ellya khadam / gambus / photos / post / rofiqohdartowahab

Kasidah-tapi lidahnya indonesia

Musik pop kasidah ramai dinyanyikan. tetapi pengucapan kata-kata di dalam lagu lebih diutamakan soal rasa irama arab daripada aturan tata-baca qur’an. (ms)

DEMAM kasidah memang boleh dibilang sedang berjangkit sekarang.

Secara sadar, sebagian kalangan kelihatan berusaha memberi

tambahan warna pada musik populer kita dengan sebuah jenis

spesifik — yang selama ini, walaupun mempunyai konsumen yang

luas, terbatas pada lingkungan yang "khas". Memang tidak begitu

kuat kecenderungan itu. Namun munculnya rekaman-rekaman dari

Djamain Sisters dan Trio Bimbo, turut sertanya penyair seperti

Taufiq Ismail yang menyediakan lirik-lirik, munculnya penyanyi

pop Fenty Effendy dengan lagu-lagu "kasidah campuran" yang

dibikin baru, atau ikut-sertanya penyanyi irama padang pasir

seperti Rofiqoh Dharto Wahab dalam usaha "modernisasi kasidah"

dengan iringan band, hakikatnya belum menjelaskan semua hal yang

dianggap penting di kalangan muslimin yang akrab dengan musik

jenis ini.

Penjualan piringan-piringan hitam dan kaset-kaset dari apa yang

disebut kasidah modern itu sendiri mencapai omzet yang boleh

mengherankan orang. Agus Sunaryo, pemimpin grup Bintang-Bintang

Ilahi yang tempohari mempopulerkannya pertama kali dengan suara

Djamain bersaudara, "terpaksa mengulang lagi rekaman itu — kali

ini dengan mengganti suara mereka dengan suara Rofiqoh, dengan

sistim isi suara (dubbing) untuk "mempercepat waktu". Dan

Musabaqah Tilawatul Qur’an, yang selama ini merupakan lembaga

yang ditatap oleh mata seluruh umat Islam, dijadikannya sarana

bagi pemasaran hasil karyanya — dan dalam acara tersebut di

Surabaya ribuan kasct suara-suara Djamain, Rofiqoh dan Fenty

Effendy terjual habis setiap hari. Itu di luar lagu-lagu kasidah

"konvensionil" dari grup-grup lain.

Namun bersama dengan itu reaksi terhadap "pembaharuan" muncul

pula, meskipun tidak begitu terdengar semata-mata karena tidak

ada media yang mempublisir. Ini bukan sekedar pro dan kontra

dari segi yang biasanya berbau agama. Sebab kalau hanya mengenai

soal itu, reaksi sudah bukan yang pertama kali. Sejak mula-mula

anak-anak perempuan Islam yang berkudung itu muncul di depan

umum, dan membawakan lagu-lagu selawat dengan iringan tetabuhan,

kyai-kyai sudah langsung menggeleng. Boleh diingat misalnya satu

kejadian. Ketika Rofiqoh dan kawan-kawannya pertama kali muncul

dalam satu acara keagamaan di sebuah tempat di kota

kelahirannya, Pekalongan, pada 1964, semua hadirin terkejut dan

melongo. Baru ketika ada seorang kyai yang rupanya berwibawa —

dan "cukup maju" — berdiri dan bertepuk tangan (maklum

waktu itu ada tamu dari Jakarta), hadirin kemudian memuntahkan

keplok yang riuh.

Tapi reaksi yang penting dalam hubungan ini sudah tentu yang

menyangkut segi musikalitas sendiri. Dengarlah kata orang-orang

yang ahli seperti Mochtar Luthfi El-Anshary, bekas pimpinan

orkes gambus Al-Wardah dan sekarang anggota Lembaga Pembina MTQ

DKI Jakarta, maupun Hasan Alaydrus pimpinan orkes gambus

Al-Wathan. Terhadap pembaharuan kasidah yang dilakukan Agus

Sunaryo misalnya, keduanya beranggapan bahwa yang mereka lihat

di situ sebenarnya bukan modernisasi atau apa. "Saya hanya

melihat musik band yang pop telah dipaksakan untuk syair-syair

lama", ujar Alaydrus. Sehingga seperti kata Mochtar:

"pantun-pantun bahasa Arab itu diletakkan dalam irama yang tidak

tepat" — dan sama-sekali tidak enak bagi orang Islam yang

selama ini akrab dengan senandung-senandung Arab — bahkan walau

mereka tak tahu arti kata-katanya.

