ajie bandy / photos / post

Adjie Bandy (1947-1992) Dengan Musik Memaknai Hidup

Adjie Bandy (1947-1992)
Dengan Musik Memaknai Hidup


Oleh Denny Sakrie/KPMI

Lagu "Damai tapi Gersang" meraih penghargaan internasional pada 1977. Ini penghargaan untuk pertama kalinya bagi Indonesia setelah mengikuti World Popular Songs Festival sejak 1971.

Semasa hidupnya, sosok Adjie Bandy lekat dengan nuansa maupun atmosfer musik yang idealis. Adjie Bandy yang dilahirkan di Blitar, 10 Januari 1947, menguasai dengan baik pelbagai instrumen musik mulai dari gitar, keyboard, hingga biola. Musik klasik adalah dasar musik yang dia geluti.

Bakat musiknya sudah terasah sejak kecil. Pada 1960, di saat Adjie baru menginjak usia 13 tahun, ia telah tampil memukau dengan gesekan biolanya di Yogyakarta. Di Kota Gudeg inilah Adjie menimba ilmu musik klasik di Akademi Musik Yogya yang diselesaikannya pada 1969.

Jengah

Bermodalkan wawasan musik klasik yang telah membuat benaknya disesaki dengan repertoar klasik seperti Johann Sebastian Bach, Ludwig von Beethoven, hingga Wolfgang Amadeus Mozart, ia bertolak ke Jakarta. Untuk meniti karier musik. Bergabunglah Adjie dengan Orkes Simphony Jakarta yang dipimpin Adidharma. Uniknya, hanya sekitar dua tahun Adjie Bandy yang eksploratif dalam bermusik ini sudah merasa jengah. Ia tidak betah pada suasana kerja di Orkes Simphony yang berbasis di RRI Jakarta itu.

Naluri kreativitasnya yang bergejolak membuat Adjie memilih bergabung dengan sebuah grup pop, C’Blues, yang antara lain didukung oleh Idang, Mamad, Yongli, Bams, dan Bambang. Grup ini sempat merilis dua album di perusahaan Remaco. Adjie sempat menulis beberapa lagu, di antaranya yang melejit sebagai hits adalah "Ikhlas" yang juga dinyanyikannya sendiri.

Dalam C’Blues, Adjie mulai menyusupkan permainan biolanya yang khas. Di sini Adjie mulai memperlihatkan teknik menggesek biola yang ekspresif. Bunyi biola seolah merupakan perpanjangan naluri musiknya.

Karena gagasan musiknya kurang tertampung di tubuh C’Blues, Adjie mundur dan menjejakkan kaki di grup Cockpit. Grup ini antara lain didukung Emmand Saleh, Najib Osman, Paultje Endoh, dan Eddy. Cockpit sempat dikontrak di sebuah klab di Singapura.

Periode 1973-1974, Adjie Bandy diajak bergabung dengan grup Gipsy yang bermarkas di Pegangsaan Barat, Menteng, Jakarta Pusat. Saat itu Gipsy yang didukung Keenan Nasution (drum), Gaury Nasution (gitar), Chrisye (bass), Rully Djohan (piano), dan Lulu Soemaryo (saksofon, flute), tengah bersiap-siap untuk bertolak ke New York, Amerika. Keberangkaran ke New York atas tawaran dari pejabat Pertamina, Ibnu Soetowo, untuk mengisi hiburan di Restoran Ramayana.

Pengaruh musik klasik
Pada 1976, Adjie Bandy mulai kasak-kusuk lagi untuk membentuk band baru. Dia lalu mengajak beberapa pemusik yang baru saja keluar dari grupnya masing-masing, seperti Tono Suparto (mantan pemain bass Big Man Robinson), Pungky Moektio (keyboard) dari Hookerman, Aris (gitar) dari The Steel, dan Jessy (drum). Selanjutnya, Contrapunk, grup barunya itu, yang bermakna saling mengisi dan melengkapi mulai menuju ke bilik rekaman. Pungky mundur dan posisinya digantikan oleh Yockie Soerjoprajogo dari God Bless sebagai pemain keyboard tamu.

