nidya sisters / photos / post

Nidya Sisters, dari Randu Blatung Menjelajah Eropa

Oleh : Asriat Ginting/KPMI

Gedung National Theatre Singapore, 1972. Para penonton dihentak oleh lagu rock and roll Banjo Band dan Keep on Searching yang dinyanyikan tiga dara asal Solo, yang malam itu mendampingi show dari trio legendaris The Bee Gees. Semua yang hadir seolah terhanyut dalam irama riang yang mengiringi lagu-lagu yang dilantunkan tiga dara tersebut.

Siapa gerangan tiga dara yang memukau penonton itu? Mereka adalah Nidya Sisters, yang terdiri dari tiga bersaudara Srie Nurdewati Kandiningsih, yang akrab dipanggil Nuning, bersama dua adiknya: Dyah Restuwati Kandiningsih (Diddy/Didit), dan Nahdi Rahayu Hari Setyo Kandiningsih (Yayuk).

Bermula di tahun 1960. Nuning dan Didit kecil (yang waktu itu masih berusia 6 tahun), seringkali bernyanyi bersama pada saat-saat senggang. Sang ibu, yang melihat bakat putri-putrinya ini lalu mulai mengajari dan melatih mereka bagaimana membagi vokal. Selain itu, beliau juga mulai mengajak Nuning dan Didit kecil untuk menyanyi di berbagai acara.

Pada 1967, Nuning dan Didit membentuk grup duet bernama Ning & Diek. Dalam waktu yang singkat, dua tahun, mereka berhasil meraih popularitas yang cukup lumayan di Jawa Tengah, terutama di kota Solo, Yogyakarta, Semarang, dan sekitarnya. Termasuk bermain satu panggung dengan Pattie Bersaudara yang sudah lebih dulu terkenal. Namun, semua itu mereka raih melalui kerja keras. Bernyanyi di berbagai tempat, termasuk daerah-daerah di pelosok Jawa Tengah seperti daerah lainnya : Rembang, Demak, Pati dan lainnya mereka jalani dengan sepenuh hati.

”Sewaktu masih bernama Ning & Diek dulu, kami sering diminta menghibur masyarakat di pelosok yang jarang memperoleh hiburan,” kenang Nuning, si sulung dari trio Nidya Sisters. ”Setahun dua kali kami pentas dalam rangka pesta giling tebu di pabrik-pabrik gula atau pesta panen raya. Saya ingat, salah satu daerah pelosok di Jawa Tengah yang kami datangi namanya desa Randu Blatung. Waah., kesananya saja naik kereta klutuk (kereta uap). Sampai di sana wajah dan hidung kami hitam karena asap. He..he..he,” lanjutnya sambil terkekeh mengenang masa-masa tersebut.

Pada Agustus 1969, Nuning dan Didit mengajak adik mereka, Yayuk, untuk bergabung membentuk trio. Dan, terbentuklah Nidya Sisters (nama Nidya adalah akronim dari Nuning, Didit dan Yayuk. Nuning dan adik-adiknya mengambil keputusan untuk bertrio, karena saat itu sudah ada grup duet yang lain. Prinsipnya, mereka ingin membuat sesuatu yang berbeda. Nidya Sisters juga mulai merajut mimpi dan bercita-cita keliling dunia, tampil sepanggung bersama grup-grup dan penyanyi internasional, terutama The Bee Gees yang menjadi idola mereka.

Pada awal karier Nidya Sisters, mereka sempat mendapat bimbingan dari seorang pemuda asal Irian bernama Agustinus, juga memperoleh masukan-masukan dari George Hardy, pemain piano sekaligus pimpinan dari Home Big Band di LCC Club. Berkat bimbingan ditambah kerja keras Nidya Sisters melakukan show ke berbagai daerah di Indonesia, pada 1970 akhirnya mereka memperoleh kesempatan manggung di luar negeri untuk pertama kalinya, yaitu di Malaysia dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan negara tersebut. Tahun 1971, kembali mereka diundang untuk memeriahkan acara yang sama.

Menjadi kenyataan

Tahun 1972, boleh dibilang adalah awal dari masa keemasan Nidya Sisters. Mereka dua kali diundang ke Singapore untuk tampil, di antaranya bersama Mungo Jerry, Edison Lighthouse, Middle of The Road dan The Bee Gees. Konser bersama The Bee Gees ini konon sangat sukses. Tiket habis terjual sebelum pertunjukan. Bahkan, harian Bernhard Malaysia mengabadikan foto Nidya Sisters bersama The Bee Gees khusus untuk mereka.

Dunia rekaman pun mulai dijajal oleh trio ini. Hasilnya adalah rekaman pertama mereka Rock and Roll Banjo Band yang dirilis oleh Libra Records, Singapore. Setelah itu, di bawah manager Ben Lemman dan Jimmy Lee dari Quill International Production, Nidya Sisters meneruskan tur Asia mereka ke Malaysia, Bangkok, Filipina, dan Hong Kong.

Sepak terjang Nidya Sisters di Asia rupanya menarik perhatian Safir Music Production, salah satu anak perusahaan raksasa CBS dan juga sebuah agensi besar di Swedia. Tanpa pikir panjang, mereka segera mengontrak Nidya Sisters untuk melakukan tur keliling ke-25 kota di Swedia pada Juli sampai September 1974. Antara lain ke Stockholm, Hjortagen/Mariefred, Malmo, Ostersund, Furuvik, Lidingo, Soderhamn, dan Bladinge. Juga beberapa kota di Denmark. Tur keliling Swedia ini termasuk sukses besar, terutama di Soderhamn yang ditonton 10.000 orang, juga di Skelleftealven dan Tornio yang disaksikan oleh 8.000 orang.

