journal / leo kristi / post

Leo Kristi, Seniman Surabaya yang Datang dan Pergi

Bagi yang hidup di era 70-80-an, nama Leo Kristi begitu dikenal. Lagunya yang puitis tapi merakyat punya penggemarnya sendiri. Begitu khasnya dia, sehingga yang tak menggemarinya tak bakal mudeng musik Leo Kristi.

LEO KRISTI memang tak mudah ditemukan. Pria kelahiran Surabaya tersebut mengakui keberadaannya yang ”tak pasti” tersebut. ”Dari dulu datang dan pergi,” kata bapak dua anak tersebut.

Kebiasaannya ngilang itu sudah terjadi saat dia SMA. Terlebih, saat kuliah, Leo diberi kebebasan orang tuanya untuk jalan ke mana saja. ”Sepanjang saya berguna,” ujar Leo. Karena itu, R Ng Imam Subiantoro dan RA Roekmini Idajati, kedua orang tua Leo, sama sekali tak keberatan pada pilihan hidup puteranya. Dan memang, Leo yang kuliah di teknik arsitektur Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) akhirnya memilih mengarsiteki musik. Dia mengaku malas kuliah, lebih senang keluyuran.

Menurut Leo, ketika kuliah dia tak punya kebebasan berekspresi Memanjangkan rambut saja tidak bisa. "Waktu itu, dekannya ayahnya Maia (Maia Estianti, Red), Haryono Sigit. Beliau selalu mencari-cari mahasiswa yang rambutnya gondrong," ungkap Leo. Yang ketahuan gondrong pasti dihukum. Padahal, ketika itu Leo begitu menggandrungi rambut panjang. Sampai kini, rambut pria 60 tahun tersebut pun tetap panjang. Sebahu.

Karena faktor itu, Leo memilih tak melanjutkan kuliah yang sudah dijalaninya empat tahun. Dia memilih musik. Pilihannya ternyata tidak salah. Di situlah Leo menemukan jati dirinya. Di bidang itu pula, kebebasannya berekspresi dia umbar.

"Sejak SD kelas enam saya senang musik," ungkap dia. Bahkan, Leo sering mencuri waktu tidur siang untuk pergi bernyanyi bersama para pengamen dan gelandangan di belakang rumahnya. Dengan berbekal ukulele (gitar kecil) dan bass dari kotak sabun, Leo bernyanyi bersama mereka dengan gembira.

Sifat kerakyatan itu dipupuk sejak kecil itu lantas dituangkan dalam berbagai lagu karyanya. Karena itu, lagu-lagunya pun sarat kisah rakyat yang puitis dan semangat patriotis. Tetap, Leo bisa meracik semua itu dengan nada-nada yang gembira.

Untuk menciptakan lagu semacam itu, Leo kerap keluyuran. ”Asyik. Dulu senang keluyuran minum es gronjong bareng teman,” katanya.

Bagi Leo, keluyuran adalah sarana mencari inspirasi lagu. Sebab, banyak yang bisa ditemukan di jalanan. "Karena itu, saya selama ini tidak menetap di mana-mana. Ada di jalanan," katanya.

Leo pun jarang bisa ditemui di Surabaya. Kadang dia di Jakarta, Jogjakarta, Bali, hingga ke jalanan Kuala Lumpur, Singapura, Bangkok, Pattaya, Mumbai, Baghdad, Babilonia, Jeddah, Makkah, Madinah, terus ke Athena, dan pulau Corfu (Yunani).

" 17 Agustus 2009 saya juga masih konser di TIM (Taman Ismail Marzuki, Red)," ungkap dia. Leo memang tak pernah absen pentas saat hari kemerdekaan. Konser Rakyat Leo Kristi, nama grupnya, selalu diminta membawakan lagu patriotik, heroik, dan kisah-kisah rakyat pinggiran. "Dari dulu saya tertarik dengan kehidupan nelayan dan petani," katanya.


Ingin Buat Buku Berkualitas

BEGITU banyak orang yang ingin menampilkan Leo Kristi dalam buku. Terutama untuk kisah-kisah hidupnya sebagai musisi jalanan. Tapi, dari begitu banyak tawaran yang masuk, belum ada yang dia terima.

Sebab, Leo tak ingin membuat buku biasa-biasa saja. ”Bukan buku kacangan,” ucapnya. Dia tidak ingin membuat buku yang tipis-tipis asal laku. Dia ingin menyajikan buku secara lengkap dengan format seperti buku-buku seni rupa di Bali atau Jogjakarta. Yang benar-benar bagus. Tidak hanya isinya, tapi juga sampul yang menarik minat pembaca. "Untuk membuat buku, saya lebih memikirkan pada pertimbangan apakah buku yang dibuat itu penting untuk rakyat atau tidak?" kata dia.

Karena itu, Leo tidak mau begitu saja menyambar tawaran pembuatan buku. "Saya ingin membuat buku yang bisa ajarkan banyak hal," ungkapnya. Mulai format buku hingga–terutama–isinya harus ada filosofinya. "Filosofi pemikiran saya yang banyak dimasukkan dalam lagu-lagu yang saya buat akan menjadi isi buku," ungkap dia.