Adjie Bandy nyaris menulis semua lagu untuk debut album Contrapunk, antara lain "Puteri Mohon Diri" dan "Irama Waktu" yang memiliki pengaruh kuat musik klasik. Bahkan dalam "Puteri Mohon Diri", yang menjadi juara kedua dalam "Festival Lagu Pop Indonesia 1976", menawarkan sesuatu yang unik: Menyusupkan atmosfer karawitan Sunda. Di album Contrapunk ini, Adjie pun mengajak dua penyanyi wanita dengan timbre vokal istimewa, yaitu Titiek Puspa dan Grace Simon.

Di album yang dirilis Pramaqua ini Adjie menampilkan warna musik yang eklektik, yaitu membaurkan berbagai warna musik. Saat itu Adjie Bandy bahkan menyebut gaya musik Contrapunk sebagai "Bach-rock". Ini adalah gaya musik yang mencoba membaurkan anasir klasik dalam tatanan rock yang agresif. Tapi, Adjie toh masih arif dengan mengetengahkan juga lagu-lagu yang bersentuhan pop di album Contrapunk itu, seperti "Hampa", "Kesepian", "Perjumpaan Pertama Kali", atau "Haru di Tahun Baru".

Sayangnya, Contrapunk –dengan Adjie yang lebih banyak berkonestrasi sebagai pencipta lagu– hanya merilis satu album. Kemudian, pupus begitu saja.

Unjuk prestasi

Di tahun 1976, lagu ciptaannya, "Puteri Mohon Diri", berhasil masuk final "Festival Lagu Pop Indonesia 1976". Lagu ini kemudian meraih juara kedua, kalah dari lagu "Renjana" karya Guruh Sukarno Putra, yang meraih juara pertama. Lagu "Renjana"-lah yang berhak dikirim ke World Popular Song Festival 1976 di Budokan Hall, Tokyo, Jepang, mewakili Indonesia.

Setahun berselang Adjie kembali memasukkan karyanya pada Festival Lagu Pop Indonesia 1977. Ia mengirim lagu "Damai tapi Gersang". Lagu ini pun meraih juara kedua, di bawah "Bila Cengkeh Berbunga" karya Minggus Tahitu yangmeraih juara pertama. Namun, Adjie beruntung, karena panitia penyelenggara World Popular Songs Festival di Tokyo memilih lagu "Damai tapi Gersang" sebagai wakil dari Indonesia, untuk berlaga di Nippon Budokan Hall, Tokyo, pada 11-13 November 1977.

Naluri juri internasional di Jepang memang berbuah bukti. Lagu yang bercerita mengenai makna kehidupan ini berhasil menyabet Outstanding Song Award. Sebuah penghargaan atas karya lagu.

Ini untuk pertama kalinya Indonesia berhasil meraih penghargaan di festival itu, sejak aktif mengirimkan duta musik pada 1971. Adjie Bandy yang berduet dengan Hetty Koes Endang memang berhasil memperlihatkan penampilan apik saat membawakan "Damai tapi Gersang" dengan pengiring musik Yamaha Pops Orchestra, Jepang. Adjie, pada bagian awal lagu, sempat pula memainkan grand piano.

"Kampus Biru"

Seusai meraih penghargaan untuk "Damai tapi Gersang", Adjie Bandy mulai merintis karier solo. Ia merilis dua album solo, di antaranya berduet dengan sang istri, Yetty, pada perusahaan rekaman Irama Tara.

Pada album solo perdananya, Adjie Bandy kembali membawakan "Damai tapi Gersang" bersama Yetty serta dua karya Adjie lainnya yang pernah menjadi finalis Festival Lagu Pop Indonesia, yaitu "Kecewa" dan "Kehidupan". Di album ini pun, Adjie menyanyikan kembali lagu "Kampus Biru", yang dulu ia tulis untuk theme song film Cintaku di Kampus Biru (1976). Film ini dibintangi Roy Marten. Di album solonya yang kedua, Adjie kembali menyanyikan lagu "Puteri Mohon Diri".

Memasuki dasawarsa 80-an, secara perlahan nama Adjie Bandy seolah kian menyurut. Hampir tak terdengar sama sekali. Memasuki era 90-an sosok Adjie Bandy tiba-tiba menggaung lagi, tapi dalam suasana yang sarat keprihatinan. Adjie yang telah bercerai dengan istrinya, terbaring lemah di sebuah rumah yang sangat sederhana. Pemandangan yang terlihat tak ubahnya seperti larik lagunya yang ia cipta di masa mudanya itu: Damai tapi gersang.

