ahmad albar / aka / journal / post / rock / ucok harahap

AKA dan Peti Mati Ucok

Minggu, 6 Desember 2009 | 03:09 WIB

Frans Sartono


Beberapa hari sebelum Ucok Harahap meninggal di usia 66 tahun pada Kamis (3/12), rekan-rekannya dalam band AKA datang menjenguk. Mereka adalah Arthur Kaunang yang dulu pemetik bas, Syech Abidin (drums/vokal), dan Sunata Tanjung (gitar).

Ucok saat itu terkulai tak berdaya di tempat tidur. �Kami berdoa di samping Ucok. Setelah itu tiba-tiba Ucok bangkit dan main organ. Dia menyanyi �Badai Bulan Desember�. Semangat bermusiknya luar biasa,� kata Arthur. Asal tahu saja, nama AKA itu berasal dari Apotek Kaliasin, sebuah apotek milik ayah Ucok yang berlokasi di Jalan Kaliasin, Surabaya. Dari keuntungan usaha inilah Ucok mulai bermusik.

�Badai Bulan Desember� adalah jenis lagu manis, atau istilah Arthur, lagu mendayu-dayu dari AKA yang populer di tahun 1974. Begitu juga lagu �Akhir Kisah Sedih� (1973). Dalam versi album lagu-lagu itu dibawakan vokal Syech Abidin. Ucok kebagian peran untuk lagu rock, khususnya untuk konsumsi panggung.

AKA memang band dengan dimensi musikal luas. Selain �Badai Bulan Desember,� AKA juga membawakan lagu Grand Funk Raildroad seperti �We Are American� atau �Someone�.

Di panggung kadang Arthur, Syech Abidin, dan Sunata hanya tampil bertiga, tanpa Ucok. Mereka membawakan lagu klasik rock dari ELP seperti �Jerusalem� meski dengan instrumen sederhana seperti organ Farfisa. Dengan bantuan seksi gesek dari Idris Sardi, AKA pernah membawakan �Pictures at the Exhibition� karya komponis Rusia Mussorgsky versi-nya ELP.

Pada sisi lain lagi, AKA juga membawakan lagu Jimi Hendrix, James Brown, hingga Black Sabbath. Lagu jenis itu merupakan jatah Ucok untuk beraksi dengan gaya yang saat itu disebut eksentrik.

AKA, misalnya, di awal era 1970-an menggelar konser di Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. Mereka membawakan lagu kondang dari Black Sabbtah �Iron Man�. Saat itu Ucok sang vokalis yang juga pemain keyboards melepas baju, sepatu, dan celana panjang. Yang masih menempel di tubuh Ucok hanyalah celana dalam warna merah. �Setelah (konser) itu, AKA diskors, dilarang manggung di Solo,� kenang Arthur.

Seks, sadisme, horor

Aksi panggung Ucok terbagi dalam tiga tema, yaitu seks, sadisme, dan horor. Tema seks, misalnya, dibawakan Ucok saat menyanyikan lagu �Sex Machine� dari James Brown. �Waktu itu dia (Ucok) betul-betul vulgar. Di atas panggung ia tampilkan adegan seperti orang bersenggama, ha-ha..,� kenang Arthur.

Untuk tema horor, AKA misalnya pernah membawa peti mati di panggung Taman Ismail Marzuki (TIM). Ucok masuk ke dalam peti mati. â€?Waktu itu TIM masih angker. Setelah Ucok masuk peti, ternyata peti tidak bisa dibuka lagi. Ucok teriak-teriak dari dalam, tetapi penonton mengira itu bagian dari pertunjukan. Padahal dia enggak bisa keluar beneran he-he…,â€? kenang Remy Sylado penulis musik yang saat itu menjadi redaktur majalah musik Aktuil. Konon dengan bantuan seseorang berkemampuan supra natural, Ucok akhirnya bisa dikeluarkan dari perangkap peti mati.

Remy mencatat AKA dengan Ucoknya adalah fenomena zaman setelah musik rock diberi ruang oleh penguasa Orde Baru. Sebelumnya, alih-alih pangung rock yang ingar-bingar, lagu rock seperti milik Beatles saja dilarang diperdengarkan di radio. �Tahun 1959 Bung Karno dalam pidatonya melarang musik ngak-ngik-ngok (rock) karena dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa,� kata Remy.

AKA tumbuh di masa perubahan itu. Eksekusinya di panggung menjadi aksi yang aneh-aneh. AKA, menurut Remy, mengawali model aksi semacam itu. Berikutnya muncul band semacam Terenchem dari Solo yang tampil dengan membawa ular. Juga Micky Jaguar yang bernyanyi dengan mengisap darah kelinci. Aksi Terenchem (singkatan dari Teruna Cemerlang) itu menurut Remy diilhami dari poster Alice Cooper dengan ular melilit tubuh di majalah Aktuil. Sedangkan ulah Micky meniru aksi vokalis Black Sabbath, Ozzy Osbourne yang menggigit kelelawar.

Ucok telah tiada ketika musik rock sudah diterima luas oleh masyarakat. Ucok dan AKA menjadi salah satu tonggak sejarah musik rock di negeri ini.


Sumber : Kompas

One thought on “AKA dan Peti Mati Ucok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s