christ kayhatu / jazz / photos / post

LCLR 1978: Yang Menang Tidak Disayang

KEMENANGAN tidak otomatis menjamin lagu bisa disayang oleh
pendengar. Lagu Lilin-lilin Kecil ciptaan James F. Sundah, yang
bukan nomor satu dalam lomba cipta lagu remaja Prambors tahun
1977, ternyata berhasil mencapai predikat lagu favorit atawa
tersayang.

Prambors, yang tahun ini telah memilih pula 10 buah lagu paling
cantik, kembali menawarkan kepada publik untuk memilih mana di
antaranya yang disayangi. Untuk itu dikeluarkan sebuah kaset
berisi lagu-lagu cantik tersebut yang telah diaransir oleh
Jockie S.

Menurut telinga juri, lagu yang paling jempol adalah: Khayal
(Christ & Tommy. Ws). Kemudian Yang Esa Dan Kuasa (Baskoro). Dan
akhirnya Saat Harapan Tiba (Dedy Gusrachmadi). Tapi di dalam
kaset, urutan penampilannya tidak berdasar rangking juri. Di
muka A urutannya adalah: Kelana, Sesaat, Khayal, Kidung dan Awan
Putih. Sementara muka sebaliknya dimulai dengan lagu Dalam Cita
dan Cinta — kemudian diikuti Saat Harapan Tiba, Apatis, Resah
dan Yang Esa Dan Kuasa.

Urutan tersebut ada hubungannya dengan segi bisnis kaset.
Produser kaset mungkin menduga keras, lagu-lagu pertama dalam
urutan itulah yang paling menarik sebagai barang dagangan.
Sementara Jockie. S yang mengaransir tampaknya memang sudah
jatuh cinta pada lagu Kelana yang digarap begitu rupa, sehingga
mirip lagu-lagu Eros Djarot dalam kaset Badai Pasti Berlalu yang
pernah merebut pasaran itu.

Kelelap

Lagu Khayal belum tampil secara maximal. Dalam kompetisi dulu
penciptanya sempat mengeluh, kenapa lagu jadi berubah di tangan
orang lain. Sebaliknya lagu Kidung (Chris M. Manusama), yang
oleh tangan juri hanya diberi nomor 9, secara tak terduga
setelah diaransir dan ditopang oleh suara Bram, Diana dan Chris
jadi mantap — dengan karakter yang meper lagu Lilin-lilin
Kecil. Sementara Awan Putih (Dedy Gusrachmadi sangat tertolong
karena suara Keenan Nasution, padahal dalam ranking ia hanya
nomor 8.

Khayal, yang dinyanyikan oleh Purnama Sultan, Yang Esa Dan Kuasa
oleh Dhenok Wahyudi, serta Saat Harapan Tiba oleh Keenan
Nasution, ketiga-tiganya tampil dengan kurang meyakinkan. Sayang
sekali pilihan juri tersebut kelelap di antara lagu-lagu yang
lain. Besar kemungkinan ketiga lagu ini tidak akan mendapat
tempat di hati pendengar setinggi kursi yang diberikan juri.
Peluang yang lebih besar ada pada lagu-lagu seperti elana,
Sesaat, Kidung, Dalam Cinta dan Awan Putih. Tapi hasil akhir
memang baru pasti nanti, pada awal Nopember.

Yang perlu kita catat sekarang: aransemen merupakan sektor yang
mendesak untuk diperhatikan karena mempengaruhi pasaran lagu.
Disamping itu memilih temperamen suara yang klop dengan lagu
merupakan satu kerja yang agaknya terpaksa mulai diakui oleh
kaum pedagang. Di samping itu memang sayang para pencipta
sendiri terlalu sulit untuk mempertahankan warna ciptaannya
sekarang –karena kiblatnya masih tetap produser kaset.

Chris Kayhatu (21 tahun) pencipta Khayal, tatkala ditanya
apakah kekecewaannya dalam final sekarang terobati oleh
aransemen yang dikerjakan dalam kaset Prambors ini, menjawab:
“Yah, tak begitu parah dibanding hasil rekaman playback dulu.
Khayal cukup, tapi Resah sedikit kurang mengena. Musiknya
kurang sempurna, perbandingan antara musik dan vokal tidak
tepat, jadi vokal kurang menonjol.� Ia setuju bahwa aransemen
dapat lebih mengangkat lagu bila memang dikerjakan oleh orang
yang jempol. Sementara tampilnya Purnama Sultan yang menyanyikan
kedua lagunya, ia akui atas usul dia sendiri.

Chris sendiri menyesalkan dirinya: kenapa tidak muncul waktu
kaset itu dikerjakan. “Yang salah bukan arangernya. Ini hanya
soal teknis,� katanya. Ia sendiri beberapa waktu ini sibuk
bekerja untuk perusahaan kaset “Tala & Co� untuk sebuah kaset di
mana ada juga lagu Khayal. Di samping akan dapat diamati apakah
Khayal lebih baik atau lebih buruk di tangan penciptanya
sendiri, kaset ini mungkin akan menimbulkan soal-soal hukum.

Pihak produser rupanya memang sudah bertekad mengkasetkan lagu
tersebut sebelum menang dalam kompetisi Prambors. Sementara
pihak Prambors sendiri sempat berpesan pada Christ, agar tidak
mengkasetkan lagu itu dengan pihak lain sebelum lewat masa
minimum 3 bulan beredarnya kaset Prambors.

Persoalan yang kelihatan sepele, selama ini sudah beberapa kali
masuk pintu pengadilan. Sebab nilainya sudah dihiasi angka nol
yang panjang. Muka Christ lalu tampak bingung menghadapi soal
tersebut. “Kalau ada apa-apa memang saya harus tanggung,�
ujarnya. Ia mengaku bahwa ia hidup dari musik, tidak seperti
kebanyakan pengikut lomba lagu Prambors yang masih amatiran.
Tapi ia tak berani mengatakan bahwa Khayal yang direkamnya
bermaksud menyaingi Khayal kaset Prambors. “Ini hanya
alternatif. Kalau masyarakat kurang bisa menikmati Khayal
rekaman Prambors, bisa menikmati dalam rekaman saya ini,�
katanya.


Tempo Edisi. 25/IIIIIIII/19 – 25 Agustus 1978

dari : http://gie0505.wordpress.com


14 thoughts on “LCLR 1978: Yang Menang Tidak Disayang

  1. ketoke, dulu ki angger wis muni festifal apa lomba ki sing didelok materi lagune sik ….. kepenak dirungokne apa ora nomer berikutnya ……. padahal yen wong awam sing butuh dirungokne penak po ra ki ya lagune :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s