orkes melayu / photos / post / wiwiek abidin

Wiwiek Abidin, Teman Duet Bang Haji Yang Pertama

Karier dan Cinta si Raja Dangdut –
Semula Menolak Lagu Melayu

MESKI kini mendapat julukan sang Raja Dangdut, ternyata Rhoma Irama pernah merasa enggan menyanyikan lagu-lagu berirama Melayu. Musik pop dan rock adalah langkah pertama Rhoma Irama sebagai pemusik dan penyanyi. Di awal kariernya sebagai penyanyi rekaman, lelaki bernama asli Raden Oma Irama ini sempat enggan merekam lagu Melayu yang ditawarkan Dick Tamimi dari perusahaan rekaman ”Dimita Moulding Company” pada 1967.

Pria kelahiran Tasikmalaya, 11 Desember 1946 ini sudah ketahuan punya bakat seni sejak kecil. Anak kedua dari 14 bersaudara ini akan menghentikan tangisannya setiap kali ibunya, Tuti Juariah menyenandungkan lagu-lagu. Masuk kelas nol, ia sudah mulai menyukai lagu. Minatnya pada lagu semakin besar ketika masuk sekolah dasar. Menginjak kelas 2 SD, ia sudah bisa membawakan lagu-lagu Barat dan India dengan baik. Ia suka menyanyikan lagu No Other Love, kesayangan ibunya, dan lagu Mera Bilye Buchariajaya yang dinyanyikan oleh Lata Maagiskar. Selain itu, ia juga menikmati lagu-lagu Timur Tengah yang dinyanyikan Ummi Kaltsum.

Ayahnya, Raden Burdah Anggawirya, seorang komandan gerilyawan Garuda Putih, memberinya nama ‘Irama’ karena bersimpati terhadap grup sandiwara Irama Baru asal Jakarta yang pernah diundangnya untuk menghibur pasukannya di Tasikmalaya.

Sang ayahlah yang menurunkan bakat musiknya. Burdah Anggawirya yang keturunan ningrat ini fasih memainkan seruling dan menyanyikan lagu-lagu Cianjuran, sebuah kesenian khas Sunda. Selain itu, pamannya yang bernama Arifin Ganda suka mengajarinya lagu-lagu Jepang ketika Rhoma masih kecil.

Ketika bersekolah di SD Kibono, Manggarai, Jakarta, bakat menyanyi Rhoma semakin kelihatan. Rhoma adalah murid yang paling rajin bila disuruh maju ke depan kelas untuk menyanyi. Sampai kemudian penyanyi Bing Slamet terkesan melihatnya menyanyi lagu Barat saat acara pesta di sekolahnya. Bing membawanya tampil dalam sebuah pentas di Gedung SBKA (Serikat Buruh Kereta Api) di Manggarai ketika Rhoma duduk di kelas 4 SD.

Sejak itu Rhoma tak lagi terpisahkan dari musik. Ia lalu belajar bermain gitar hingga mahir. Meski kemudian kegilaannya pada gitar sempat membuat ibunya marah besar.

Walaupun orang tuanya gemar musik, mereka sama sekali tidak menganggap musik adalah bidang yang pantas dijadikan profesi. Tapi itu justru membuatnya makin terasah bermain musik di luar rumah.

Ketika ayahnya meninggal 1958, sang ibu menikah lagi. Sang ayah tiri mengubah suasana yang semula sangat feodal menjadi sedikit cair. Dari ayah tirinyalah ia mendapat dukungan bermain musik. Sejumlah alat musik dibelikan, seperti gitar, bongo dan sebagainya.

Di masa kecil Rhoma ternyata juga bandel. Akibatnya, ia beberapa kali tinggal kelas dan sempat dikirim ke Medan ketika kelas 3 SMP. Semasa di SMA ia juga pindah ke sejumlah SMA lain karena musik dan kebandelannya. Sekali waktu bahkan bersekolah di SMA St Joseph Solo dan membiayai hidup dari mengamen. Sebelumnya ia duduk di SMAN 8, SMA PSKD dan akhirnya lulus dari SMA 17 Agustus Tebet. Kemudian kuliah di Fakultas Sosial dan Politik Universitas 17 Agustus Jakarta. Namun hanya bertahan satu tahun karena lebih tertarik pada musik.

Main Band

Sejak SMA Rhoma mulai bermain musik dalam sebuah kelompok band, bersama teman-temannya ia mendirikan Gayhand. Ia juga menjadi penyanyi Orkes Melayu Chandraleka dan Indraprasta. Rhoma juga melantunkan suaranya bersama Band Tornado dan Varia Irama Melody.

