bubi chen / ireng maulana / jack lesmana / jazz / margie segers / photos / post / yopie item

Margie Segers – The Lady Of Jazz

MARGIE SEGERS – The Lady Of Jazz

Margie Segers sebetulnya lebih menyukai soul dan blues dibandingkan dengan jazz. Dilahirkan di Cimahi dengan nama Meity Segers pada 16 Agustus 1950. Nama Margie diperolehnya dari Mang Udel pada waktu melihatnya pentas di Moulin Rouge, Jalan Blora di awal 70-an. Sedangkan yang menggiringnya menjadi seorang penyanyi jazz adalah almarhum Jack Lesmana. Awal mulanya adalah di tahun 1969, ketika Margie tampil di salah satu acara di TVRI. Nien Lesmana yang kebetulan menontonnya dan melihat potensi Margie, langsung memberitahukannya kepada suaminya, Jack Lesmana. Perlu diketahui bahwa pada waktu itu Nien Lesmana juga merupakan seorang penyanyi. Setelah dicari kemana-mana, ternyata Margie merupakan tetangga mereka di kawasan Tebet. Dari situlah, Jack Lesmana mengajaknya manggung dimana-mana, selain sering pula diajak tampil di TVRI.

Pada tahun 1974, album pertama Margie Segers dirilis, yaitu Semua Bisa Bilang. Di dalamnya melibatkan Jopie Item, Perry Pattiselanno, Wimpy Tanasale, Alex Faraknimella dan Jack Lesmana sendiri yang memainkan trombone. Album berikutnya dirilis di tahun 1975, yaitu Terpikat, yang diiringi oleh Bubi Chen dan kawan-kawan,

"Ikke dididik keras sama Jack, wah benar-benar dia beking kita jadi kenal, tahu dan ngerti tentang jazz. Eerste, ikke seperti ragu maar Jack terus kasih semangat." Begitu ucapnya suatu waktu dalam bahasa campur aduk dengan Belanda dan Manado. Dia ingat,"Jack selalu bilang, setiap naik pentas siaplah mengeluarkan semua emosi di hati. Dengan tampil sepenuh hati, walau dari sepuluh penonton saja di depan kita hanya satu yang memperhatikan, hati-hati dia bisa menjatuhkan sekaligus mengangkat kita. Jangan sembrono!"

Nama lain yang dianggap paling berjasa adalah Idang Rasjidi. "Setelah Jack, ikke dapat Idang, yang bisa bikin ikke nanyi seenaknya dan bisa jalan dengan baik, karena kita sudah saling mengetahui, saling nyambung feelnya. Ikke juga bisa kembali sesekali nyanyi blues dan soul lagi, Idang juga bisa mengiringi dengan baik. He is more than a brother." Begitu komentar dari Margie terhadap Idang.

Pada tahun 1951-1969, Margie sempat menetap di Belanda. Itulah sebabnya logat ucapan Margie selalu ada bahasa Belandanya. Logat ini sempat terbawa juga pada saat menyanyikan lagu-lagu di albumnya. Coba saja dengarkan lagu ‘Dunia Music’ gubahan Idang Rasjidi yang diberi lirik "nakal" oleh Bintang Indrianto. Lagu tersebut terdapat di dalam album Life! yang diedarkan tahun 2004 lalu oleh Victorious Music.

Waktu album Life! diedarkan memang kita seperti melihat seorang Margie Segers "lahir kembali". Album tersebut digarap oleh Bintang Indrianto sebagai produser dan dibantu oleh Idang Rasjidi. Album ini menjadi album comeback-nya Margie setelah terakhir merilis album Pergi untuk Kembali di tahun 1993 atau 11 tahun sebelum album Life! dirilis. Di tahun yang sama, Margie juga membuat album Jazzy Christmas, dengan produser dan label yang sama. Bahkan saking bersemangatnya, Margie juga turut menjualnya secara langsung. Ia selalu menyediakan beberapa CD di dalam tasnya, setiap kali ia berpentas dimanapun. Setelah tampil, terutama di kafe-kafe, ia akan menghampiri para penonton dan pasti menawarkan CDnya untuk dibeli. Cara ini lumayan efektif, katanya. "Nggak apa-apa, ikke berani, halal kan. Kalau bukan ikke sendiri yang bersemangat lantas siapa?"

Idang dan Bintang, yang menangani dan memberi kesegaran baru untuk Margie, melihat Margie sebagai aset nasional yang berharga. "Nggak banyak yang seperti dia. Senior tapi tetap terus semangat, nggak banyak mengeluh. Aktif terus berjuang. Perjalanan karirnya sangat blues," ucap Idang. "Dia nggak mau gampang menyerah. Lagu Dunia Musik itu, dia gampang banget menguasainya, hanya dalam waktu sejam gitu, ia langsung bisa menyanyikannya sesuai keinginan saya dan mas Idang. Dia hanya kepentok soal pengucapannya yang aduh Belanda banget. Dia berjuang untuk itu, walau cukup makan waktu. Tapi unik kan, kita tuh enjoy aja ngejalaninnya. Akhirnya, ya udah, kita pikir-pikir juga ah nggak terlalu jadi problemlah." Yang mengejutkan, ketika lagu ini diputar di radio-radio, ada banyak pendengar yang tidak mengira bahwa lagu unik itu dinyanyikan seorang penyanyi senior seperti Margie. Lagu tersebut memang cepat dikenal karena menyebutkan banyak nama-nama penyanyi, grup band dalam dan luar negeri. Jadi gampang akrab buat penggemar musik. Suatu saat bahkan ada radio yang sengaja membuat kuis, sebutkan ada berapa nama penyanyi dan grup band dalam syair lagu tersebut, dan tak dinyana yang menjawabnya cukup banyak. Album tersebut memang terbilang lumayan berhasil untuk menampilkan lagi namanya ke pentas musik, sekaligus sukses mengemasnya menjadi "baru". Dari album tersebut, Bintang dan Idang juga memberikan lagu baru lain, dalam nuansa sweet jazzy yang syahdu, ‘Jendela Hati’. Tapi ada satu lagu yang begitu menyentuh, ‘Ibu Pertiwi’. Lagu itu begitu kuat karena tarikan vokal khas Margie, apalagi ditimpali sebagai latar, lengkingan suling bambu dari pemain suling, Sa’at. Margaretta Gerttruda Maria Segers, begitu nama lengkapnya, pernah menjadi juara Harapan I Festival Lagu Populer tingkat Nasional di tahun 1973. Waktu itu penampilannya terbilang salah satu yang terbaik, namun lantunan suranya yang terlalu jazzy kabarnya agak mengurangi nilainya, seperti apa yang dituliskan di salah satu edisi majalah musik dan film, Aktuil.

