journal / plagiat / post

Lagu dangdut âSMSâ? sudah telanjur digemari publik di mana-mana, dan gunjingan tentang praktik plagiat di baliknya, seperti luput dari perhatian publik. Salah satu nama yakni Yanto Sari kemudian dianggap menjadi pencipta lagu yang sah. Padahal sejak tahun 1971, lagu aslinya telah tenar mengisi soundtrack film India, âAndaazâ? yang dibintangi Rajesh Khanna, Shammi Kapoor dan Hema Malini.
âJudul aslinya adalah âDil Usdoâ karya cipta Rahul Dev Burman,â? ungkap direktur Duta Cahaya Utama Publishing (DCU), Partono Wiraputra yang diberi wewenang tunggal untuk adaptasi, sinkronisasi dan hak cipta eksklusif lagu âDil Usdoâ? dari Saregama Publishing, India.
Sejauh ini, diakui Partono (22/9), pencipta lagu âSMSâ? belum meminta izin kepadanya. âKehadiran lagu âSMSâ di pasar musik Indonesia membawa angin segar, namun sekaligus berdampak buruk bagi penegkan hak cipta,â? singgungnya.
Dinilai Partono, âSMSâ? berhasil mengentak pasar hingga kemudian muncul beragam versi lagu serupa. Di sisi lain, tambahnya, secara etika moral tindakan tanpa izin kepada DCU sama halnya dengan pencurian yang disengaja.

Gerah dan Tegas
DCU yang semula bungkam, lama-kelamaan gerah dan terpaksa mengambil tindakan tegas, karena perdebatan panjang seputar kontroversi siapa penciptanya dianggap semakin ngawur. Kini DCU berharap pada distributor kaset/CD dan VCD Karaoke lagu âSMSâ? agar sadar diri untuk tak lagi mengedarkannya, selama âpara penciptanyaâ? belum memenuhi tanggung jawabnya kepada DCU.
Partono memberi waktu hingga Jumat (29/9) guna memberi kesempatan memohon maaf dan pengakuan bahwa mereka adalah plagiator. Apabila imbauan DCU tak digubris dengan alasan apa pun, maka Partono akan menindaklanjuti dengan pertimbangan hukum peradilan.
Menurut Partono, sudah keterlaluan, mengaku lagu itu ciptaannya sendiri, sementara bukti sejarah tak bisa dihapus begitu saja.
âKami punya buktinya kok, dan sangat menyayangkan klaim orang per orang yang mengatasnamakan lagu tersebut sebagai hasil olah cipta sendiri,â? sungutnya.
Sejauh ini banyak yang mempertanyakan sikap bungkam DCU seputar gonjang-ganjing lagu âSMSâ?. Bahkan, sampai ada pihak yang menyebut kebisuan DCU sebagai sifat pengecut, karena lagu tersebut sudah heboh dan jadi rebutan penyanyi dangdut saat konser di sejumlah kota.
Kini malah DCU mengaku geram, karena pencipta âSMSâ? dan perusahaan yang menerbitkannya seolah mengelak bahwa lagu tersebut adalah hasil adaptasi dari lagu asal India bertajuk âDil Usdoâ?.
(john js)







Copyright © Sinar Harapan 2003

29 thoughts on “

  1. juriglagu said: Jawaban SMS (Yopie Latul) = Rain and Tears (Aphrodite’s Child)

    coba aja denger lagu…
    * Kasih Jangan Kau Pergi (Bunga)
    * Terkenal (Gallery Band)
    * Aku (Pas Band)

    melody-nya agak² canon juga
    lagu dari luar… lebih banyak lagi

  2. nadanusantara said: emang ada jawabannya ya?

    India juga banyak membajak obat paten kok. Indonesia mbajak kok cuma lagu
    Justru sebenarnya lebih bagus India dan Cina, karena dia reverse engineering, dan memproduksi obat, mesin, dll hasil mbajak negara maju dan beranjak jadi produsen. Daripada Indonesia yg konsumen terus. Obat HIV dibajak di India, dan akhirnya pemegang patennya membiarkan krn diserang knp harus jual mahal skali

  3. nadanusantara said: emang ada jawabannya ya?

    jepang juga seperti itu menterjemahkan semua buku asing kedalam bahasa nya lalu dibagikan gratis ke sekolah sekolah…
    entah itu legal atau ilegal gak ngerti..buktinya jepang maju pesat, kapan Indonesia bisa ? bisa meng Gratiskan sekolah dan biaya Rumah sakit.. ? [walao iklannya udah ada ]

  4. nadanusantara said: emang ada jawabannya ya?

