d'lloyd / photos / post

Akar Melayu, Kian Jauh

THEODORE KS

Ketika Iyeth Bustami populer lewat lagu dangdut rasa melayu, Laksmana Raja di Laut, dan kemudian mendapat gelar Penyanyi Dangdut Terbaik Anugerah Dangdut Televisi Pendidikan Indonesia 2003, tiba-tiba kita merasa dekat dengan akar melayu. Musik melayu memang melekat dalam musik kita sejak dulu.

Grup musik tahun 1950-an yang membawakan lagu berirama melayu, untuk menguatkan identitasnya menggunakan sebutan OM (orkes melayu); OM Bukit Siguntang, OM Sinar Medan, OM Sinar Kumala, OM Kenangan, OM Irama Agung, OM Pancaran Muda, OM Sinar Kemala, OM Kelana Ria, dan OM Purnama.

Ini berlanjut hingga OM Soneta-nya Rhoma Irama sebelum menjadi Soneta Group. Sedangkan grup musik parodi mahasiswa Universitas Indonesia pada akhir tahun 1970-an, Pancaran Sinar Petromak, juga menggunakan embel-embel OM, meskipun maksudnya Orkes Madun.

Populernya lagu-lagu Keagungan Tuhan, Dunia, Fatwa Pujangga, Seroja, Di Ambang Sore, Termenung, Beban Asmara, dan yang lainnya menginspirasi perancang acara musik TVRI, Hamid Gruno, membuat acara musik melayu. Dia mengajak pemimpin grup D’Lloyd, Bartje van Houten, mengunjungi tempat hiburan malam paling kondang waktu itu, Planet Senen, yang berlokasi di atas rel dan di antara gerbong-gerbong kereta api Stasiun Senen.

Yang mereka saksikan waktu itu adalah lagu-lagu seperti Cinta Hampa ciptaan A Chalik atau Engkau Laksana Bulan yang dipopulerkan Azizah, atau lagu-lagu P Ramlee dengan musik berirama melayu. Disajikan oleh sebuah orkes yang sangat sederhana tapi memikat, serta mengundang pengunjung ikut berjoget.

Dari pengalaman itu Gruno pun meminta Bartje mengisi acara musik melayu di TVRI dengan lagu-lagu Hidup dalam Penjara, Bunga Nirwana, Jangan Mengharap, Oilu, Bulan Purnama, Aiga, Khayal dan Penyair, Curi-Curi, dan Diam-Diam Jatuh Cinta dengan penyanyi Nanang Kosim, Nana Diana, serta Syam, penyanyi andalan D’Lloyd. Gara-gara acara ini, Hidup dalam Penjara dilarang pemerintah Orde Baru, judul dan liriknya diubah beberapa kali, Hidup di Penjara Zaman Jepang sampai akhirnya menjadi Hidup dalam Bui seperti yang dikenal sekarang.

Lagu-lagu dalam acara itu, dengan sebutan pop melayu, kemudian diedarkan Eugene Timothy dari perusahaan rekaman Remaco dalam bentuk kaset yang sangat laris. Grup-grup lain seperti Panbers, Mercy’s, Favoriet, dan Koes Plus juga dikerahkan Remaco untuk menghasilkan lagu sejenis. Tidak heran jika pada pertengahan tahun 1970-an pop melayu menjadi tren dan terasa begitu dekat sebagaimana 30 tahun kemudian ketika Laksmana Raja di Laut populer.

D’Lloyd

Dalam rentang waktu 30 tahun itu, yang terus dekat dengan melayu adalah Bartje van Houten dan grup D’Lloyd-nya. Setelah berhasil dengan acara televisi bersama Hamid Gruno, D’Lloyd yang nyaris dilupakan di negeri sendiri ternyata sering diundang tampil di televisi dan panggung musik Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Sedemikian populernya Bartje dan kawan-kawan, sampai diberi penghargaan D’Lloyd 25 Golden Years dari perusahaan rekaman Gong Klasik Sdn Bhd, Malaysia, tahun 1995. Lagu-lagunya yang populer terus meningkatkan penjualan CD D’Lloyd dari tahun ke tahun di negeri-negeri jiran itu. Inilah alasan Live Records Singapura memberi penghargaan sebagai Grup Legendaris Terlaris Sepanjang Masa kepada D’Lloyd juga pada tahun 2005.