Reaksi seperti itu memang bukan semata-mata kecerewetan.

Lihatlah dalam lagu-lagu Diamain Sisters. Setelah capek memuji

misalnya ketepatan orkestrasi band Bintang-Bintang llahi dengan

paduan suara Djamain yang kompak dan halus (TEMPO, 26 Oktober),

orang bisa melihat kekurangan-kekurangan dari segi "rasa irama

Arab" di banyak tempat. Paling menonjol misalnya dalam lagu

Rabbana. Sepotong kalimat di situ, yang cukup populer dalam doa

orang Islam, seharusnya diucapkan dengan tekanan begini

lazakuzlu-tan-na miftal khaaa-si-riiin — dan bukan lanakunana

minal khaaa-siri-naaa seperti diucapkan Djamain semata-mata

berdasar untutan melodi. Bahkan melodi di situ menjadi terasa

janggal untuk kalimat tersebut sehingga masalah di sini sama

sekali bukan masalah tajwid (aturan tata-baca seperti yang

digunakan dalam qiraat Qur’an) melainkan masalah rasa. Para

penyanyi di negeri-negeri Arab sendiri bahkan tidak pernah

memperhatikan tajwid- akan tetapi justru rasa, dan itu adalah

satu hal yang justru sangat difahami orang Islam bahkan di

Indonesia.

Tetapi berdasar "dalil rasa" itu juga, barangkali orang harus

terpaksa menerima ucapan Muhammad dari Djamain — (dalam lagu

Shallallah) yang dipanjangkan pada suku terakhir menjadi

Muham-maaad. Di sini maaad itu, suku terakhir, dinyanyikan

sambil menggaet lima buah nada — yang menyebabkan

kejanggalannya dikalahkan oleh kelincahannya yang berhasil

membentuk rasa irama tersendiri, yang barangkali bukan Arab

tetapi pop Indonesia Ini, kalau memang bisa diterima, barangkali

boleh dianggap contoh paling khas dari yang dimaksud sebagai

"kasidah Indonesia", dengan rasa irama Indonesia. Tetapi orang

tetap takkan bisa menerima Fenty Effendy yang dalam lagu Ya

Muhaimin meneriakkan a-khiiirun nabi kha-taaa-mun nabi dan bukan

aaa-khirun nabi, khaaa-tamun nabi. Sulit memang. Sebab

pengucapan-pengncapan yang salah maupun tekanan yang tidak pas

untuk kalinat-kalimat Arab kadang-kadang merobah arti Misalnya,

dalam lagu Thlaal Badru, Djamain mengucapkan asy-syukru menjadi

asy-syuqru (dengan Q) — mungkin "supaya lebih Arab" Padahal

asy-syukr berarti terimakasih, sedang asy-suqr berarti celah di

bukit batu yang biasa mengalirkan air apabila hujan. Bisa

difahami bila Dr Hamka satu kali bicara sambil ketawa "Saya kira

saya ini tahu betul-betul bahasa Arab Tapi mendengar lagu

anak-anak itu saya tidak faham artinya".

"Buy Me, Sir!"