Bersama band-band itu dia membawakan lagu-lagu pop Barat dan menyanyi sambil meniru persis suara Paul Anka melalui lagu Diana atau Put Your Head on My Shoulder, Andy Williams (Butterfly, Moon River), serta Tom Jones (Green Green Grass of Home, Delilah).

Musik rock’n roll yang melanda Indonesia waktu itu membuat Rhoma terpesona dan dalam hati bertekad, ”Elvis bisa menjadi raja dengan gitarnya, saya juga bisa.”

Namun, begitu berada di dalam industri musik, Rhoma ikut terbawa arusnya. Dengan meniru cara menyanyi Ida Royani-Benyamin atau Titiek Shandora dan Muchsin yang sedang populer, Rhoma tidak keberatan diduetkan dengan Inneke Kusumawati oleh Amin Widjaja dari perusahaan rekaman Metropolitan dan Canary Records.

Diiringi Band Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin, Oma-Inneke direkam dalam sejumlah lagu. Seperti Pudjaan Hati, Di Rumah Saja, Bunga dan Kupu Kupu, Mohon Diri, Mabok Kepajang, Djangan Dekat Dekat, Anaknja Lima, Si Oteh, Lontjeng Berbunji, Melati di Musim Kemarau, dan Tjinta Buta.

Menurut Zakaria, pimpinan Orkes Pancaran Muda yang salah satu lagunya, Anaknja Lima, dibawakan duet ini, munculnya Oma-Inneke menggoyahkan popularitas Titiek Shandora dan Muchsin. Kebiasaan Rhoma meniru suara sejumlah penyanyi Barat membuatnya dengan mudah meniru gaya menyanyi Muchsin dan Benyamin.

Melihat keberhasilannya berduet dengan Inneke, Zakaria kemudian menyarankan Oma juga berduet dengan Wiwiek Abidin untuk mengikuti lomba menyanyi di Singapura 1971. Oma-Wiwiek berhasil menjadi juara.

Duet Oma-Inneke juga diiringi Band Galaxy pimpinan Jopie Item dalam rekaman. Dengan pakem musik rock, Jopie mengiringi Oma menyanyi sendirian dengan pekik dan teriakan. Kemudian diteruskan Oma setelah mendirikan Soneta, misalnya, dalam lagu Mari Gembira meniru seruan yang biasa dilakukan penyanyi rock di luar syair lagu.

Sampai kemudian Rhoma memilih mendirikan grup musik Melayu, Soneta. Ia menyuntikkan musik rock dalam album dangdutnya yang pertama berjudul Begadang, yang berisi lagu-lagu Begadang, Sengaja, Sampai Pagi, Tung Kripit, Cinta Pertama, Kampungan, Ya Le Le, Tak Tega, Sedingin Salju. Akibatnya, Rhoma menyulutkan pro dan kontra. Komunitas dangdut banyak yang keberatan, sementara itu kalangan pemusik rock menerima dengan sinis.

Album rekamannya menjadi arus yang memutar roda industri musik semakin kencang, setelah Begadang menjadi sangat populer, menyusul Penasaran (1976), Rupiah (1976), Darah Muda (1977), Musik (1977), 135 Juta (1978), Santai (1979), Hak Azazi (1980), Begadang II (1981), Sahabat (1982), hingga Indonesia (1983), yang semuanya diproduksi Yukawi Corporation. Perusahaan rekaman ini kemudian menjadi Soneta Records, milik Rhoma.

Langkah Rhoma semakin tegap. Film-filmnya Oma Irama Penasaran (1976), Gitar Tua Oma Irama (1977), Darah Muda (1977), Rhoma Irama Berkelana I (1978), Rhoma Irama Berkelana II (1978), Begadang (1978), Raja Dangdut (1978), Cinta Segitiga (1979), Camelia (1979), serta Tabir Biru (1984) diteruskannya dengan penerbitan soundtrack yang laris manis.

Dalam Darah Muda, Rhoma bahkan menggandeng Ucok Harahap, yang bersama grup AKA-nya pernah bertarung dengan Soneta di atas panggung. Pertarungan musik rock dan dangdut juga adalah inti cerita film ini. Film-filmnya Rhoma tidak salah jika dikatakan sebagai film musik rock bernapas Islam yang pertama di dunia. Terutama Perjuangan dan Doa, yang mengisahkan perjalanan Rhoma dan Orkes Melayu Sonetanya ke berbagai daerah sambil berdakwah. Tujuh lagu yang dalam film ini semakin meyakinkan Rhoma bahwa dengan dangdut-rocknya, dia juga bisa menjalankan misi agama.