    Jadi sebenarnya selective bajakan juga ok. Tapi jangan lagu atau karya seni, tapi kebutuhan rakyat atau yg dorong produksi, seperti reverse engineering obat paten mahal, mesin mobil, mesin traktor, mesin perontok padi, dsb.

  5. agamfat said: India juga banyak membajak obat paten kok. Indonesia mbajak kok cuma laguJustru sebenarnya lebih bagus India dan Cina, karena dia reverse engineering, dan memproduksi obat, mesin, dll hasil mbajak negara maju dan beranjak jadi produsen. Daripada Indonesia yg konsumen terus. Obat HIV dibajak di India, dan akhirnya pemegang patennya membiarkan krn diserang knp harus jual mahal skali

    jaman dulu kala, Jepang kan juga dituduh membajak produk2 AS dan Eropa ya mas? Apa untuk pintar, harus membajak dulu ya?

  6. agamfat said: api kebutuhan rakyat

    Utk pintar jangan mbajak mbak, tp reverse engineering, belajar dari memahami logika kerjanya. Misalnya mau mbajak obat HIV, ya harus dipelajari komposisinya, kmdn dibuat dg mesin yg dibuat sendiri.
    Kl pembajak asli, nyonto komposisi, tp mesinnya msh beli dr luar. Ini sih tdk ada nilai tambah

  7. agamfat said: Ndul, siaran radio PPI Dunia nggak? Td malam aku dengarkan yg siaran PPI Mesir… Garink

    aku jugak dikon siaran PPI Dunia, tapi males hehe la programe ming lagu dan cuap cuap
    terus aku heran iku streaming, jadi semakin banyak yg denger banyak dollar di dapet, lah terus duite mlebu ngendi kuwi?

    mas, aku ning kene uwis setengah tahun iki sejak sumpah pemuda tahun lalu merintis mengumpulkan Indonesian Diasphora, para orang2 Indonesia yg terhalang pulang, anak anak cucu mereka yg sudah tidak bisa dan kenal lagi indonesia tapi masih CINTA INDONESIA dan mau berbuat sesuatu buat Indonesia
    ada bidang sosial (buruh, pekerja dll), agraria, pendidikan, seni budaya dll
    memang ini baru kumpulan orang2 terbuang yg tinggal di Belanda dan Jerman dulu saja, sama beberapa dari perancis, yaitu anaknya DN Aidit dan lain lain
    kita mengumpulkan semuanya yg terserak
    semoga yg kecil ini dulu bisa jalan

  8. agamfat said: Ndul, siaran radio PPI Dunia nggak? Td malam aku dengarkan yg siaran PPI Mesir… Garink

    aku ning kene akeh sing ngrumat😀
    oma2 opa2 sing do ngepek putu aku
    angger do tak critani tentang Indonesia do seneeengg banget
    terus mereka ganti crito kisahe kok sampe terhalang pulang dll
    terus ngenehi aku buku lawas lawas
    keno nggo referensi nulis novelku

  9. agamfat said: Ndul, siaran radio PPI Dunia nggak? Td malam aku dengarkan yg siaran PPI Mesir… Garink

    Yg dl eksil kan skrg gampang buat pulang, Ndul…. Sungguh mulia kerjaanmu nduk.
    Ono sing nawani anak prawane ora?

  10. agamfat said: Ono sing nawani anak prawane ora?

    anak2e umure do sak mbak tiwi jeeeeeeeeeeeeeeee
    teneh aku kaya ongky

    gampang pulang iya, sejak 2006 kemarin
    tapi bukan itu masalahnya
    bawha selama ini hak hidup mereka dirampas
    selama ini terkatung2 dari negeri ke negeri mencari perlindungan dari ketakutan atas perbuatan yg tidak mereka lakukan
    harus ada permintaan maaf dong at least, kalau ndak mau melakukan rehabilitasi

  11. amaltiagunawan said: gampang pulang iya, sejak 2006 kemarintapi bukan itu masalahnyabawha selama ini hak hidup mereka dirampasselama ini terkatung2 dari negeri ke negeri mencari perlindungan dari ketakutan atas perbuatan yg tidak mereka lakukanharus ada permintaan maaf dong at least, kalau ndak mau melakukan rehabilitasi

    suk yen mulih Indonesia, nyaleg’ko wae Gun…

  12. amaltiagunawan said: aku ning kene akeh sing ngrumat :Doma2 opa2 sing do ngepek putu akuangger do tak critani tentang Indonesia do seneeengg bangetterus mereka ganti crito kisahe kok sampe terhalang pulang dllterus ngenehi aku buku lawas lawaskeno nggo referensi nulis novelku

    mesake temen yo😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s