Adapun ucapan Hamka di atas barangkali lebih tepat untuk lagu

Habibi yang dinyanyikan Fenty Di sini, setelah Fenty meneriakkan

"Nabiy-yiiii" (artinya Nabikuuuu….) orang sunggu-sungguh tak

tahu apakah sesudah itu ia mengucapkan Khaallilallah (kekasih

Allah) ataukah halyiwawah atau barangkali hawiwawoh —

kedua-duanya tak ada artinya. Lebih-lebih andil yang sangat

besar dari si penggubah lagu (sebagian kasidah Agus Sunaryo ini

ciptaan baru) turut menjadi sebab mengapa si pendengar yang tahu

bahasa Arab tidak mengerti apa sebenarnya yang terkandung dalam

syair-syairnya. Sebuah lagu misalnya bernama Indonesia Huriyah

— dan dua kata itu diucapkan berulang-ulang. Yang dimaksud,

seperti jelas dari terjemahannya yang kemudian turut dinyanyikan

berselang-seling, adalah lndonesia Merdeka’ Aneh sekali bila si

penggubah sampai tak tahu bahwa hurriyah berarti kemerdekaan,

dan bukan merdeka. Ini kira-kira sama dengan seorang anak

penjual patung di Bali yang berteriak kepada turis asing "Buy

me, sir". Maksudnya "Beli daganganku saja, tuan"…

Memang tidak sedikit lirik lagu-lagu pop Indonesia sendiri yang

masih saja bisa digolongkan "sampah". Ambillah salah-satu yang

menonjol misalnya lagu-lagu yang berambisi menceritakan sesuatu,

yang menyebabkan pendengar dengan tegang menunggu selesainya

cerita — dan bukan menikmati keseluruhan. Demikian pula

lagu-lagu kasidah rebana "konvensionil", yang sejak beberapa

waktu yang lalu sebagiannya memakai bahasa Indonesia yang

mengarang sendiri. Kalimat-kalimat Indonesial di sana bukan saja

terlalu pretensius, menggurui dan mengancam-ancam, namun

sama-sekali tidak tepat dengan melodi yang Arab. Dengarlah lirik

sebuah lagu yang dinyanyikan satu grup yang justru merupakan

pemenang perlombaan kasidah di DKI Jakarta.

*

Duhai umat Nabi, wahai umat Nabi

Ingat pada Allah, ingat pada Allah

Bila tak sembahyang, bila tak puasa

Diancam noraka

*

Duhai. Di tanah Mesirpun tidak ada lagu yang dengan sangat getol

memberi "nasihat langsung" seperti itu — walaupun kebetulan

kalimat-kalimat di atas sesuai dengan lagunya.

Memang tidak semuanya jelek. Beberapa buah lagu, seperti Selimut

Putih karangan Ghazali Hasan yang sangat populer terutama di

Sumatera Utara dan Malaysia, atau Taqwahah dari orkes Babel Haqq

atau boleh juga Allahu Akbar, pwya persesuaian yang salleh

antara melodi dan lirik — dengan kata-kata yang cukup bagus.

Bahkan kadang mengharukan. Tetapi bila lirik-lirik "sampah"

dalam musik pop jenis apapun merupakan aib bisa pula disetujui,

ucapan Hasan Alaydrus maupun Mochtar Luthfi bahwa modernisasi

kasidah haruslah dilakukan orang yang tahu betul tentang kasidah

dan mengerti rasa sastra Arab Lagi pula, mendengar lagu seperti

Ya Muhaimin dari Agus Sunaryo — yang ternyata, setelah

dinyanyikan terjemahannya dalam bahiasa Indonesia terasa lebih

sesuai daripada bahasa Arab — kadang-kadang terfikir tidakkah

lebih baik lagu-lagu yang diberikan kepada Fenty Effendy (dan

bukan yang Djamain) dinyanyikan saja seluruhnya dalam bahasa

kita sendiri, seperti yang dilakukan Bimbo? Mungkin soalnya Agus

Sunaryo mempertahankan kedua bahasa dalam satu lagu untuk meraih

kedua publik sekaligus. Tapi bukan tak mungkin pula terdapat

kekhawatiran, bahwa kalau lagu keagamaan dinyanyikan dalam

bahasa Indonesia mka, seperti misalnya dikatakan Hasan Alaydrus,

bukan kasidah lagi namanya. Kalau begitu jenis musik yang

bagaimana yang disebut kasidah?

