journal / koes plus / post

Koes Plus, Group Musik yang Plus di Zamannya

Senin, 11 September 2006

Oleh Wasis Susilo/KPMI







Papan iklan obat demam APC-Plus yang populer di akhir tahun 60-an menginspirasi nama sebuah group musik yang sangat populer hingga akhir tahun 1970-an. Pada tahun 1968 Koes Plus muncul karena group musik Koes Bersaudara yang beranggotakan Tonny Koeswoyo, Nomo Koeswoyo, Yon Koeswoyo, dan Yok Koeswoyo ditinggal salah satu personelnya. Nomo Koeswoyo, posisi drum, memilih menekuni bisnis dibanding musik. Kemudian Tonny mencari penggantinya dengan mengaudisi beberapa pemain drum antara lain Fuad Hasan (kemudian menjadi pemain drum God Bless), Eddy Tulis, dan Murry.

Tonny memilih Murry yang sebelumnya dikenal sebagai pemukul drum group musik Patas dan Zaenal Combo untuk memperkuat Koes Plus. Pergantian pemukul drum bagi suatu group memberi perubahan warna pada group musik itu. Warna musik Koes Plus menjadi lebih dinamis.

Namun, ternyata tidak mudah diterima masyarakat yang sudah terlanjur mencintai Koes Bersaudara. Keadaan ini menyebabkan lagu lagu Dheg Dheg Plas, Kelelawar, Manis dan Sayang pada piringan hitam Koes Plus volume 1 tidak disambut baik oleh masyarakat luas. Koes Plus tidak jera menciptakan lagu-lagu untuk volume 2 dan 3. Piringan piringan hitam tersebut antara lain berisi lagu Cintamu Telah Berlalu yang syairnya banyak dipuji para sastrawan. Lagu Derita yang menyusupkan warna musik lokal Jawa yang dikenal gerongan. Kemudian terdapat lagu Jangan Selalu Marah yang dinyanyikan dengan cara berguman seperti membawakan lagu rap di zaman kini. Terdapat pula lagu Kasih Sayang yang aransemennya semi klasik.

Lagu-lagu Koes Plus tetap tidak laku di pasaran hingga tanggal 7 November 1970. Pada tanggal itulah Koes Plus menjadi salah satu peserta Jambore Group Musik IMK di Istora Senayan. Ketika peserta lain membawakan lagu lagu asing milik Led Zepelin dan Deep Purple, Koes Plus malah menyumbangkan lagu Manis dan Sayang dan Derita, ternyata di luar dugaan sambutan penonton dan pers sangat menggembirakan. Sehingga nama mereka terpampang di hampir semua media massa.

Piringan piringan hitam Koes Plus yang tadinya menumpuk di gudang perekam dan toko toko piringan hitam, mulai diburu penggemar. Perekaman volume merekapun dilanjutkan, penciptaan lagu-lagunya tidak hanya dimonopoli oleh Tonny saja, Yon dan Yok kebagian juga menyumbangkan beberapa lagu, bahkan Murry pun diwajibkan mencipta lagu dan menyanyi meskipun suaranya agak fals.

Sejak itu muncullah lagu lagu populer Kembali ke Jakarta, dan lagu Kisah Sedih di Hari Minggu yang reffnya terdapat potongan nada bernuansa jazz. Lagu Why do You Love Me yang terkenal hingga ke Malaysia, Singapura, dan daratan Australia.

Koes Plus tidak hanya meramu warna musik musisi luar semacam CCR, The Beatles, dan The Bee Gees, saja serta musik yang tren pada saat itu, tetapi juga menyenyawakan warna musik lokal pada aransemen beberapa lagunya seperti sentuhan beat keroncong pada Lagu Kroncong Pertemuan dan musik etnis topeng Bekasi pada lagu Mari Mari. Kepopuleran Koes Plus diikuti pula meningkatnya pentas-pentas mereka ke segala penjuru tanah air.

Di tengah hingar bingar group musik yang bangga menyanyikan lagu berbahasa asing milik musisi luar. Koes Plus pun merekam lagu berbahasa asing, namun ciptaan sendiri. Seperti umumnya group musik terkenal lainnya, Koes Plus pun pernah menjadi musisi pembuka pada saat Diamond dan Hienche Simon tampil. Pada kesempatan berikutnya tawaran senada ditolak dengan alasan honor yang diterima jauh lebih kecil daripada honor musisi asing, sehingga Tonny berpendapat pembedaan jumlah honor adalah tanda rendahnya apresiasi penyelenggara dan merupakan satu bentuk pelecehan terhadap musisi dalam negeri.

Tawaran Remaco


Kontrak rekaman Koes Plus di Studio Dimita Moulding Ltd hanya mencapai 8 album, karena awal tahun 1973 perusahaan rekaman Remaco menawari Tonny menggunakan teknologi rekaman lebih modern 4 track dari sebelumnya yang hanya 2 track. Dan Koes Plus meluncurkan volume 8 dengan lagu andalan Kolam Susu, yang sangat populer itu.

