photos / post / saur sepuh

Saur Sepuh, Dulu Kedatangannya Selalu Dinanti

Sandiwara radio ini sangat populer di Indonesia pada tahun 1980. Ketika itu radio merupakan alternatif hiburan di saat TVRI masih hanya siaran di malam hari, kecuali hari Minggu, sementara televisi swasta belum hadir di Bumi Pertiwi.

Sandiwara Radio Saur Sepuh adalah buah karya Niki Kosasih. Sandiwara ini disutradarai oleh Hendra Mahendra, sedangkan pengisi suara antara lain Ferry Fadli, Ellie Ermawati, Ivone Rose, Maria Oentoe dari Sanggar Prativie dan termasuk Novia Kolopaking yang waktu itu belum menjadi artis.

Ceritanya berkisah pada masa jaman Kerajaan Pajajaran. Mengambil lokasi di Tanah Pasundan, ada sebuah kerajaan kecil bernama Madangkara. Tokoh-tokoh dalam cerita ini ialah Sang Raja Madangkara, Brama Kumbara (Ferry Fadli) yang konon merupakan seorang raja yang bijaksana, tampan rupawan serta sakti mandraguna, hampir-hampir tiada tandingannya. Kemudian adik Brama bernama Mantili (Ellie Ermawati) yang mempunyai sepasang senjata ampuh yaitu Pedang Setan dan Pedang Perak. Selanjutnya ada tokoh antagonis yang diperankan oleh Ivone Rose, yaitu seorang pendekar wanita bernama Lasmini. Tokoh-tokoh lainnya Raden Bentar, Harnum, Patih Gutawa, Dewi Anjani, Kijara, Lugina dan lain-lain.

Sebagaimana kisah-kisah epos lainnya Sandiwara Radio Saur Sepuh juga sarat dengan konflik, perebutan kekuasaan, pengkhianatan dan cinta kasih. Sandiwara ini disiarkan setiap hari di hampir semua stasiun swasta di Indonesia. Begitu populernya tokoh Brama dan Mantili, bahkan ketika pengarang memutuskan untuk ‘mematikan’ kedua jagoan tersebut, masyarakat pun memprotes keras. Sehingga terpaksa Brama dan Mantili pun dihidupkan lagi.

Sandiwara ini pun pernah diangkat ke layar lebar oleh sutradara Imam Tantowi dan menuai sukses. Selain Saur Sepuh sandiwara radio lain yang juga cukup sukses di tahun 1980-an di antaranya Misteri dari Gunung Merapi, Misteri Nini Pelet, Babad Tanah Leluhur, Ibuku Malang Ibu Tersayang, Tutur Tinular termasuk juga sandiwara radio yang diproduki oleh RRI yaitu Butir-Butir Pasir di Laut.

Saur Sepuh adalah sebuah cerita yang di kisahkan melalui media radio. Saur Sepuh mengambil tema pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk di Majapahit.

Sinopsis

Ceritanya berpusat pada Brama Kumbara, seorang pewaris tahta kerajaan Madangkara yang pada awal kisah diceritakan tengah dijajah oleh kerajaan Kuntala. Setelah kemudian Brama berhasil menumbangkan kekuasaan Kuntala dan memulihkan kedaulatan Madangkara, kisah berlanjut dengan permusuhan antara Brama dengan Gardika yang ingin mengembalikan kekuasaan Kuntala.

Dalam sebuah pertarungan dengan Gardika, Brama yang terluka parah oleh ajian serat jiwa milik Gardika diselamatkan oleh seekor burung Rajawali raksasa. Burung rajawali ini kemudian menjadi sahabat Brama. Rajawali bahkan kemudian menunjukkan kepada Brama di mana tersimpan kitab asli ajian Serat Jiwa, yang ternyata adalah milik kakek Astagina, kakek dari Brama. Secara tidak sadar, ilmu yang selama ini dipelajari oleh Brama dari Kakek Astagina (ajian Tapak Saketi, ajian Gelang Gelang, dan ajian Bayu Bajra) adalah bagian dari ajian Serat Jiwa. Brama berhasil menguasai ajian Serat Jiwa hingga ke tingkat paling tinggi (Tingkat 10).