Mulanya adalah rofiqoh

Rofiqoh dharto wahab muncul pertama kali di radio dengan membawakan lagu-lagu arab. sebelumnya dikenal sebagai orkes gambus, rofiqoh mewakili lagu-lagu padang pasir, fenty effendy mewakili lagu-lagu pop.(ms)

ADALAH Rofiqoh Dharto Wahab, "penyanyi mendadak" yang pada tahun

1966 pertama kali terdengar suaranya di radio membawakan

lagu-lagu Arab. Dua hal sangat menggembirakan orang waktu itu

Pertama, lagu-lagu Arab yang barangkali sudah lebih sepuluh

tahunan lamanya menghilang dari udara (apa lagi dengan kuatnya

"iklim PKI") kini terdengar kembali Kedua lagu itu dibawakan

oleh seorang perawan kampung dan bukan oleh kalangan keturunan

Arab seperti yang sudah-sudah. Sifat lagu-lagu Rofiqoh sendiri

membedakannya dari lagu-lagu yang sudah menghilang itu. Muncul

bersama orkes gambus Al-Fata (Pemuda) pimpinan A Rahmat, gadis

dusun isteri wartawan itu menyanyikan lagu-lagu Ya misy-misy

yang kemudian sangat populer, Ya asmar la tinsani, Ala ‘ashfuri

dan Ya Nabi salam ‘alaik yang kemudian dengan cepat ditiru

Keempat-empatnya adalah lagu-lagu irama Mesir atau Libanon —

dan bukan irama Hadramaut yang dahulu muncul 30-an tahun

sebelumnya.

Dan memang, tahun 30-an itulah pertama kali udara Hadramaut

berhembus di Indonesia Tokoh-tokoh seperti Syekh Albar (ayah

Ahmad Albar (pemimpin grup God Bless), bersama Mochtar Luthfi

dari Al-Wardah (Mawar) atau Hasan Alaydrus dari Al-Wathan (Tanah

Air), menghembuskan udara tersebut pada waktu yang kira-kira

bersamaan dengan diperkenalkannya jazz di Indonesia oleh

tokoh-tokoh sebangsa Tjok Sinsoe Pada instrumentalis seperti

Segaff Assegatf atau Ahmad bin Muhsin Baagil — atau juga

"pernah violis" Fuad Hassan yang sekarang Prof Dr psikologi

belum apa-apa waktu itu Syekh Albar sendiri, konon "Abdu Wahab

Indonesia", dikenal sebagai yang menumbuhkan irama-irama padang

pasir seperti dahifah, syarah (dengan variasi tepukan tangan)

allu zaffin (dengan variasi gendang/ketipullg yang "panas",

digunakan untuk "joget enam langkah") dengan Warna yang

sana-sini berbeda dengan warna aslinya bila orang sempat

mendengarkan rekaman aslinya dari Hadramaut.

Jingkrak Afrika

Meski begitu zaffin — yang di beberapa daerah Melayu sempat

mengilhami dan menumhuhkan tarian jepen — maupun segala

ketoprak-ketoprak Hadramaut lainnya, sebenarnya bukan yang

paling ideal dalam perasaan orang-orang Islam pribumi. Seperti

juga peranakan Arab di Indonesia tidak menyukai langgam lagu

Hijaz (Mekah dan sekitarnya) yang tergolong lebih kalem,

orang-orang pribumi rupanya kurang berbakat untuk berjingkrak

bersama irama yang sudah sedikit-banyak bercampur dengan udara

Afrika itu. Sebaliknya muslimin di kampung-kampung rupanya lebih

menyukai udara Mesir meskipun lagu-lagu Mesir yang ditiru

hanyalah sekedar nyanyian-nyanyian pendek barang sepuluh bait,

dan bukan gubahan-gubahan raksasa dengan orkes besar yang makan

waktu permainan satu jam.

Adapun lembaga bagi lagu-lagu model mesir di Indonesia tak lain

film-film dari negeri sana, yang sampai tahun 50-an masih

beredar sampai ke pelosok-pelosok — sebelum dihantam film koboi

dan India Di kampung-kampung misalnya, sampai kira-kira tahun

50-an itu masih sering ada pemetik gambus tunggal yang

berkeliling (biasanya orang ini buta) yang menirukan lagu-lagu

Abdul Wahab dan Ummi Kultsum seperti Ya Wardi Min Yasytari,

Ghannini Syuwaiya -syuwaia, Bushaturrih — dengan mendapat

hadiah makan dan uang. Satu-dua pesantren, seperti Kaliwungu

Semarang misalnya, mempunyai pula grup-grup anak muda yang

sering diundang ke berbagai perhelatan dengan lagu-lagu seperti

itu Nah, lagu-lagu itulah yang umumnya dikenal sebagai kasidah.