Tingginya minat penonton membuat harga tiket pertunjukan Nidya Sisters melonjak menjadi 15-24 crown, di mana tiket untuk show serupa biasanya hanya 10 crown. Tur keliling ini adalah show tunggal yang hanya menampilkan Nidya Sisters dengan iringan Marcus Osterdahls Orkester dan Henning Hendrix Orkester. Di sela-sela padatnya jadwal show, mereka masih sempat rekaman untuk kedua kalinya, yaitu singel Keep on Searching/ Burung Kakaktua (di bawah label CBS Stockholm Swedia) yang mendapat sambutan lumayan.

Satu hal lagi yang paling berkesan bagi Nidya Sisters selama tur di Swedia adalah diundangnya mereka oleh UNICEF untuk menyanyi dalam pengumpulan dana untuk anak-anak cacat sedunia. Awalnya hanya 10 negara yang diundang dalam acara tersebut. Namun, dengan kehadiran Nidya Sisters, bendera Indonesia pun akhirnya menjadi bendera ke-11 yang dikibarkan dalam acara pengumpulan dana itu dan dipancangkan ditengah-tengah. Karena berpartisipasi dalam acara inilah, mereka berkenalan dengan Pangeran Karl Gustaf (sebelum dinobatkan menjadi Raja Swedia) dan tampil sepanggung bersama ABBA yang juga mengisi acara yang sama.

Selesai tur di Swedia dan Denmark, Nidya Sisters kembali ke Tanah Air. Tak lama setelah tiba, mereka mendapat tawaran untuk rekaman di bawah label Irama Tara. Awalnya Nidya Sisters segan menerima tawaran tersebut.

”Soalnya kami tahu, lagu-lagu rilisan Irama Tara biasanya ngepop banget dan tidak sesuai dengan musik yang dimaui Nidya Sisters,” alasan Nuning. Namun atas anjuran sang ibu yang menginginkan Nidya Sisters memiliki kenang-kenangan berupa album rekaman di Tanah Air, maka mereka pun menandatangani kontrak tiga album sekaligus dengan Irama Tara, dengan Sjafii Glimboh sebagai penata musiknya.

Seperti dugaan Nidya Sisters, rekaman tersebut tidak sesuai dengan keinginan mereka. Lagu-lagunya sebagian besar adalah lagu pop standar, plus beberapa lagu saduran, di antaranya Homburg dari Procol Harum yang teksnya diganti dengan bahasa Indonesia.

Kembali ke Eropa

Pada Juni, Juli, Agustus 1975, Nidya Sisters kembali melakukan tur 18 kota di Swedia, termasuk kota-kota Umea, Pitea, Lulea yang letaknya di perbatasan Norwegia. Setelah selesai, mereka terbang ke London untuk show di sebuah klub elite bernama Aphrodite Club, juga melakukan serangkaian show di delapan kota di Inggris, menjadi pendamping duo yang saat itu sedang ngetop, yaitu Mac & Katie Kissoon.

Selamat datang ceria

Tahun 1979, Nidya Sisters kembali mencoba rekaman di Tanah Air. Kali ini label yang mengontrak mereka adalah JC Records, yang kelak juga memproduksi album masterpiece God Bless, Cermin. Mengambil pengalaman rekaman yang lalu, kali ini Nidya Sisters bertindak hati-hati dalam menyeleksi lagu dan memilih band pengiring mereka. James F Sundah dan Willy Sumantri digaet untuk menyumbangkan karya mereka. Nuning sendiri ikut menyumbangkan sebuah lagu ciptaannya, hasil kolaborasi dengan Boedie Indera.

Untuk band pengiring, Nidya Sisters menggaet musisi-musisi andal, di antaranya Willy Sumantri (gitar), Herry K (drum), Harry Anggoman (keyboard), Aldin Sumaryo (bass), berikut sang kakak, Lulu Sumaryo pada saxophone dan flute. Lulu Sumaryo (kelak menjadi suami Nuning), adalah musisi kaya pengalaman yang sebelumnya pernah bermain di grup Quarta Nada juga pernah bergabung dalam band Gypsy dan ikut bersama mereka ke Amerika Serikat. Selain bermain saxophone dan flute, Lulu juga ikut menyumbang lagu untuk album Nidya Sisters ini.

Dengan dukungan musisi andal dan pilihan lagu yang sesuai selera Nidya Sisters, Selamat Datang Ceria yang dirilis tahun 1979 memang sangat berbeda dengan ketiga album sebelumnya. Sederetan lagu-lagu indah, baik dalam irama hustle, rock and roll maupun pop jazz mereka hadirkan dalam album ini, menjadikan Selamat Datang Ceria sebagai album masterpiece dari Nidya Sisters.

DISKOGRAFI

1.Rock’n Roll Banyo Band (Libra Records Singapore) 1972

2.Keep On Searchin/Burung Kakak Tua (CBS Stockholm Swedia) 1974

3.Nidya Sisters vol 1 ( Irama Tara ) 1974

4.Nidya Sisters vol 2 ( Irama Tara ) 1974

5.Nidya Sisters vol 3 ( Irama Tara ) 1974

6.Happy Song (Safir Music Product UK ) 1975

7.Selamat Datang Ceria (JC Record ) 1979

Sumber : Republika

4 thoughts on “Nidya Sisters, dari Randu Blatung Menjelajah Eropa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s