arsip / journal / post

[ arsip ] Kompromo Jazz Dan Pop

THEODORE KS




Rekaman jazz mengawali industri musik Indonesia. Pelakunya adalah Sujoso Karsono yang pada tahun 1951 mendirikan The Indonesian Music Company Limited, yang memproduksi rekaman Irama Special Quartet sebagai piringan hitam pertama jazz Indonesia dengan label Irama.




Kuartet yang terdiri dari Dick Abel (gitar, saksofon), Max van Dalm (drum), Van de Capelle (bas), dan Nick Mamahit (piano) itu membawakan lagu-lagu Barat maupun Indonesia. Dick Abel kemudian memimpin Orkes Studio BBC dan The London Symphony Orchestra. Meskipun tidak ngebut seperti pop, rock, atau dangdut yang omzet kasetnya bisa mencapai jutaan keping, jazz senantiasa hadir sejak masa piringan hitam (1951- 1966), masa kaset tahun 1967, dan CD menjelang akhir tahun 1980-an.




Pada masa piringan hitam, sejumlah rekaman jazz meramaikan produksi Mas Yos, panggilan akrab Sujoso Karsono, di samping perusahaan rekaman lain: Lokananta, Diminta, Remaco, dan Metropolitan. Walaupun menyatakan perusahaannya, The Indonesian Music Company Limited, tidak sanggup lagi berproduksi awal tahun 1967, Mas Yos merogoh koceknya sendiri dan mengirim The Indonesian All Stars ke Berlin Jazz Festival.




Lepas mengikuti salah satu festival jazz terbesar di dunia itu, The Indonesian All Stars yang antara lain terdiri dari Kibout Maulana (gitar), Benny Likumahuwa (trombon), Maryono (saksofon), Benny Mustafa (drum), dan Bubi Chen (piano), bersama peniup klarinet jazz kondang Amerika saat itu, Tony Scott, merekam sejumlah lagu di Black Forest Studio Georg Brunner Shwer, Jerman Barat. Dalam piringan hitam berjudul Djanger Bali dan berlabel MPS Records, tetapi hanya diedarkan di Eropa.




Mas Yos yang luas wawasan musiknya melihat potensi Bubi Chen dan memproduksi Bubi Chen and His Fabulous 5, sebuah rekaman jazz yang sangat dihargai masyarakat jazz Indonesia sampai sekarang. Namun, omzet piringan hitam jazz waktu itu sangat rendah, barangkali tidak kompromi dengan musik pop yang lebih disukai masyarakat. Jadi, tidak heran penyanyi jazz seperti Seany de Fretes atau Helen Puspita tidak sempat merekam suaranya. Walaupun demikian, vokal Bing Slamet, Nien Lesmana, Sam Saimun, Ratna, atau Corrywati bisa dinikmati sampai sekarang lewat piringan hitam berlabel Irama.




Era kaset




Era kaset mengganti piringan hitam menjelang akhir tahun 1960-an, tetapi rekaman dengan embel-embel jazz baru menggeliat menjelang akhir tahun 1970- an. Bill Firmansyah dengan labelnya Hidayat merekam lebih dari 20 kaset jazz yang berkompromi dengan musik pop, tetapi produksinya tetap saja merugi. Untung bisa ditutupi Api Asmara, lagu ciptaan Yahya yang dinyanyikan Rien Djamain dengan iringan Jack Lesmana Combo berhasil terjual lebih dari 100.000 kaset.




Menyusul Tersiksa Lagi lewat suara Utha Likumahuwa produksi Granada yang juga laris manis. Enggo Lari yang dinyanyikan Jopie Latul dalam kaset Ambon Jazz Rock memecahkan rekor tahun 1983, terjual hingga 200.000 kaset. Entah mengapa, Jopie Latul kemudian justru sukses sebagai penyanyi dangdut. Sebelumnya Kris Kayhatu dengan grupnya, Funk Section, juga sempat mengorbit dengan Misteri Cinta. Tahun 1986, Bhaskara yang menjadi grup jazz kita yang pertama muncul di North Sea Jazz Festival, melepas kasetnya Bhaskara 86 yang laku puluhan ribu kaset. Angka-angka itu sulit dicapai rekaman berbau jazz penyanyi Indonesia sekarang.