Orang menyebut kasidah misri, qashidah mishriah atau kasidah

model Mesir.

Tetapi mengapa kasidah? Sebab lagu-lagu itu dibawakan dengan

suara tunggal plus petikan gambus, ataupun secara rombongan

tanpa instrumen Koor ini, selain yang terdapat di pesantren juga

banyak tumbuh di kampung-kampung — hanya jenis ini bukan

terutama disebabkan film Mesir Lembaga yang melahirkan kegiatan

ini tak lain adalah kitab-kitab maulud yang umumnya dikenal

sebagai Barzanji Syaraful Anam, Barzanji, Burfiah, Daihagh,

Hadhrah, misalnya) Langgam untuk kasidah jenis ini hampir

semata-mata (Hijaz Mekah) — bahkan Persia atau negeri-negeri

Asia Tengah — tetapi bukan Mesir Maka terkenal pulalah kazidah

hijazi, kasidah "model Mekah" Adapun kesempatan improvisasi —

yang juga ciri kasidah-terutama terdapat dalam suara tunggal.

Dan itu disebabkan terutama oleh waak gambus, yang dibanding

gitar lebih berfungsi sebagai alat melodi dan "penyambung suara"

dan bukan alat krep Apa lagi untuk lagu-lagu jenis Hijaz. Sebab

Hijazi hanya berarti langgam — sedang lagunya sendiri sebagai

karya yang selesai boleh dicari sendiri dan karena itu nyany1an

semata-mata berangkat dari syair yang memang sudah tertentu

jumlah suku kata dan metrum nya, maka orang awam pun lebih

mengenal kasidah sebagai lagu-lagu yang ‘nglangut", pada umumnya

romantis dan "kebanyakan cenderung sedih" Tetapi ciri yang benar

ialah, pada kasidah jenis apapun, selamanya masih bisa dikenali

langgam-langgam baik Hijazi, Balati, Sikkah, Husini atau

lainnya. Artinya yang di luar itu, menurut pengerian "buku",

bukan kasidah.

Juga "Melayu Pasaran"

Adapun waktu Rofiqoh muncul, dan lahir pula orkes-orkes padang

pasir di mana-mana sehabis masa PKI itu, istilah kasidah tak

pernah terdengar. Lebih populer adalah nama "orkes gambus" —

dan nama ini pada umumnya "tiruan salah" dari orkes-orkes

sebelum kemerdekaan yang memang benar-benar orkcs gambus. Di

sini gambus memang memimpin orkes dan memberikan warna dominan.

Dalam "orkes gambus yang baru, bahkan yang sdma sekali tidak

punya alat yang berbentuk seperti labu itupun, disebut "orkes

gambus". Padahal di tanah Arab sendiri tak ada nama itu orkes

gambus di Beirut dan Kairo tumbuh band dengan gitar listrik,

atau orkestra (di Kairo) yang menggunakan piano dan

kadang-kadang organ — kecuali untuk lagu-lagu rakyat atau

komposisi-komposisi serius yang panjang di mana gambus

diperlukan untuk memasukkan warna-warna asli. Istilah "kasidah"

baru muncul kembali ketika kemudian tumbuh grup-grup rebana yang

sepenuhnya amatir, muncul pertama kali dari kalangan anak-anak

pengajian dengan "lagu-lagu nasihat" Dengan ini dunia "irama

padang pasir" memang mendapat tambahan warna. Orkes-orkes

"gambus" itu sendiri — sebutlah begitu — kemudian makin jelas

berbeda dari orkes sebelum perang, terutama oleh jenis

syair-syair yang mereka bawakan. Hanya sebentar warna Mesir itu

hinggap — dan selanjutnya orkes & grup-grup rebana kembali

kepada syair-syair induk, yakni berbagai lagu Barzanji yang dulu

dinyanyikan orangtua mereka di kampung-kampung. Bisa difaham

bila warna Hijaz (yang relatif lebih dekat dengan tradisi agama

oleh pertautan yang lebih karib dengan lagu Qur’an) datang

merambah. Hanya saja Hijaz yang ini adalah Hijaz yang relatif

lebih hangat — dan umumnya tidak khusyu — mengingat bahwa

langgam tersebut bercampur baik dengan Hadramaut maupun,

akhirnya irama "Melayu pasaran" (bukan Melayu Deli dan bukan

Melayu-lndia)