Permusuhan Brama dan Gardika akhirnya mencapai puncaknya ketika keduanya berduel mempertaruhkan antara hidup dan mati, berakhir dengan tewasnya Gardika di tangan Brama. Gardika yang sepanjang hidupnya banyak melakukan kejahatan digambarkan tubuhnya hancur menjadi tepung.

Dalam perjalanannya, Gardika detemani oleh seorang bernama Kendala. Pada dasarnya Kendala adalah orang baik. Setelah Gardika tewas di tangan Brama, Kendala mendapat pengampunan dari Brama dan kemudian mengabdi kepada Madangkara.

Kisah kemudian dilanjutkan dengan perseteruan antara Brama dengan Panembahan Gunung Saba, pada bagian ini dikisahkan bahwa Ajian Serat jiwa yang sebelumnya dianggap sebagai ilmu tertinggi menemukan tandingannya yaitu ajian Waringin Sungsang. Brama yang hampir tewas setelah bertarung hidup mati dengan dua murid Panembahan Gunung Saba (Kijara dan Lugina) malah secara tidak sengaja mendapatkan ajian Lampah Lumpuh yang digambarkan tidak dapat dikalahkan. Dalam perjalan cerita dikisahkan pula ada ajian Cipta Dewa yang merupakan olahan dari intisari dari ajian serat jiwa yang dikuasai oleh Lasmini,ilmu ini diperkirakan lebih hebat dari ajian lampah lumpuh milik Brama ,namun tidak pernah terbukti mengalahkan Brama secara langsung.Sampai akhir cerita ajian lampah lumpuh tidak terkalahkan, hanya 1 kali bertanding imbang dengan ilmu Ikatan Roh milik biksu Tibet.

Tokoh

* Brama Kumbara (suara diisi oleh Ferry Fadly)

* Mantili (suara diisi oleh Elly Ermawati)

* Dewi Harnum

* Paramita (suara diisi oleh Maria Oentoe)

* Raden Samba

* Lasmini (suara diisi oleh Ivonne Rose)

* Bongkeng (suara diisi oleh Bahar Mario)

* Merit (Mario Kulon)

* Patih Gotawa (Petrus Urspon)

Brama Kumbara

Brama pernah mencintai seorang wanita. Kisah cinta ini muncul dalam episode berjudul Bara di Bumi Ankara, dimana dalam perjalanannya di Ankara, Brama jatuh cinta dengan seorang putri raja bernama Putri Doria.Cinta pertamanya itu terbunuh dalam sebuah pertempuran. Sosok Brama yang gagah, tampan, dan karismatik banyak menarik perhatian wanita, termasuk Lasmini yang pada akhirnya menjadi musuh bebuyutannya. Di antaranya yang akhirnya berhasil mengambil hatinya adalah sosok Dewi Harnum. Dewi Harnum hampir selalu menjadi pendamping Brama dalam perjalanannya. Dia juga yang menjadi satu-satunya saksi pertarungan dahsyat Ajian Serat Jiwa tingkat 10 melawan Ajian Serat Jiwa tingkat 10 antara Brama dengan Gardika (musuh bebuyutan Brama).

Namun kemudian Brama dan Harnum bertemu dengan Paramita, seorang janda beranak 2 (Raden Bentar dan Garnis) yang juga menaruh hati kepada Brama Kumbara. Harnum kemudian bersahabat erat dengan Paramita. Dan ketika Brama kemudian menyunting Harnum, Harnum setuju dengan satu syarat jika Brama juga menyunting Paramita.

Mantili

Sebenarnya cinta sejati Mantili adalah Raden Samba. Namun karena sifat Mantili yang keras, mereka sering bertengkar dan pada akhirnya Mantili malah menikah dengan Patih Gotawa. Raden Samba yang kemudian menikah dengan wanita lain ternyata masih menyimpan hati kepada Mantili, akibatnya pernikahannya jadi tidak harmonis.

Di kemudian, hari putra Raden Samba datang ke Madangkara mencari Mantili untuk membalas dendam karena menganggap Mantili sebagai penyebab ketidakharmonisan keluarganya.