Memang nominasi kategori jazz Anugerah Musik Indoinesia (AMI) 2007 yang akan dipergelarkan Februari 2008 terdapat sejumlah album berbau jazz: 1st Edition (Trisum), Can’t Stop The Beat (Rafi), Free Your Mind (Maliq & D’Essentials), Indonesian Jazzy Vocal Too (Beben Jazz & Gaby Suano), Peaceful Journey (Aksan Sjuman), Play Standard (Pele Pattiselano), Sax Chemistry (G & B), Soul Emotion Bass (Harry Toledo & Zahra) dan Two Words (Krakatau), tetapi omzetnya jauh dibandingkan dengan masa tahun 1980-an.




Sayang Hidayat dan Granada sudah tidak berproduksi lagi, sementara Sangaji Records agak mengendur sehingga tidak satu pun produksinya masuk dalam nominasi AMI. Yang berperan kali ini untuk penerima penghargaan justru berasal dari perusahaan rekaman yang tidak khusus merekam jazz: Aquarius Musikindo, Prosound, Virgo Ramayana Records, RPM dan Musica Studio’s. Untungnya masih ada yang akan merekam suara Rien Djamain dengan lagu-lagu baru Yahya yang musiknya diaransemen Jopie Item.




“Rasanya tampil di atas panggung saja belum cukup, maka saya masuk studio rekaman. Kalau di pentas saya memainkan jazz tanpa kompromi, dalam kaset saya meramu musik jazz yang easy listening,â€? kata Beben SM dari Komunitas Jazz Kemayoran, yang tampil sebagai pembicara dalam Dji Sam Soe Super Premium Jazz Dialogue di Black Cat Café, awal November lalu. Acara itu dipandu Agus Setiawan Basuni dari wartajazz.com, selain Beben SM juga berbicara Benny dari Radio C&J 99,9 FM, dan Niman dari Klab Jazz Bandung.




Lagu Beben SM berjudul Satu Yang Pasti dalam kaset Indonesian Jazzy Vocal Too masuk nominasi kategori jazz vokal AMI, bersaing dengan Baby You’re My Love (Harry Toledo & Zahra), Bengawan Solo (Rafi), dan Bunga Tembaga (Krakatau). Menurut sejumlah pemusik jazz, memang ironis kondisi musik jazz kita saat ini, sementara dua festival bertaraf internasional berlangsung dengan meriah, kesempatan berkreasi dalam bentuk rekaman sangat terbatas. Namun, hadirnya Maliq & D’Essentials atau Beben SM serta komunitas jazznya memberi harapan.




Di tengah ajang pesta musik jazz, seperti Java Jazz serta Dji Sam Soe Super Premium Jak Jazz, 23, 24, 25 November 2007, mestinya jangan sampai tidak ada satu pun kios yang menjajakan kaset jazz Indonesia. Di North Sea Jazz Festival, lantai bawah kompleks arena pertunjukan disediakan tempat bagi penjual kaset atau CD jazz. Sekitar 10 kios bisa ditemukan, yang berlomba dalam hal kelengkapan koleksi kaset, CD, buletin serta buku tentang jazz yang menjadi sasaran pengunjung festival itu setelah menyaksikan penampilan seorang penyanyi atau grup jazz.




Ireng Maulana yang menyelenggarakan Jak Jazz kesembilan tahun ini semakin panjang meninggalkan jejak jazz di Indonesia, mestinya juga melengkapi jejaknya dalam bentuk rekaman, seperti ekspresinya bersama Ermy Kullit atau penyanyi lainnya dalam kaset dan CD produksi Granada atau Sangaji Records selama ini.




“Saya selalu siap masuk rekaman walaupun harus kompromi dengan musik pop,� ujar Ireng yang juga adalah Sekjen Yayasan Karya Cipta indonesia. Siapa tahu akan terbit rekaman grup jazz Indonesia peserta Jak Jazz, sebagaimana beredarnya CD Sounds of Change dari beberapa grup musik yang tampil di A Mild Live Soundrenaline 2007.




Theodore KS Penulis Masalah Industri Musik




Sumber : Kompas, 23 November 2007


One thought on “[ arsip ] Kompromo Jazz Dan Pop

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s