Itu menyebabkan orkes gambus & rebana Indonesia sekarang

mempunyai warna campuran yang berbeda dari warna Mesir — yang

memang lantas jarang diikuti karena "terlalu halus" maupun warna

Hadramaut. Juga dari warna Hijaz yang lembek dan syahdu seperti

yang masih ada dinyanyikan di surau-surau kampung menjelang

waktu sembahyang. Tetapi bila demikian, grup-grup rebana yang

lazim menamakan diri grup kasidah tidak sepenuhnya membawakan

lagu-lagu yang benar-benar kasidah menurut "buku" hanya saja

makin lama so- al itu toh makin kurang penting. Orang sekarang

tampaknya lebih banyak memahami kasidah sebagai "lagu-lagu

keagamaan seperti yang biasanya dinyanyikan dalam bahasa Arab"

Jadi kasidah adalah Lagu agama — meskipun aslinya boleh

merupakan lagu cinta berahi. Demikianlah maka Agus Sunaryo bikin

"kasidah" modern, sedang Bimbo mengeluarkan "kasidah" Mereka toh

boleh bilang "Ini kasidah Indonesia, bukan?".

Antara Langit Dan Sumur

Sebab yang penting akhirnya memang soal mutu. Tidak begitu

relevan barangkali mempertimbangkan "warna tertentu" orkes

gambus & rebana di Indonesia dalam melihat mutu tersebut. Tapi

yang menyolok, nilai orkes-orkes gambus sekarang ini —

jangankan lagi rebana — di bawah tumit. Berbeda dengan orkes

zaman Syekh Albar yang benar-benar profesional, orkes sekarang

boleh dibilang tidak bisa dimengerti apa sebenarnya yang mau

mereka capai — kecuali "memprodusir terus-menerus lagu-lagu

agama" Orkes-orkes sebelum perang, tidak hanya bisa dinilai

kwalitas petikan gambusnya atau beningnya suara biola tapi juga

ada mencoba melakukan beberapa "pembaharuan" pada orkestrasi Al

Wathan pada zaman Belanda misalnya pernah meramaikan sebuah

pesta dansa dengan sebuah kasidah percintaan — dengan irama

walsa — sambil tetap menjaga ciri-ciri langgam asli.

Adapun orkes-orkes yang tumbuh sesudah hilangnya PKI, memang

tidak seluruhnya jelek. Beberapa buah yang pernah hidup seperti

misalnya El-Suraiya (Kejora), Al-Badar (Purnama) di bawah

pimpinan Ahmad Vad’aq atau Al-Hilal (Bulan Sabit), boleh dipuji.

Tapi lain-lainnya, duhai Orang boleh membeli misalnya sebuah

kaset Remaco yang merekam kasidah Bimbo dan Rofiqoh

bersama-sama, dan membandingkan musiknya. Antara langit dengan

sumur, demikian jauh bedanya. Boleh pula dibeli sebuah plat

gambus dan menyimak bagaimana lagu "berjalan" di sana. Mula-mula

ada sedikit musik pembuka — lantas vokal misalnya "wahai bulan

purnama" — ngok-ngok — "engkau teramat indah" -ngok-ngok —

begitu terus-menerus. Pukulan ketipung pun berjalan konstan saja

dari awal sampai akhir tak ambil pusing apakah vokal ataukah

musik yang sedang mau ditonjolkan. Miskin, sangat miskin. Jangan

pula bicara soal nuansa Al-Fata misalnya, di mana Rofiqoh

pertama kali muncul, selain fals juga rasanya cuma ketipung sala

yang terdengar sampai sejauh satu kilometer. Kalau tak salah

hanya Juwairiah yang sudah marhumah itu penyanyi bagus yang

kebetulan mendapat orkes Al-adar yang juga bagus. Sedang Mur

Asiah Jamil, bekas juara Qur’an yang barangkali penyanyi Arab

yang paling baik (lagunya rah Ya Albi yang diambil dari Umu

Kultsum misalnya bukan main sedapnya) memilih berteman dengan

anak-anak rebana yang haya berketiprak-ketiprik dan la-la-la-la.