Suatu waktu Koeswoyo yang juga orang tua ketiga personel Koes Plus berkata, ”Sebaiknya lagu-lagumu jangan hanya bisa dinikmati oleh kaum intelek, buatlah lagu yang dapat menghibur masyarakat umum”. Mulailah Tonny melakukan uji coba dengan memperdengarkan lagu barunya kepada tukang becak yang mangkal di depan rumahnya. Bila dalam 15 menit tukang becak bisa menyanyikan, maka dipastikan lagunya akan menjadi populer.

Kepopuleran mereka didukung masuknya teknologi kaset dalam blantika musik Indonesia sehingga musik Koes Plus lebih mudah didistribusi di toko-toko musik hingga pelosok kecamatan dan harganya pun lebih terjangkau.

Kepindahan Koes Plus ke Remaco tidak hanya membuat mereka berkesempatan menggunakan alat musik berteknologi mutakhir namun juga menaikkan mereka dalam perolehan finansial. Keberhasilan Koes Plus di bidang rekaman memberi inspirasi group musik, The Phoenix, C.Blues, The Gembel’s, Golden Wing, Rasela, Freedom of Rhapsodia, dan Musisi Rock AKA, Good Bless, The Rollies untuk juga meramaikan musik rekaman.

Tonny tidak hanya memikirkan keberadaan Koes Plus saja, dia juga sangat perduli dengan perkembangan musik Indonesia secara umum. Di akhir 1973 Tonny pernah melemparkan gagasan kepada grup musik sezaman semacam Panbers, The Mercys, D’loyd, Bimbo, Rasela, dan The Steps untuk mendirikan apa yang disebutnya Union Vocal Grup semacam PAPPRI (Persatuan Artis, Pencipta Lagu, dan Penata Rekaman Indonesia) yang bertujuan mengadakan kerja sama meningkatkan kualitas bermusik, menggali musik etnis di seluruh Indonesia serta berfungsi melindungi karya cipta mereka semacam YKCI (Yayasan Karya Cipta Indonesia) di masa kini.

Namun gagasan yang brilian ini tidak mendapat dukungan yang memadai. Sehingga kemudian membentuk organisasi Artis Safari yang beranggotakan artis-artis tanpa membedakan golongan. Setelah Artis Safari berkembang pesat, organisasi tersebut diambil alih oleh partai yang sangat dominan pada saat itu menjadi wahana politik, dan Tonny pun memilih keluar.

Album pop


Album Pop Indonesia oleh Koes Plus diselesaikan hingga 14 album. Berbagai tema dikupas menjadi lagu-lagu yang populer antara lain Diana, Desember, Muda Mudi, Bujangan, Terlambat, dan Maria, dan seri lagu berjudul Nusantara 1 hingga 8.

Persenyawaan musik lokal diperluas lagi dengan membuat album tersendiri secara khusus, misalnya Pop Keroncong sebanyak 4 buah yang populer dengan lagu Kr Penyanyi Tua, Andaikan, Surat Pertama, Kr Penyanyi, Kr Betawi. Kemudian juga Koes Plus membuat album Pop Jawa hingga 4 volume dengan lagu antara lain Tul Jaenak, Jo Podo Nelongso, Kolang Kaling, Konthal Kanthil, Kripik Tempe, Ojo Ngono. Serta mengeluarkan juga album Pop Melayu sebanyak 9 volume yang populer antara lain Mari Berjoget, Mengapa, dan Indahnya Sinar Matahari Pagi.

Penggabungan musik lokal pada musik Koes plus menimbulkan keberatan bagi pemerhati kebudayaan dan musik tradisional, karena lagu-lagu Koes Plus dalam album Pop Melayu dianggap merusak pakem musik Melayu Deli. Demikian juga pada album Pop Keroncong dan Pop Jawa. Tetapi sesungguhnya peng-Koes Plusan Keroncong, Jawa dan Melayu seperti menjadi jembatan antara musik keroncong asli, musik etnis Jawa, musik Melayu Deli dengan sebagian kelompok penikmat musik yang sebelumnya belum pernah mendengarnya.

Lagu rakyat


Lagu lagu Koes Plus memang berlirik sederhana, melodius, dan komunikatif serta diramu dengan musik yang kompleks menurut ukuran waktu itu. Walaupun demikian di tangan penggemarnya menjadi lagu yang mudah dinyanyikan kembali dengan chord gitar yang mudah sehingga menjadi ‘lagu wajib’ bagi pemain musik pemula.

Pada situasi lain, lagu lagu Koes Plus seolah menjadi katup pelepas lelah rakyat ketika pemerintah Orde Baru sedang giat-giatnya memotivasi rakyat dengan program program pembangunan. Selain itu ibaratnya selera musik yang bagaimanapun dapat ditemukan dalam lagu Koes Plus.

