATAN:Syair lagu yang ditulis Harry Noerdi ini sangat memerhatikan rima. Perhatikan: bait pertama pola rimanya g-i-g-i [datang, sunyi, seorang, insani].Jembatan atau bridge lagu pakai vokal u [kepadamu, cintaku]. Bait akhir pola rima uu-ii [pilu, s’lalu, hati, murni]. http://hurek.blogspot.com

    sing duko pak guru……….lha naksir blio…..kasih tak sampai by tuty subarjo……!

  7. badjoeri said: Mbak, mau dong lagu ANDAIKAN dan "MANIS DAN SAYANG"nya katara.Nuhun.

    mbakkkkkkkkk horeeeeeeeeeeeeeee ana perang manehhhhh
    aja nggoleki aku sik yooo,,,,,,,,,aku bakal sibuk nihhhhh,,,,,,,,,,,,,,,sibuk ngompori hahahahhaha

  8. badjoeri said: Mbak, mau dong lagu ANDAIKAN dan "MANIS DAN SAYANG"nya katara.Nuhun.

    woalaah kuwi bocahku jan senengee nek ana sing gelut, nganti headshote we diganti gambar lambe di coret

  9. amaltiagunawan said: aku jupuk gambar cangkem di coret ndek nggonamu tak nggo headshot hahahah

    hahahaahahhahahahah aku yo ho oh,,,,padahal aku lak ming sorak sorak ana wong tuwo kok pada tukaran, do ra sadar nek lagi tak geguyu
    tapi yo dasar amaltia gunawan,,,,,,ndableg hahahahha

  10. amaltiagunawan said: aku jupuk gambar cangkem di coret ndek nggonamu tak nggo headshot hahahah

    lah yoben to, wong hakku komentar, salahe di share ndek public, yo public punya hak komentar
    kan ada hak komentar dan hak jawab dalam etika bermain blog di dunia maya,,,,,hu

  11. badjoeri said: Sorry nyela. Makasih ya mbak atas perhatiannya. Abis merhatiin obrolan kalian ini, gw jadi "kabita" ama lagu2nya hehe…

    Waduh, makasih banget ya mbak ku yg baik.
    Cium dulu ah. Mmuach!

  12. Pingback: Ana Manthovani Mp3 Downloads Ana Manthovani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s