Dan memang, yang disebut grup rebana adalah grup lala-lala Itu

lalalala mereka pakai sebagai pengganti musik sebuah permainan

anak-anak, yang tidak mengandung keindahan variasi apapun

kecuali sebagai alat rekreasi yang bermanfaat bagi siswa-siswa

madrasah Grup-grup seperli itu memang dipujikan untuk tetap

hidup secara tersebar, tapi tak usahlah ditantang untuk

disejajarkan dengan band yang tidak jelek seperti misalnya

Bintang-Bintang Ilahi Agus Sunaryo seperti yang dilakukan fihak

Taman Ismail Marzuki, ketika mengadakan malam "kasidah modern"

akhir Oktober yang lalu. Tetapi "jasa" yang telah diberikan

fihak TIM ialah bahwa di situ, di Teater Terbuka, kelihatan

perbandingan mutu antara "wakil-wakil pop" (Bintang-Bintang

Ilahi & Fenty Effendy) dengan "wakil-wakil padang pasir"

(Rofiqoh & anak-anak rebana)

Soal Rasa Panggung

Pertama kali soal penampilan. Tiga Djamain, yang malam itu

sebagian besar mengulang kembali rekamannya yang dikeluarkan

Remaco, sedap dipandang. Muncul dengan kain dan kudung setengah

terbuka, mereka berdiri menyebar masing-masing dengan sopan dan

percaya diri sendiri, bergoyang sedikit untuk pukulan beat,

tetapi ta’zim dan manis Fenty, yang juga muncul dengan kain dan

kudung yang lebih sedap, mengalunkan irama pop yang lembut dan

pelan. Tangannya bergerak sedikit ke dada, halus dan seimbang.

Sekarang lihat Rofiqoh. Ia membawakan lagu-lagu yang dalam

rekaman juga dibawakan Djamain — dan sejak pertama orang sudah

tahu lagu-lagu tersebut jelas tidak cocok untuk jenis suara

Rofiqoh yang lambat dan besar, Agus Sunaryo, yang merekam

kembali lagu-lagunya dengan suara Rofiqoh — sambil tetap

memakai paduan suara Djamain dengan sistim dubbing — sudah

tentu bukan tidak tahu hal itu, kalau saja ia tidak lebih digoda

oleh dorongan komersiil. Tetapi begitulah Lagu-lagu itu, yang

pada Djamain terdengar kompak dan menimbulkan nuansa seperti

melayang, oleh Rofiqoh dibawakan dengan tubuh yang oleng ke sana

kemari. Ekspresi Rofiqoh bukanlah ekspresi orang yang khusyu.