Di tahun 1979, ia menggaet juara pertama dalam Festival Penyanyi Jazz Nasional. Penghargaan tersebut jelas menjadi bukti akan kepiawaian olah vokalnya. Buat Idang,"Banyak penyanyi baru muncul, mereka juga bagus-bagus untuk jazz, tapi Margie tetap salah satu yang terbaik.Nggak mudah mencari yang punya soul begitu kuat, bisa menyanyi sama baik jazz dan blues. Dia tidak sekedar menyanyi sih." Soal para generasi muda penyanyi jazz, Margie pernah berucap kepada saya, "Memang banyak yang bagus-bagus, ikke lihat dan dengar. Maar banyak yang terlalu mudah disebut atau menyebut dirinya penyanyi jazz. Mereka menyanyi tidak dari dalam hati, nggak ada soulnya yang terasa. Itu harus dilatih setiap hari, butuh waktu untuk melatih kepekaan, bagaimana menyanyi dengan sepenuh hati." Karena tehnik vokal sudah baik, belum tentu langsung berhasil menjadi penyanyi jazz, kata Margie. "Ikke saja sampai hari ini masih sering merasa belum lengkap sebagai penyanyi, apalagi penyanyi jazz. Ikke kepengen lengkap seperti Aretha Franklin, dia bukan penyanyi favorit ikke tapi penyanyi kesayangan!" Sayangnya, kerjasama lumayan harmonis antara dirinya dengan Idang dan Bintang, dengan di belakangnya juga ada executive producer, musisi yang tokoh ekonomi dan bisnis, Soegeng Sarjadi, khususnya untuk rekaman, tidak lagi diteruskan saat ini. Namun bukan berarti ia tidak lagi bisa rekaman.

Selepas dari Victorious Music, Margie merilis sebuah album berjudul The Lady of Jazz dengan Ireng Maulana, Didiek SSS, Mus Mujiono dan kawan-kawan. Sebelumnya Margie juga sempat turut mendukung album Sweet Jazzy dengan Ireng Maulana & Friends. Kedua album diedarkan Platinum Records.

âÄ?Thank God, Dia tetap memberikan rejeki,âÄ? begitu ucapnya. "Dimanapun ikke masih bisa berkarir. Dari Jack, lalu Ireng, lalu ketemu Bintang dan pak Soegeng sekarang ke Ireng lagi. Dengan Ireng, ikke seperti reuni, Ireng teman lama jadi kita so sama-sama tahu." Yang menonjol dari Margie Segers adalah begitu mudahnya bekerja-sama dengan berbagai musisi yang berbeda.

DISKOGRAFI:

– Semua Bisa Bilang (Hidayat, 1974), bersama Ireng Maulana
– Terpikat (Hidayat, 1975), bersama Bubi Chen
– Jazz Meeting Vol.1 – Recorded Live In Bandung (Hidayat)
– Pop Jazz – Margie Segers/Broery P. (Remaco, 1976), dengan Jack Lesmana
– Terlambat (Purnama Record)
– Tabahkan Hatimu (Purnama Record)
– Mergie Segers Volume 1 (Grana
da)
– Mergie Segers Volume 2 – Enggo Lari (Granada)
– Margie Segers 1 (Granada)
– Margie Segers 2 – Kesepian (Granada)
– Margie Segers I – Citra… Engkaulah Bayangan (Granada)
– Margie Segers II – Rindu Asmara (Granada)
– Nada & Lagu, bersama Yopie Item
– Selamat Datang Bahagia (Atlantic Record), bersama Yopie Item
– Margie Segers – Jazz (Granada), bersama Ireng Maulana
– Margie Segers – Jazz Volume 2 (Granada), bersama Ireng Maulana
– Dialog Dalam Nada (Granada)
– Jazz Samba (Musica Studio), bersama Ireng Maulana
– Pergi Untuk Kembali (1993)
– Life! (Victorious, 2004), bersama Bintang Indrianto, Idang Rasjidi
– Jazzy Christmas (Victoriuos, 2004), bersama Idang Rasjidi dkk
– Sweet Jazzy (Platinum, 2005), bersama Ireng Maulana
– The Lady Of Jazz (Platinum, 2005), bersama Ireng Maulana

dari blognya mas Thomas















10 thoughts on “Margie Segers – The Lady Of Jazz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s