Saur Sepuh di Layar Lebar

Cerita Saur Sepuh juga pernah diangkat dalam film layar lebar yang disutradarai oleh Imam Tantowi, sutradara asal Kota Tegal. Dengan pengembangan alur cerita yang begitu kompleks, Saur Sepuh diproduksi pada tahun 1987 (Saur Sepuh 1), 1988 (Saur Sepuh 2 dan 3), dan 1991 (Saur Sepuh 4)

Sumber : wikipedia & dekade80.blogspot

24 thoughts on “Saur Sepuh, Dulu Kedatangannya Selalu Dinanti

  1. seavioletfish said: …saur sepuh

    dulu cerita radio paporit gw itu ada 3
    1. Saur sepuh [ada kasetnya Mantili Bernyanyi]
    2. Cerita Misteri SI KOKOM [moga2 masih pada inget]
    3. Keluarga BASKORO [ yg ada pembantu yg latah bernama YUK KROMPYANG[moga2 masih inget juga]😀

  2. jamesdoel said: dulu cerita radio paporit gw itu ada 31. Saur sepuh [ada kasetnya Mantili Bernyanyi]2. Cerita Misteri SI KOKOM [moga2 masih pada inget]3. Keluarga BASKORO [ yg ada pembantu yg latah bernama YUK KROMPYANG[moga2 masih inget juga]😀

    dokter Darman enggak? dulu aku suka banget dengerin, sambil bayangin si dokter pasti cakep banget tuh:))

  3. agamfat said: Kalau Feny Rose, jualan apartemen

    wah..jadi teringat jaman itu nggonku entuk sandiwara soko el victor mbak(sby) biasanya nek akhir bulan dikirimi kaset untuk 30 hari berikutnya (1 bulan kedepan) …ini cilakanya…teman pada berebut pinjam pas harinya putar kaset masih belum kembali…wis aku bagian njupuk…kethayal-thayal soale wis mepet karo jam siar-e

  4. nadanusantara said: dokter Darman enggak? dulu aku suka banget dengerin, sambil bayangin si dokter pasti cakep banget tuh:))

    Dokter Darman, adl sandiwara radio yg ngetop jauh sebelum Saur Sepuh, saya dpt infonya dari salah seorang pemain sandiwara radionya, Mbak Lies Mardiana.

    Klo sandiwara Misteri Komariah (Kokom) serem banget, dia gentayangan nyari rambutnya.. mana disiarin jam 21.30, habis dengerin pasti takut nggak bisa tidur, hehehe.. Yang isi suara Komariah adl Ivonne Rose.

    Sandiwara radio Ibuku Malang, Ibu Tersayang adl sandiwara radio modern era 80an, ceritanya sangat bagus. Saya pernah bertemu dgn bbrp pemain sandiwara radionya, spt :
    Ferry Fadly (=Baskoro)
    Ivonne Rose (=Vina)
    Eddy Dhosa (=Herlambang)
    Maria Oentoe (=Bu Pras)
    Elsa Surya (=Pak Pras)
    Asdi Suhastra (=Mas Brewok, sekaligus pembawa ceritanya)
    Lukman Tambose (=Pak Sasongko)
    Asriati (=Yu Krompyang)

    sampe skrg masih penasaran dgn wajahnya : Ade Kristiani (=Damayanti) dan Rosalina Oscar (=Yasinta)

    klo Anna Sambayon (=Mbak Etty) baru lihat fotonya, blm pernah ketemu.

    penulis naskah ceritanya, Bp.Eddy Suhendro, sudah almarhum.

  5. Kataku “Brama kumbara si satria madangkara…..!!”
    Kata tetangga. “Dudu satria madangkara,tapi satria madang sega….!!!”. Alias. ” seorang jagoan yang masih doyang makan nasi.

    Mengapa para orang tua dulu meledek demikian, itu karena seorang jagoan mestinya bukan makan nasi, akan tetapi harus memakan yang lain, misalnya batu, pasir, beling dll.
    Kalau masih doyan makan nasi, itu namanya bukan jagoan, tapi manusia biasa,sama seperti kita pada umumnya, yang tiada berdaya.

    Begitu mungkin pikiran protes atau candaan para orang tua dulu, mengetahui betapa gigihnya kita para anak, Ketika sedang mendengar sandiwara di radio.

    Tapi tak masalah,namanya juga anak anak, olok olok biarkan saja,tapi hobi jalan terus…!!

    HIDUP SANDIWARA RADIO….!!!
    .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s