Di negeri sendiri, karya Bartje diproduksi Hardy Suryabakti dari Bravo Musik. Di samping mengedarkan lagu-lagu pop melayu D’Lloyd, Panbers, Mercys, dan Koes Plus, Bravo Musik juga merekam kembali lagu-lagu seperti Cinta Sekejap ciptaan Suheimi, Tandak Sambas (NN), Tudung Periuk (NN), dan Dunia (Suheimi) lewat suara Eddy Silitonga.

Melayu selalu berada di sekitar kita. Grup-grup dari Malaysia, Search, Slam, Iklim, Spoon, hingga penyanyi Sheila Madjid dan Siti Nurhaliza membawa rasa melayu dalam lagu-lagu mereka yang ternyata cukup kita sukai. Mau diakui atau tidak, Cindai-nya Siti Nurhaliza mengilhami lahirnya Laksmana Raja di Laut.

Sekitar 500 penonton di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, ikut menembangkan lagu melayu Lancang Kuning dan lagu Nonton Bioskop yang pernah dipopulerkan Bing Slamet dan Benyamin bersama Band Sagu.

Grup asal Riau ini memang mengombinasikan musik modern dengan akar budaya melayu. Mereka tampil sekitar satu jam membawakan 9 lagu.

Rock rasa melayu

Grup rock Jamrud juga tidak mau ketinggalan. Dalam album BO 18+, mereka tetap bermusik rock tetapi dengan sentuhan melayu. Jadi, boleh dikatakan dalam album ini Jamrud ber-rock n’ roll melayu.

Meskipun mengakui lebih susah menyanyikannya, vokalis Jamrud, Krisyanto, merasa senang bisa belajar nge-rock ala melayu, akar musik negerinya sendiri. Sayangnya, usaha ini tidak dilanjutkan dalam album berikutnya, All Access in Love.

Dari Depok muncul grup Rawilvin Band yang mengaku sangat terpengaruh oleh warna melayu dan memasukkannya sebagai kekuatan musik rock, blues, dan ska lagu-lagu mereka: Sepenuh Hati, Cinta Tak Pasti, Lagu Untukmu, Milikilah Cintaku, dan Sena.

Sebagai band panggung, kelompok musik yang terbentuk di Depok, Bogor, pada 14 November 2004 ini sudah tampil di Jakarta, Anyer, Pandeglang, dan Serang. Untuk menyosialisasikan lagu-lagu rock melayu mereka, Rawilvin melakukan rangkaian pergelaran di 36 kota di Jawa dan Bali tahun 2005.

Dengan jazz rasa melayunya, grup jazz asal Riau, Geliga, memeragakan kebolehannya di Taman Ismail Marzuki. Geliga hadir di belantika musik jazz Tanah Air dengan konsep yang bisa dikatakan baru. Grup ini pernah tampil di Festival Zapin Melayu, Festival Budaya Melayu, The World Malay Arts Celebration, hingga kolaborasi dengan pianis Idang Rasidi.

Tetapi, semua itu ternyata belum cukup. Akar melayu justru terasa semakin jauh. Sementara tiga Diva (Ruth Sahanaya, Krisdayanti, Titi DJ) berkonser keliling Jawa atau penyanyi lainnya tampil di Jakarta Convention Center; Siti Nurhaliza membawakan lagu-lagu rasa melayu diiringi tarian melayu dalam konser tunggalnya di tempat pertunjukan yang masih menjadi cita-cita penyanyi kita, Royal Albert Hall, London, April 2006. Saat ini, Seroja, ciptaan Husein Bawafie, sedang digemari di Malaysia.

Theodore KS Penulis Masalah Industri Musik / mellowtone

5 thoughts on “Akar Melayu, Kian Jauh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s