Dengan demikian, lanjutnya, orang akan lebih paham akan lirik lagu yang dia buat. Buku itu akan bisa membantu kata-kata kreatif yang banyak bertebaran dalam lagu-lagu Leo.

Menurut Leo banyak kata-kata baru yang diciptakannya dalam lagu. "Saya harap bangsa kita memiliki bahasa-bahasa khusus," ucap dia.

Kristi yang Keris Sakti

Kebebasan begitu identik dengan Leo Kristi. Karena kebebasan itu pula, dia senang berada di jalanan. Sebab, di jalan dia bisa melakukan apa saja. Tidak ada yang mampu mengekang keinginannya.

Saat tidak ingin berada di jalanan, pria 60 tahun itu tidak menolak kegiatan lain yang masih berbau petualangan. Seperti memancing. "Kalau memancing ya saat berada di Surabaya saja," ungkap dia. Bapak dua anak itu sangat menikmati saat-saat mancing itu. Bahkan, dia mengaku tertarik dengan kehidupan nelayan dan petani. Kehidupan mereka, kata Leo, unik dan penuh suka-duka. Gara-gara ketertarikan itu pula Leo juga membuat lagu yang terinspirasi dari kehidupan nelayan dan petani. Di antaranya, Lenggang Lenggong Badai Lautku dan Gulagalugu Suara Nelayan.

Meski senang kebebasan, sebagai orang tua Leo juga bersikap demokratis pada kedua buah hatinya. Dia tidak pernah memaksa mereka mengikuti jejaknya menjadi penyanyi. Bahkan, pria kelahiran Surabaya itu juga tidak mengharuskan anak-anaknya untuk menjadi seorang seniman. Sebab, Leo kecil juga diberi kebebasan oleh orang tuanya. Bahkan, ketika tahu dia memiliki bakat musik, ayahnya malah menghadiahi sebuah gitar yang diberi nama Keris Sakti. Nama itu lantas dia singkat menjadi Kristi dan menjadi nama belakangnya.

"Waktu SMP saya juga diizinkan sekolah musik rakyat pada Tino Kerdijk, Direktur Sekolah Musik Rakyat di Surabaya," ungkap pria yang selalu tampil dengan ciri khas hitam dan merah tersebut. Di tempat itu, Leo belajar bermain musik piano, gitar, terompet juga biola.

Menghilang Tapi Tetap Awet Muda

MESKI berusia 60 tahun, Leo Kristi tidak ketinggalan zaman. Pria kelahiran Surabaya itu masih berani menggunakan kaus ketat yang memperlihatkan bentuk tubuh kekarnya. Otot-otot yang masih kencang terlihat jelas dengan pakaian yang dikenakan. Ditemui beberapa minggu lalu, bapak dua anak itu bergaya seperti anak muda.

Selain kaus ketat berwarna hitam, dia juga suka mengenakan celana jeans. Topi membuat penampilannya tambah trendi. Kacamata sedikit gelap juga dia gunakan untuk menyempurnakan penampilan. Tidak lupa, aksesori berupa gelang ditampilkan pada pergelangan tangan kanannya. Ketika melakukan aktivitas kegemarannya, bersepeda tiap pagi, Leo pun sering berpenampilan masa kini.

Dilihat sekilas, Leo lebih muda dari usianya. Dia kini juga lebih segar dibanding masa dahulu kala. Ketika dia masih sering tampil di panggung badannya terlihat kurus. Rambutnya pun panjang. Karena itulah, terkesan kurang rapi. Tapi sekarang, dia lebih rapi, karena rambutnya lebih pendek dan ditata dengan seksama. "Punya rambut benar-benar pendek hanya pada waktu Ospek mahasiswa saja. Dua kali, waktu di Petra dan ITS," ungkap dia.

Siap Telurkan Album Anyar

BANYAK orang yang berpikir bahwa Leo Kristi sudah ”hilang”. Tapi, sejatinya Leo tak lenyap dalam jagat musik Indonesia. Dia hanya datang dan pergi. Tahun ini, bapak dua anak itu meluncurkan album anyar. Jadwalnya dipaskan dengan bulan ulang tahunnya, Agustus.

”Sebenarnya dua album yang siap. Tapi, yang diluncurkan satu itu,” katanya. Isi album anyar itu sepuluh lagu. Semuanya karya Leo Kristi. Tentu, isinya tidak meninggalkan napas kerakyatan dan jiwa kepahlawanan. Album anyar tersebut rencananya diberi judul Puisi Gelap. Sebab, yang diceritakan memang hal-hal gelap di balik kehidupan masyarakat saat ini.

Album itu, kata Leo, keluar melalui proses yang tidak mudah. Terlebih, saat ini banyak norma kehidupan yang sudah dilanggar. ”Bayangkan, bagaimana rumitnya merampungkan masalah korupsi,” ungkapnya.

Bapak dua anak itu mengaku sulit menyelesaikan konsep lagu demi mempertahankan ciri khas yang kuat. Yakni, kata-kata puitis dan teknik musik yang kontemporer. Ciri itulah yang terkadang membuat lagu Leo tak mudah dicerna. ”Butuh waktu berpikir untuk memahami liriknya,” ujar pria gondrong tersebut.