Meskipun, lagi-lagi, Rhoma diterpa berbagai komentar yang tidak setuju dengan langkahnya. Sebuah pendapat muncul, misi dakwah melalui musik dan film seperti yang telah ditampilkan Rhoma sebagai tindakan yang tidak terpuji. Sebab, masyarakat menilai Rhoma lebih condong pada komersialisasi di samping penampilan Rhoma tidak ubahnya seperti Elvis Presley.

KARIER sang Raja Dangdut memang meluncur ke puncak tangga popularitasnya. Meski sempat menerima berbagai ejekan karena memadukan dangdut dengan rock, pada akhirnya lagu melayu gaya Rhoma Irama itu menjadi arus tersendiri. Ia bahkan mendapat julukan sebagai sang revolusioner dunia dangdut Indonesia. Meskipun ia kemudian memantapkan diri menjadi Voice of Moslem, kehidupan pribadinya ternyata dipenuhi dengan kontroversi seputar wanita-wanita yang berada di sekelilingnya.

Rhoma mencanangkan semboyan
Voice of Moslem pada 13 Oktober 1973. Hal inilah yang kemudian menjadi agen pembaharu musik melayu, yaitu memadukan unsur musik rock dalam musik melayu serta melakukan improvisasi atas syair, lirik, kostum, dan penampilan di atas panggung.

Pergaulan Rhoma bukan hanya terbatas dengan seniman dangdut atau melayu. Ia juga bergaul luas dengan pemusik pop dan rock. Pergaulannya dengan pemusik pop dan rock juga yang mempertemukan dirinya dengan pemimpin band perempuan Beach Girls,

Veronica Agustina Timbuleng.
Pernikahan Rhoma dan Veronica yang dilakukan pada 1972 itu menghasilkan tiga anak, yaitu Debbie Veramasari, Fikri Zulfikar, dan Romy Syahrial.

Arus industri musik juga membawa Rhoma dan Vero bertrio dengan Debbie, mengikuti sukses Chicha dengan lagu "Heli" dan Yoan dengan "Si Kodok" pada 1976.

Namun pernikahannya dengan Vero itu hanya bertahan selama 13 tahun. Mereka akhirnya bercerai pada Mei 1985, setelah setahun sebelumnya Rhoma menikahi

Ricca Rachim
, partnernya dalam beberapa film seperti Melodi Cinta, Badai di Awal Bahagia, Camellia, Cinta Segitiga, Melodi Cinta, Pengabdian, Pengorbanan, dan Satria Bergitar.

Semula Vero berusaha untuk bisa memahami sang suami yang ingin berpoligami. Ketika itu, pernikahannya dengan Ricca Rahim juga Rhoma sembunyikan dari publik, sebagaimana ia menyembunyikan perkawinannya dengan Angel Lelga. Ketika akhirnya Vero menggugat cerai, barulah Rhoma diketahui telah menikahi Ricca Rahim. Saat itu Rhoma berkilah, jangan melihat seseorang dari penampilan luarnya, tetapi lihatlah lebih dalam. Pendek kata, ia memuji Ricca sebagai wanita yang saleh. Dia pun merasa tak salah menjatuhkan pilihan kepadanya.

Hingga kini Ricca masih setia mendampingi Rhoma, meskipun dari rahimnya tak lahir seorang anak pun. Petualangan Rhoma dengan wanita tidak berhenti hanya sampai di situ. Masih ada sederet nama yang disebut-sebut sebagai istrinya. Salah satunya adalah

Ayu Soraya
. Pedangdut senior ini selalu menolak setiap kali disebut sebagai istri ketiga Rhoma.

Setelah Ayu Soraya, pada tahun 2000 muncul gosip santer seputar hubungan sang Raja Dangdut dengan seorang wanita dari Solo. Wanita bernama

Gita
itu dikabarkan telah memberi Rhoma seorang anak laki-laki. Ketika itu, Gita disebut baru berumur 19 tahun. Sebuah tabloid memuat foto Gita bersama putranya. Sang Raja Dangdut seperti biasa menolak mengakui ada wanita lain di hatinya.

