ahmad albar / aka / journal / post / rock / ucok harahap

In Memoriam Ucok AKA, Rocker Legendaris nan Nyentrik Formasi Lengkap AKA di Pemakaman




Kita kehilangan satu musikus legendaris yang pernah menggetarkan panggung rock Indonesia. Andalas Datoe Oloan Harahap atau lebih dikenal sebagai Ucok AKA, kemarin (3/12) pagi mengembuskan napas terakhirnya di RS Darmo Surabaya dalam usia 66 tahun.

Any Rufaidah – Surabaya



PRIA yang bernama asli Andalas Datoe Oloan Harahap itu sempat menghebohkan panggung musik cadas Indonesia pada 1960-1970-an. Ucok AKA, begitu nama populernya, kemarin terbujur kaku di atas brankar RS Darmo Surabaya. Wajahnya terlihat putih bersih. Di sebelahnya berdiri Ahmad Albar dan Ian Antono, dua musisi yang menjadi kawan karib Ucok AKA semasa hidup. Tentang AKA, nama itu adalah kepanjangan dari Apotek Kaliasin yang dulu menjadi base camp Ucok dan kawan-kawan saat bermusik. Pada 1950-an apotek itu sangat terkenal di Surabaya. Terletak di ujung pertigaan Jalan Basuki Rachmat di dekat pasar Keputran yang kini menjadi patung karapan sapi. Pemilik apotek adalah ayah Ucok sendiri, yaitu Ismail Harahap.

Yang juga merasa sangat kehilangan dengan kepergian Ucok adalah Ahmad Albar dan Ian Antono. Dua personel God Bless itu kemarin terlihat khusyuk memanjatkan doa untuk sang sahabat.

"Dia itu orangnya lucu. Dia juga lugu. Itu kenangan saya yang paling kuat," kata Iyek yang memilih tetap bertahan di kamar jenazah seusai berdoa. Ian yang duduk di sebelahnya mengangguk membenarkan ucapan Iyek. Dua musisi senior ini mengaku beruntung karena tengah berada di Malang saat mendengar kabar kematian Ucok. Karena itu, mereka bisa langsung datang meski tak sempat bertemu untuk kali terakhir.

Ian dan Iyek berada di Malang sejak Rabu lalu. Mereka mendapat tawaran mengisi acara di sebuah kafé di Malang kemarin (3/12) malam. Rencananya saat tiba di Bandara Juanda mereka langsung menjenguk Ucok. Namun, karena harus segera berlatih, mereka mengurungkan niatnya. "Kita sudah sms-an sama Bu Sri, mau jenguk besok (hari ini)," kata Titiek Saelan, istri Ian Antono.

Namun, ternyata, Tuhan berkehendak lain. Belum sempat menjenguk, mereka mendapat kabar bahwa Ucok telah mendahului mereka menghadap Yang Mahakuasa.

Menurut dr Imam Soewono SpPD, direktur RS Darmo Surabaya, Ucok datang ke rumah sakit sekitar pukul 05.25 kemarin. "Beliau datang dalam keadaan kritis. Sempat mendapat perawatan seperti resusitasi. Namun meninggal pada pukul 05.30," jelasnya.

Sebenarnya, Ucok sering keluar masuk rumah sakit. Pada 20 November, anak sulung dari empat bersaudara itu dibawa ke RS Darmo untuk mendapat perawatan akibat kanker paru yang dideritanya. Namun, Selasa malam (1/12) almarhum memaksa pulang. "Sudah lima hari sebelumnya, Bapak minta pulang. Tapi, dia tadi pagi drop lagi," tutur Sri Hartini, istri kesembilan Ucok, yang dinikahi pada 14 Mei 2009 lalu itu.

Hartini yang kemarin mengenakan stelan hem garis-garis hitam putih, celana hitam, jilbab hitam, plus sarung tangan jaring-jaring di sebelah tangan kanannya, mengaku tidak pernah menduga akan ditinggal secepat ini. Dia memahami jika penyakit sang suami sulit disembuhkan. Namun, kepergiannya kali ini dirasanya cukup mengagetkan. "Yah, gimana. memang kanker tidak ada obatnya, tapi kenapa sekarang?" katanya pasrah.

Mestinya jenazah pria kelahiran 23 Mei 1943 tersebut dikebumikan sekitar pukul 11.00. Namun, karena harus menunggu kedatangan beberapa rekan almarhum saat membesarkan AKA, serta putri kesayangannya, Sutra Kharmelia, dari Jakarta, pemakaman ditunda. Sekitar pukul 11.00, jenazah dibawa dari RS Darmo untuk disemayamkan di Balai RT 2 RW 1, Kebraon Tegal, Kelurahan Karang Pilang, Surabaya.