Leo pun sadar bahwa banyak yang menganggapnya seniman kurang produktif. Sebab, album terakhirnya lahir pada 1995. Tentu, Leo tak sependapat pada anggapan tersebut. Sebab, produktivitas bukan ukuran orang yang berkiprah pada jalurnya. Apalagi, Leo tetap konsisten menyuarakan hati rakyat dengan tidak mengutamakan materi semata. "Untuk apa menciptakan lagu yang bisa diciptakan grup lain?" ungkap dia. "Saya ingin memberi hal lain yang penting bagi kehidupan. Dari generasi ke generasi," sambungnya.

Karena itulah, lagu yang dia buat tidak bisa selesai sangat cepat. Perlu pemilihan kata yang memiliki makna. Tidak sekadar kata yang mudah dicerna dan diingat sebentar saja. "Tapi, kalau lagi bersemangat, membuat lagu bisa cepat sekali," ungkap dia.

Orang Jalanan yang Lebih Suka Bermotor di Jalan

Leo Kristi ”menahbiskan” dirinya sebagai orang jalanan. Konsekuensinya, dia pun banyak menghabiskan waktu di jalan. Dalam berbagai perjalanannya yang jauh, pria 60 tahun itu lebih memilih menunggang motor.



BAGI Leo Kristi, motor lebih fleksibel. Kalau ada yang ingin dilihatnya secara lebih detail, dia tinggal menyetop motor. Kalau ingin sampai ke sebuah tempat secara lebih cepat, Leo juga pakai roda dua.

Di rumahnya, Leo punya tiga Vespa. Skuter dari Italia itu memang digemarinya. Bentuknya unik. Inspiratif.

”Saya pernah naik Vespa dari Bali ke Jogjakarta,” katanya. Itu dia lakukan saat mantan presiden Soeharto dimakamkan. Ketika itu, Leo sedang di Bali. Dia sedang membeli Vespa unik. Saat mendengar bahwa Soeharto meninggal, Leo dan temannya segera pergi ke Karanganyar, ke pemakaman penguasa Orde Baru tersebut.

Dia ingin melihat reaksi rakyat pada mangkatnya Soeharto. Karena itu, demi mewujudkan keinginannya tersebut, Leo nekat naik Vespa yang baru dibelinya itu. Padahal, aksesorinya masih belum lengkap. ”Tidak ada lampunya,” kata Leo.

Leo menyebut dirinya kontemplatif. Keinginan yang timbul dalam dirinya selalu sulit dicegah. Karena itu, Leo tak gentar menempuh perjalanan mengarungi separo pulau Jawa tersebut. Hanya ada satu tempat yang tak bakal dia lewati kalau berkendara tanpa lampu. Yaitu, perbatasan Ngawi-Sragen, tepatnya di kawasan hutan Widodaeren. Di situlah Sophan Sophiaan, aktor kawakan, tewas saat konvoi Jalur Merah Putih dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional, Mei 2008. ”Saya tahu tempat itu. Siang saja sudah seperti itu. Apalagi malam,” ucapnya. Karena itu, saat melintas di hutan ”angker” tersebut, Leo memilih waktu siang hari.

Sepanjang jalan, Leo benar-benar mengamati reaksi masyarakat terhadap meninggalnya Soeharto. Menurut Leo, Soeharto benar-benar tinggal di hati sebagian masyarakat Indonesia. Buktinya, sepanjang jalan, dia melihat warga yang melambai-lambai pada iring-iringan mobil jenazah. Juga ada satu-dua orang yang menitikkan air mata.

”Setelah itu, kami ke Jogjakarta. Ya naik Vespa itu,’ ujarnya. Semalam menginap di Kota Gudeg tersebut, Leo dan kawannya lantas kembali ke Surabaya. Juga naik Vespa. ”Enak,” ujar Leo.

Karena merasa bahwa motor sudah pas dengan jiwanya, Leo jarang bepergian dengan mobil. Dia tak bisa duduk manis di dalam kendaraan. Paling tidak, saat bepergian naik mobil, Leo memilih menyetir sendiri.

Sumber : Jawa Pos ,7 Feb 2010

18 thoughts on “Leo Kristi, Seniman Surabaya yang Datang dan Pergi

  1. sepunten said: stuju ma Agam, hamoninya subyektif :))

    Aku nduwe 10 CD albumnya ada coret2an dan tanda tangan sang Maestro. Sempat nonton konsernya "Seabad Kebangkitan Indonesia" di TIM Jakarta 20 Mei 2008. Pada 17 Agustus 2009 juga konser di TIM "Senandung Bara Hati, Dirgahayu Ibu Negeri"

  2. sepunten said: stuju ma Agam, hamoninya subyektif :))

    Mbak Wie nang Suroboyo to?
    Coba contact Pak Leo Kristi: 0818503380
    Atau Mbak Fierda (asisten): 081931617913
    Saya juga punya VCD performance
    Puisi Gelap saat LK pentas di TIM 2005 (pamer.com) hehehe…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s