Pada 27 Januari 1992, pukul 07.00 WIB, saat mentari mulai membiaskan sinar, Adjie Bandy mengembuskan napasnya yang terakhir. Ia meninggal di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, dalam usia 46 tahun. Lagu "Damai tapi Gersang" pun seolah menjadi nukilan ramalan atas dirinya sendiri.

Tetapi kenyataan hidupmu pengorbanan Tinggal penghabisan lamunan, berlalu

Semua kehidupan dia berkhayal tinggal yang ada Rindu sayangi sesama, hidupmu sebentar saja

DISKOGRAFI

SOLO ALBUM
1. Damai Tapi Gersang – Adjie Bandi (PT Irama Tara 1978)
2. Pop Indonesia Vol. 2 – Adjie Bandi (PT Irama Tara 1979)
ALBUM FESTIVAL
1. Festival Lagu Populer Indonesia 1976 – (Pramaqua 1976)
2. Festival Lagu Popyler Indonesia 1977 – (Pramaqua 1977)
3. World Popular Song Festival In Tokyo 1977 (WPSF Japan 1977)
BERSAMA C’BLUES
1. C’Blues – C’Blues (Remaco RLL -106 – 1971)
2. C’Blues – C’Blues (Remaco RLL -1
39 – 1972)
BERSAMA GURUH GIPSY
1. Guruh Gipsy – Guruh Gipsy (Independen 1976)
BERSAMA CONTRAPUNK
1. Putri Mohon Diri – Contrapunk (Pramaqua)

Republika Senin, 18 Juni 2007. Artikel dari mellowtone, gambar minjem dari blognya mas Gatot

7 thoughts on “Adjie Bandy (1947-1992) Dengan Musik Memaknai Hidup

  1. pemerentah saat itu lebih mengutamakan olahragawan, musisi yg menang lomba2 di anak tirikan.
    semisal thn 92 saat Susi – Alan menang Emas di badminton , wuiiiiiih disambut layaknya raja & ratu saat pulang bermacam piagam dan uang mengalir deras, ditahun yg sama Ruth Sahanaya menang festival bawain Kau lah segalanya versi barat, disambut biasa aja…yah itu Emosional ajah..wajar kok
    heheh tanya ajah sama macan festival seberat Harvey atau Vina Panduwinata.untungnya merek tetap eksis…

  2. Makanya sekarang dah gak ada lagi festival2an wong gak dihargai. mendingan gawe album dewe2 kayaknya hehehehehe. Dadi kangen karo Festival Bintang Radio dan Televisi jaman biyen hiks ….

  3. jamesdoel said: pemerentah saat itu lebih mengutamakan olahragawan, musisi yg menang lomba2 di anak tirikan.semisal thn 92 saat Susi – Alan menang Emas di badminton , wuiiiiiih disambut layaknya raja & ratu saat pulang bermacam piagam dan uang mengalir deras, ditahun yg sama Ruth Sahanaya menang festival bawain Kau lah segalanya versi barat, disambut biasa aja…yah itu Emosional ajah..wajar kokheheh tanya ajah sama macan festival seberat Harvey atau Vina Panduwinata.untungnya merek tetap eksis…

    jadi seniman kudu pinter bisnis kaya Titiek Puspa, kalo enggak, tuanya abis dah…

  4. jamesdoel said: pemerentah saat itu lebih mengutamakan olahragawan, musisi yg menang lomba2 di anak tirikan.semisal thn 92 saat Susi – Alan menang Emas di badminton , wuiiiiiih disambut layaknya raja & ratu saat pulang bermacam piagam dan uang mengalir deras, ditahun yg sama Ruth Sahanaya menang festival bawain Kau lah segalanya versi barat, disambut biasa aja…yah itu Emosional ajah..wajar kokheheh tanya ajah sama macan festival seberat Harvey atau Vina Panduwinata.untungnya merek tetap eksis…

    gawe single thok, habis itu jualan via RBT..satu lagu bisa bikin kaya hehehhehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s