gepeng / lawak / photos / post

Gepeng, Untung Ada Saya

Pelawak, dengan nama asli Aries Fredy, lahir di Muntilan Jawa Tengah, 27 Agustus 1950 dan meninggal 1988. Karirnya dimulai dari Solo, dengan menjadi pemain wayang di group Edy Budoyo, pemain ketoprak di Dharmo Mudo, pemain ludruk di Karya Dharma dan pemain sandiwara Lokaria.

Di Solo pula ia pertama kali bergabung dengan Aneka Ria Sri Mulat (1977) yang kemudian diperbantukan ke Sri Mulat Surabaya. Sebenarnya ia sudah tampil di TVRI Stasiun Surabaya sejak 1978, namun dalam peran kecil, dan baru mendapat peran lebih berarti ketika tampil di TVRI Stasiun Yogyakarta sejak 1980, berperan sebagai pelayan dalam sandiwara-sandiwara yang dimainkan group Srimulat. Tahun berikutnya masih di TVRI Yogyakarta ia mendapat peran pemuda, disusul dengan pemunculannya di TVRI Stasiun Surabaya dalam peran yang sama. Namanya betul-betul mengorbit ketika dia dengan group Srimulat Jakarta mengadakan pagelaran di TVRI Stasiun Pusat Jakarta.

Beberapa lakon yang dia mainkan cukup untuk mengangkat namanya menjadi bintangnya srimulat Jakarta. Antara lain lewat pementasan-pementasan Bertepuk Sebelah Tangan, SI Cantik Berkaki Kuda, Istri yang setia, dan lain-lain. Bahkan dalam salah satu dialog dalam cerita istri yang setia sempat enjadi judul kaset yang diprodusir oleh srimulat sendiri (untung ada saya. Di luar panggung sri mulat gepeng juga pernah main film antara lainfilm gaya merayu bersama paimo dan lain-0lain. Bersama supiyah istrinya, gepeng dianugerahi empat anak putra dan putri.

Di-phk dari srimulat

Gepeng di-phk-kan dari grup lawak srimulat. alasannya karena gepeng tidak disiplin-sering main di luar secara sembunyi-sembunyi. gepeng tetap dengan profesinya, bergabung dengan narimo dan nunung.

TAHUN Macan 1986 telah minta "korban" dari grup lawak Srimulat. Yang terkena adalah Gepeng, yang selama ini dianggap sebagai bintang grup itu. Ia di-PHK-kan terhitung Senin pekan lalu. "Kami mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan kerja dengan Saudara," bunyi surat bos Srimulat, Teguh, kepada Gepeng. Gepeng, yang kehilangan hak menempati rumah dinas di Balekambang, Solo, tak urung kaget juga. "Tapi tak apa, memang saya mesti pindah rumah, dan saya sudah beli," ujarnya sambil mengemasi perabotannya. Rumah barunya masih di sekitar Kota Solo. Mengapa Gepeng dipecat? Persoalannya, kata Jujuk, istri Teguh, bermula dari ketidak disiplinan Gepeng. Ia sering main di luar secara sembunyi-sembunyi, karena butuh uang. Sebagai pemain Srimulat, ia memang menerima honor tertinggi: Rp 150 ribu per bulan. Tapi, itu tak mencukupi untuk keluarganya. Sehingga ia terpaksa cari obyek, seperti rekaman, main film, main video, atau manggung di luar. Terakhir, menjelang tutup tahun lalu, ia nekat menerima tawaran main di Banjarmasin dengan bayaran bersih Rp 2,5 juta. Apa yang dikerjakan Gepeng setelah cerai dengan Srimulat? Ia ternyata tetap dengan profesinya. Sabtu pekan lalu, ia manggung di Kudus, Jawa Tengah, bersama dengan dua alumni Srimulat, Narimo dan Nunung. Bayaran mereka Rp 4,5 juta.

Gepeng , dengan jargonnya yang terkenal : Untung Ada Saya " telah menjadi icon baru lawak Indonesia pasca lengsernya para pelawak tua seperti Bagyo cs, Ateng-Iskak, dsb. Beda dengan warga Srimulat lainnya, bintang Gepeng sangat terang. Ia bahkan pernah membintangi film layar lebar di era Warkop DKI – saat film komedi slapstick sedang booming. Sayangnya, ia harus mati muda karena digerogoti penyakit di livernya.

Sumber: Ensiklopedi Jakarta, Penerbit Yayasan Untuk Indonesia, 2005/ Tempo, 18 Januari 1986 / http://mercusuarku.wordpress.com







4 thoughts on “Gepeng, Untung Ada Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s