Daya jangkau lagu Koes Plus yang mencapai semua tingkatan dan golongan sempat memunculkan opini pengamat musik, Remysilado bahwa musik Koes Plus adalah musik rakyat. Digambarkan pada saat itu atmosfir Koes Pluslah yang menyelimuti Indonesia. Tidak ada lagu Koes Plus melalui kaset yang tidak menyusup ke setiap hajatan pengantin, hajatan sunatan dan bentuk keramaian lainya dari pelosok desa serta kota-kota. Lagu-lagu mereka bertengger di puncak tangga lagu radio RRI maupun swasta dan menjadi ajang perlombaan gagah-gagahan di kalangan pelajar dengan menunjukkan kecepatan berburu kaset dan menyanyikan lagu baru keluaran Koes Plus.

Bersamaan dengan teratasnya tingkat kepopuleran Koes Plus, kecaman demi kecaman dari wartawan dan pengamat musik datang bertubi tubi dengan menuduh musik Koes Plus sebagai musik tiga jurus, musik ‘kacang goreng’ dan tidak berkualitas. Sehingga Tonny pun balik berargumentasi, ”Buatlah lagu tiga jurus atau musik kacang goreng, dan buktikan lagu ciptaan Anda disukai masyarakat”.

Hal ini bisa dipahami karena Koes Plus telah menjadi trend setter musik rekaman dalam waktu yang cukup lama, sehingga group musik yang ingin masuk dapur rekaman, oleh produser ‘diharuskan’ membuat lagu sewarna dengan Koes Plus, bagi sebagian pengamat musik kondisi ini dianggap dapat membahayakan perkembangan musik Indonesia secara umum dan menghambat kreativitas serta tumbuhnya warna warna musik yang lain.

Kepopuleran Koes Plus tahun 1973 hingga 1977 dikuatkan oleh penobatannya sebagai group musik pilihan pendengar hasil polling majalah Musik Aktuil, dan hasil angket yang diselenggarakan Puspen ABRI bekerja sama dengan RRI dan radio swasta yang pada waktu itu dipercaya sebagai barometer Prestasi Musik Indonesia. Pada saat itu pula Koes Plus selalu meraih Golden Record pada setiap peluncuran albumnya hingga mencapai lebih dari 15 buah.

Kaset seribu tiga


Tahun 1977 muncul era ‘kaset seribu tiga’, artinya dengan uang Rp 1.000 pembeli kaset mendapat tiga buah. Hal itu merupakan bagian strategi Remaco menghadapi para pembajak kaset yang kemudian justru meruntuhkannya. Bersamaan itu pula selera masyarakat penggemar musik Indonesia mulai melirik kepada penyanyi solo, Ade Manuhutu, Bob Tutupoly, Eddy Silitonga, Iis Sugianto, Andi Mariem Mattalata dengan lagu-lagu yang lembut melankolis. Dan muncul pula aliran yang lebih progresif yang diawali oleh tampilnya musik anak-anak Pegangsaan dan apa yang disebut pop kreatif dan pop alternatif lainnya yang digawangi oleh Ebiet G Ade, Dhedy Dukun, dan Faris RM.

Secara perlahan kepopuleran Koes Plus pun menyurut bersamaan dengan turunnya popularitas group musik yang sewarna lainnya. Namun, Tonny mencoba tetap bertahan dengan sesekali menghidupkan Koes Bersaudara dengan mengajak Nomo Koeswoyo di belakang drum. Upaya lain yang dilakukannya adalah berpindah ke perusahaan rekaman dengan membuat album daur ulang lagu lama Koes Plus dan tetap membuat album baru dengan melakukan eksperimen musik baru. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil yang menggembirakan walau album mereka tetap diburu dan dikoleksi oleh para penggemar setia Koes Bersaudara dan Koes Plus.

Pada 27 Maret 1987 Tonny Koeswoyo, motor sekaligus pemimpin Koes Plus meninggal dunia akibat penyakit kanker usus yang dideritanya sejak 4 tahun sebelumnya. Sepeninggal Tonny, Koes Plus seperti ayam kehilangan induk, namun tetap dicoba dikibarkan oleh personel yang tersisa yaitu Yon, Yok, dan Murry. Tahun 1992 Koes Plus tampil kembali ke pentas pentas dan membuat puluhan rekaman serta kehadirannya berhasil mengisi ruang nostalgia di hati penggemar setianya yang jumlahnya masih ribuan di berbagai kota di tanah air. Dan hingga hari ini Koes Plus tetap tampil walaupun telah beberapa kali ganti personel dari luar keluarga Koeswoyo.

Beberapa tahun terakhir ini, RCTI, SCTV, BRI, Museum Rekor Indonesia, PWI, BRI, dan Erwin Gutawa melalui album Salute to Koes Bersaudara Plus memberikan penghargaan kepada Koes Bersaudara dan Koes Plus atas prestasi kiprah musiknya di masa yang lalu.
Penulis Ketua Jiwa Nusantara Koes Music Fans Club

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s