Soal pemilihan lokasi pemakaman, Sri mengaku mendapat pesan khusus dari sang suami. "Bapak bilang ingin dimakamkan di Kebraon, nggak tahu kenapa. Cuma bilang begitu," kata perempuan 63 tahun tersebut. Ucok sendiri lahir di Jalan Nias, Surabaya, kemudian besar di W.R. Supratman, Surabaya, sebelum akhirnya tinggal berpindah-pindah. Mulai dari Lawang, Malang hingga Kediri. Di Surabaya, dia tinggal bersama Sri di kawasan Pagesangan.

Selama proses menunggu pemakaman, Iyek dan Ian tidak pernah ketinggalan. Seakan-akan keduanya berat melepaskan kepergian Ucok yang dulu dikenal sebagai Duo Kribo bersama Iyek. Sembari menunggu, keduanya juga sabar melayani permintaan keluarga, serta beberapa pelayat dan warga sekitar yang mengajak berfoto bersama. Tak tampak rasa letih meski mereka harus berpanas-panasan.

Tepat sekitar pukul 14.00 rombongan yang ditunggu tiba. Mereka adalah Syeh Abidin yang dulu dikenal sebagai drummer AKA, Arthur Kaunang (bas/vokal) yang ditemani sang istri, serta Sonata Tanjung (gitar/biola/vokal). Tampak juga Jelly Tobing, musikus yang mengagas malam amal untuk dana pengobatan Ucok AK, Selasa (1/12) malam kemarin di Jakarta.

Tampak juga Lia, sapaan akrab Sutra Kharmelia, anak bungsu Ucok dari istri ketiganya, Yasmin Yuniarti Farida. Lia sempat menjenguk sang papa saat dirawat di rumah sakit pekan lalu. "Saya nggak tahu itu firasat atau apa, tapi jam 5 kurang tadi saya terbangun," terang perempuan yg menjadi prese
nter di Global TV tersebut. Dia datang sendiri karena sang mama berhalangan. Sedangkan kakaknya berada di Tegal.


Setelah semua dianggap lengkap, jenazah disalatkan di Musala Al Hidayah yang bersebelahan dengan balai RT. Lantas jasad Ucok dibawa ke lokasi pemakaman yang berjarak sekitar 20 meter dari musala.

Sebelum jenazah dimasukkan ke liang lahat, beberapa rekan almarhum memberikan penghormatan terakhir. Sempat ada rencana untuk menyanyikan satu lagu, namun diurungkan karena waktunya terlalu sore.

Selain Lia, ada tiga anak almarhum yang menghadiri prosesi pemakaman tersebut. Yakni, Iskandar Muda Iswanda dari istri pertama, Intan Mutiara dari istri kedua, serta Mas Nusantara dari istri ketujuh Ucok. Sedangkan dari pihak istri, hanya ada Sri Hartini, yang menjadi istri terakhir, serta Liestie Harahap, dan Endang C.B., istri ketujuh dan kedelapan. Dari sembilan istri, hanya istri pertama dan terakhir yang tercatat di KUA.

Soal banyaknya perempuan yang berada di sekelilingnya, hal tersebut diakui Ucok melalui bukunya yang dituliskan Ita Nasyiah, mantan wartawan Jawa Pos yang selama ini menjadi sahabatnya. Di buku berjudul Ucok Aka, Wanita dan Keruntuhan yang masih masuk tahap editing tersebut, dia mengaku tidak tahu penyebab dirinya selalu dikejar perempuan dibanding tiga rekannya yang lain.

"Melihat aku selalu dirubung wanita-wanita cantik, ketiga temanku hanya bisa geleng-geleng kepala. Katanya, sensualitas tubuhku dan karena pamorkulah yang menjadikan aku selalu diburu banyak wanita. Tak kukira, ternyata aku benar-benar jadi idola. Ku jadi ikon lelaki kala itu," begitu tuturnya di paragraf terakhir pada Bab 21.

Ucok membentuk grup AKA tepat di ulang tahunnya yang ke-24. Grup ini sempat mengalami perubahan formasi hingga akhirnya bertahan empat orang; Ucok, Syeh Abidin, Sonata Tanjung, dan Arthur Kaunang. Total, mereka sudah mengeluarkan 12 album. Hampir semuanya meledak di pasaran. Namun, yang tercatat paling laris adalah Crazy Joe (1972) dan Badai Bulan Desember (1978). (leak)




Sumber : Jawa Pos

13 thoughts on “In Memoriam Ucok AKA, Rocker Legendaris nan Nyentrik Formasi Lengkap AKA di Pemakaman

  1. Waktu di dialog KPMI, alm Ucok bilang sebelum meninggal, ingin bertemu dg anak dari istri pertamanya, yg dia tinggal krn kecantol orang lain. Dengar2 sudah terlaksana keinginan alm

  2. Waktu di dialog KPMI, alm Ucok bilang sebelum meninggal, ingin bertemu dg anak dari istri pertamanya, yg dia tinggal krn kecantol orang lain. Dengar2 sudah terlaksana keinginan alm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s