Meski Rhoma tidak pernah mengaku berapa dan siapa saja istrinya, anaknya Debby mengungkapkan bahwa ayahnya memiliki lima orang istri. "Yang pertama ya mama saya, terus ada mama Ricca. Ada ketiga, keempat, terus Angel ini istri yang kelima," kata Debby meski tak mau menyebut siapa istri ketiga dan keempat sang ayah.

Bisik-bisik di antara wartawan menyebutkan, Rhoma juga memiliki

seorang istri berdarah Arab [ Wardah Ali-red}
dan telah mempunyai anak yang sudah remaja { Ridho -red]. Bisik-bisik itu juga menyebut, tak lama lagi anak itu akan muncul ke publik. Meski demikian, tak ada kepastian muncul sebagai seorang seniman meneruskan jejak sang ayah sebagai musisi, penyanyi, pemain sinetron atau akan menjadi sosok yang lain. Namun yang jelas, setelah Debby menyanyi sejak bocah, kini Ficky meneruskan jejak sang ayah sebagai musisi. Meskipun aliran musik yang digelutinya berbeda, yakni rock.

Angel Lelga

Kabar heboh terakhir adalah hubungannya dengan wanita bernama Lely Anggraeni yang kemudian merubah nama menjadi

Angel Lelga
(setelah menjadi selebriti). Angel dan Rhoma dipertemukan ketika mereka bermain dalam sinetron produksi Diwangkara Film, Ibnu Sabil.

Ketika itu Rhoma tengah mencari lawan main untuk sinetron tersebut. Ketika itu, kru sudah mengajukan enam calon pemain tetapi selalu ditolak Rhoma. Awak Ibnu Sabil yang tak ingin terlalu lama menunggu jadwal pengambilan gambar, berinisiatif menawarkan Angel Lelga. Lantaran postur tubuh Angel cukup tinggi (170 cm) dianggap terlalu tinggi ketimbang Rhoma, Angel pun ditolak.

Namun, sutradara Ibnu Sabil, Mathias Harun tak patah arang. Dia meminta penulis skenario bernegosiasi dengan Rhoma. Akhirnya Rhoma bersedia mempertimbangkan Angel sebagai lawan main. Rhoma meminta Angel datang ke kediamannya di bilangan Mampang, Jakarta Selatan. Sikap Rhoma pun meluntur. Ia kemudian menerima Angel sebagai lawan main sebagai wanita penghibur yang memeluk Islam. Ternyata, Angel kemudian tidak hanya mampu meluluhkan hati Rhoma sebagai pemain utama, tetapi juga meluluhkan hatinya sebagai seorang lelaki.

Pada saat sinetron Ibnu Sabil tengah diproduksi, Rhoma kepergok tengah berada di apartemen Angel pada tengah malam. Saat itu Pangki Suwito, suami Yatti Octavia bersama sejumlah kru infotainment memergokinya. Rhoma mengklarifikasi dengan menyatakan kedatangannya ke apartemen Angel sekadar mengambil skrip sinetron yang tertinggal. Namun, bisik-bisik yang menyebut Rhoma telah menikahi Angel semakin santer terdengar.

Sampai kemudian, Angel tersangkut perkara kriminal. Ia dituduh mencuri perhiasan senilai puluhan juta rupiah milik seorang wanita bernama Hilda. Sang Raja Dangdut kembali tersangkut kasus ini. Ia turut dimintai keterangan oleh polisi karena dianggap tahu darimana asal perhiasan yang dimiliki Angel ketika itu. Mulailah terkuak dari mulutnya, bahwa Angel telah menjadi wanita halal baginya. Meski ia masih tak juga mau berterus terang telah menikahi Angel.

Untuk kali kedua, akhir Juli lalu, Rhoma kepergok ada di rumah Angel di Cibubur. Rhoma dan Angel terekam kamera tengah cekcok hebat. Angel sempat memukul dada kanan Rhoma yang diperkirakan menjadi penyebab sakitnya sang Raja Dangdut itu hingga harus dirawat di rumah sakit.

Ketika dirawat itulah, Rhoma akhirnya mengaku telah menikah Angel secara siri, tetapi kemudian menceraikannya. Tak ada yang bisa menjawab apakah Angel Lelga diceraikan karena tersangkut perkara kriminal tempo hari atau karena menuntut sang suami memberikan status perkawinan yang jelas.

Suara Merdeka, 5 Agustus 2005

vero

ricca

angel

21 thoughts on “Wiwiek Abidin, Teman Duet Bang Haji Yang Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s