Kalaupun ia sedikit tersenyum di panggung, senyumnya bukanlah

senyum ramah yang sopan dan polos. Dengan singkat ia tak punya

showmanship, "rasa panggung" Dan boleh dipastikan tidak hanya

dia penyanyi gambus yang demikian Mereka tidak pernah muncul di

tempat-tempat begituan. Mereka direkam, atau muncul di Priok

atau di Pasar Ikan Mereka tak pernah dikritik dan ditulis. Dan,

lebih mendasar lagi, sebenarnya cara berpakaian seperti Rofiqoh

dan muslimat-muslimat lain benar-benar bukan cara panggung

Pokoknya Asal Enak

Yang terakhir itu mcmang rada susah. Para penyanyi di

negeri-negeri Arab sendiri misalnya, semuanya memakai rok (apa

you kira Umm Kultsum memakai telekung?) Tapi apabila kain &

kudung harus juga tetap dipakai entah mengapa — haruslah ada

sesuatu upaya yang cukup keras bagaimana agar penampilan tidak

terasa janggal dan agar gerak tidak terasa "kamse", kata

anak-anak pop Lihatlah anak-anak rebana itu Mereka masuk ke

panggung dengan kain, beruntung-runtung. Jalannya sukar,

keserimpet-serimpet sama wiron di kaki mereka. Di tangan

masing-masing sebuah rebana yang bergambar masjid. Kadang-kadang

mereka lempar itu rebana ke atas, untuk menunjukkan bahwa mereka

toh bisa menangkap kembali sambil berlagu — sementara mereka

sendiri kikuk, sebab mereka toh bukan sedang menari. Mereka

bernyanyi — bagaikan band-band pop murahan — sambil saling

melirik dan tersenyum karena sedang ditonton Memang, mereka

harus dikasihi. Tetapi para penonton TIM juga tak faham, mengapa

para pemain band Agus Sunaryo malam itu pakai peci — plus dasi

dan jas, seperti Rudy Hartono kalau mau bertanding di luar

negeri. Bayangkan bila baju surjan Jawa & blangkon dikombinir

dengan vespa — demikian pula bila peci dikombinir dengan

alat-alat band modern. Ini memang bukan soal "kebudayaan Islam"

atau kebudayaan apa, ini hanya soal rasa kepantasan.

Pada akhirnya memang, masalahnya apakah lagu-lagu keagamaan

tradisionil benar-benar mau dibawa ke tengah kancah pop. Kalau

demikian, maka seler pop sudah tentu punya tuntutan-tuntutan

tertentu — sementara mereka bisa menerima "apa saja, entah

Islam entah Osibisa, asal enak" Baik Bimbo atau Agus Sunaryo

sendiri sudah berbulat hati untuk membawakan lagu-lagu agama ke

kuping-kuping gondrong alias pop mereka sendiri, seperti

dikatakan Agus kepada TEMPO atau dikatakan Bimbo kepada Aktuil,

tampaknya tidak peduli apakah orang setuju lagu-lagu itu disebut

kasidah atau tidak "Bahkan kasidah mudah-mudahan bisa juga

dibawakan dengan jazz" Agus bilang Lagi pula, bukankah rasa

:irama Arab:" yang kadang-kadang terasa janggal pada Agus —

terutama untuk lagu-lagu yang dinyanyikan Fenty dan bukan

Djamain — boleh dikatakan tidak begitu dikenal oleh apa yang

dianggap kuping pop? Tentu, untuk bisa lebih akrab dengan

telinga para Santri Agus boleh berbuat lebih susah lagi sedikit

Yang jelas, masalahnya memang bukan ‘kasidah atau bukan’ — tapi

lagu-lagu agama Ini, seperti telah dibuktikan Agus Sunaryo,

merupakan satu usaha yang boleh memperkaya musik pop pribumi

dengan warna-warna maupun bahan-bahan yang selama ini terpendam.

Nilainya sendiri merupakan satu prestasi — meskipun ada ramalan

bahwa Agus, kalau tidak hati-hati, bisa cepat merosot

(penampilannya di TIM misalnya terasa serampangan, di samping

lirik-liriknya yang digubah sendiri sangat miskin) Agus siapa

tahu nanti membutuhkan seorang penyair, seperti halnya Bimbo

yang bekerja sama dengan Taufiq Ismail

Akan halnya Bimbo sendiri, jenis kasidahnya tidak kalah mutunya

dari Agus Sunaryo — meskipun tidak terlalu mengejutkan karena

memang berbahasa Indonesia. Ini adalah jenis musik yang tinggi

dan makin banyak didengar makin sedap — sementara kasidah Agus

(Djamain) merupakan jenis yang lebih pop dan enak — jadi ya

tinggi juga. Lirik-lirik kaidah Bimbo, setidak-tidaknya yang

dikerjakan Taufiq, dalam pada itu merupakan sumbangan yang

sangat berarti bagi musik pop Indonesia — meskipun bukan baru

kali ini lirik Bimbo bagus, sebagaimana juga Koes Plus atau Iwan

A Rahman dan sebangsanya. Salah-satu lirik Taufiq, untuk kasidah

Rindu Kami Padamu, berbunyi:

*

Rindu kami padamu ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya Rasul
Serasa dikau di sini

*

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Tempo Edisi. 37/IV/16 – 22 November 1974 & mellowtone




10 thoughts on “Kasidah-tapi lidahnya indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s