deddy stanzah / jelly tobing / photos / post / rock

Deddy Stanzah, suaranya khas

Inilah sosok pria kelahiran 14 April 1949 yang, hidupnya untuk musik rock. Mungkin hanya Deddy Stanzah, pemusik rock, yang tetap bersikukuh dan konsisten dengan rocki. Musik rock seolah menyatu denngan darahnya.Ketika sederet penyanyi rock lain mulai menyanyikan lagu-lagu di luar rock, Deddy Stanzah tetap memeluk rock dengan setia hingga ajal menjemputnya pada Senin, 22 Januari 2001, pukul 23.00 WIB.

Pamor penyanyi bernama asli Dedi Soetansjah ini mulai mengkilap ketika membentuk The Rollies di era 60-an bersama Delly Djoko Alipin dari kelompok Genta Istana dan Tengku Zulfian Iskandar Madian, serta Iwan Krisnawan, keduanya personel kelompok Delimars. Mereka kemudian sepakat membentuk sebuah band bercorak rock n’roll yang memainkan repertoar The Beatles, The Bee Gees, The Hollies, The Rolling Stones, hingga Beach Boys, Deddy Stanzah lalu memberi nama kelompok ini, The Rollies. ”Karena dua personel berambut ikal atau roll dan dua lainnya berambut lurus, saya gabung dan jadilah Rollies,” cerita Deddy Stanzah satu ketika.

Terbentuknya The Rollies terjadi pada April 1967, saat itu, di penjuru dunia tengah berlangsung British Invasion dengan merebaknya popularitas The Beatles hingga The Rolling Stones. Penggagasnya adalah penggagas Deddy Stanzah. Ayahnya yang membuka usaha perhotelan di Bandung, Jabar, dilibatkan sebagai penyandang dana The Rollies. Sang ayah bahkan menyediakan seperangkat alat band lengkap untuk The Rollies.

Di tahun 1969, The Rollies mendapat kontrak main di klab malam Singapura. Peluang emas ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mereka. Bahkan, The Rollies juga mendapat kesempatan membuat album rekaman di perusahaan Phillips dan menghasilkan dua album: The Rollies dan Halo Bandung.

Tak lama berselang Deddy mundur dari The Rollies dan membentuk kelompok Happiness dengan mengajak Gito.Tapi kemudian baik Deddy maupun Gito bergabung lagi dengan The Rollies. Bersama The Rollies, Deddy Stanzah mendukung lima album. Tiga album di antaranya direkam oleh Remaco dan Purnama Record. Karena ketergantungan dengan narkotika, menyebabkan The Rollies harus mengambil keputusan yang ekstrim dengan memecat Deddy Stanzah di tahun 1974.

Tak lama berselang, Deddy direkrut grup rock tersohor Jakarta, God Bless. Ia masuk menggantikan posisi Donny Gagola sebagai pencabik bas. Donny sendiri mengisi posisi gitar yang ditinggalkan Ludwig LeMans. Karena tidak disiplin sebagai pemusik profesional, akhirnya Deddy Stanzah didepak dari God Bless setelah bergabung sekitar empat bulan.

Selepas dari God Bless, Deddy mencoba bersolo karier. Walaupun demikian, Deddy masih belum jera untuk membentuk kelompok musik. Bersama dengan gitaris, Chris Manusama (pencipta lagu Kidung) dan Yaya Moektiyo (drummer Cockpit dan God Bless), dia membentuk kelompok Tripod Union Band,yang berumur pendek.

Di bulan Mei 1976, atas gagasan wartawan musik, Denny Sabri, yang terobsesi ingin membentuk sebuah supergroup, lalu merekrut Deddy Stanzah (vokal,bass), Deddy Dorres (vokal,gitar,keyboard), dan Jelly Tobing (drums). Trio yang diberinama Superkid ini seperti telah disiasatkan, selalu menebar sensasi.Dari tahun 1977 hingga 1988 Superkid telah merilis enam album. Deddy Stanzah selain mendukung Superkid, ternyata masih tetap aktif bersolo karier, baik di panggung maupun di studio rekaman. Di tahun 1976, ia merilis album solo perdananya bertajuk Play It Out Loud. Album ini menawarkan kualitas musik yang terpuji dan a didukung sederet pemusik sohor Bandung, seperti Albert Warnerin, Triawan Munaf, hingga mendiang Harry Roesli.Deddy sempat pula berduet dengan Gito Rollies dalam album “Higher & Higher� (1977).Di tahun 1977, dengan iringan Silver Train yang terdiri dari Yaya Moektiyo (drums), Harry Minggoes (bass) dan Agus (gitar), Deddy merilis album Gadis dalam Rock. Di tahun 1979, ia kemudian merilis album Pelangi yang bernuansa jazz rock diiringi Dodo Zakaria (keyboard), Oppop (drums), dan Emmand Saleh (gitar).

Popularitas Deddy Stanzah semkin meluas, ketika dia menyanyikan lagu Sepercik Air karya Iman A Bharata dan Masa Depan di Tanganmu milik Benny E Gagola dalam album 10 Pencipta Lagu Remaja (1979) diiringi Prambors Band.

Memasuki era akhir 80-an hingga 90-an, Deddy masih berkutat di bilik rekaman. Pada masa itu, ia lebih banyak merilis lagu-lagu single yang tergabung dalam sederet album kompilasi. Ian Antono dari God Bless, adalah salah satu penata musik single-single Deddy Stanzah seperti Aku Kembali (1987).

Sayangnya, Deddy masih belum bisa melepaskan kungkungan pengaruh narkoba. Ditahun 2001 selama delapan bulan, Deddy dihimpit berbagai penyakit, mulai dari jantung hingga paru-paru basah. Selama seminggu, Deddy sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung, tapi, karena tidak tahan, dia memilih berobat jalan. Di sela-sela penyakit yang mendera, ia masih tampil di panggung, antara lain bersama iringan Time Bomb Blues Band dan menyelesaikan peredaran album terakhirnya bertajuk Paradox. Deddy Stanzah meninggal pada meninggal 22 Januari 2001 di umur 51 tahun.

DISKOGRAFI

Album Solo

1.Play It Out Loud – Nova Records 1976

2.Gadis dalam Rock – Jacksons Records & Tapes 1977

3.Pelangi – Sky Record 1979

4.Studio – Blackboard 1991

5.Rock N’Roll – GNP/Hins Collections 1993

6.Paradox The Last Album – DCU Record 2001

7.Sepercik Air

Album Duet

Bersama Gito Rollies

1.Higher N’Higher – GMC Record 1976

2.Lepas Sensor – Sokha Record 1991

3. Formula Rock ( 1988)

Album Kompilasi
1.10 Pencipta Lagu Remaja – DD Record 1979

Sumber : Rolling Stone Indonesia








13 thoughts on “Deddy Stanzah, suaranya khas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s