de hands / photos / post

De Hands, Grup yang Memperkaya Musik Indonesia

Fauzi Djunaedi/KPMI

Di seputaran tahun 73-an, masyarakat pencinta musik pop Indonesia dikagetkan dengan munculnya warna musik pop manis yang agak berbeda dengan warna musik ala Koes Plus, The Mercys, Panbers, yang sedang menapaki popularitasnya saat itu. Ya, grup De Handslah pelantun musik pop manis tersebut yang berasal Surabaya, Jawa Timur. Kata De Hands merupakan singkatan dari nama-nama personelnya.

Kemunculan mereka dalam dunia rekaman Indonesia saat itu sempat membuat pencinta musik terkesima. Dengan kemasan warna musik dan olah vokal yang cukup baik, kelompok ini pun mendapat sambutan hangat dari pencinta musik di Tanah Air. Mereka adalah Mus Mudjiono (lead guitar, lead vocal) yang tak lain adik kandung Mus Mulyadi (mantan Favourites Group), Harry Syafii (organ,vocal), Pang Pramono (drum), dan Zaenal Abidin (bass,vocal).

Tepat pada 16 Januari 1973, Mus Mudjiono dan kawan-kawan berhasil mewujudkan impian mereka untuk memasuki dapur rekaman. Album perdana yang diberi judul Hallo Sayang dengan bayaran Rp 125 ribu juga sebagai nomor andalan mereka, berhasil menggeser lagu-lagu hit yang sudah populer sebelumnya. Hal ini membuat Nono (panggilan akrab Mus Mudjiono) semakin berkibar sebagai musisi yang pantas diperhitungkan di Surabaya maupun di Indonesia.

Kehadiran mereka di belantika musik pop, sempat menggugah grup-grup musik dari kota yang sama, Surabaya, seperti Yeah Yeah Boys, yang banyak memainkan musik-musik ala grup Chicago dan sering mengisi acara di klub-klub malam Surabaya. Kelomok AKA, yang lebih suka bermain dari panggung ke panggung dengan gaya musik Underground-nya, dan The Gembells dengan warna musik Afro Asia Sound dan kabarnya sering disebut-sebut sebagai saingan terdekat De Hands. Namun, kala itu De Hands masih dianggap sebagai grup musik setingkat di bawah AKA dan The Gembells yang memang sudah dikenal namanya di Jawa Timur dalam industri rekaman.

Setelah sukses dengan album perdananya, De Hands kembali masuk rekaman untuk kedua kalinya. Dalam album yang berjudul Maafkan Daku, ini mereka lebih menonjolkan warna musik pop dan bercerita tentang kesedihan dan putus cinta. Dengan warna ini sambutan masyarakat terhadap album kedua De Hands pun mulai berubah, namun mereka masih berkarya dengan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Mereka kemudian menelurkan album ketiga bertajuk Salam Terakhir (judul lagu yang sama karya The Rollies) dan Vol 4.

Kabar tak sedap

Langkah lain yang harus De Hands pertahankan sebagai grup musik yang sempat terkenal adalah perlunya kehadiran mereka dalam pentas pertunjukan musik di hadapan penggemarnya. Pada tahun 1976, di Yogyakarta, De Hands sempat bermain sepanggung dengan grup The Gembells yang sama-sama berasal dari Surabaya.

Hal ini sempat mengundang tanya para pencintanya, karena dikabarkan bahwa sebenarnya kedua kelompok yang berbeda aliran musik ini sempat diisukan terjadi perang dingin alias ‘persaingan’ terselubung. Apalagi kedua grup ini bermain sepanggung justru di Yogjakarta yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan di kota asal mereka.

Terlebih lagi pada saat itu berhembus berita tidak sedap terhadap grup ini bahwa De Hands sedang dilanda perpecahan dan bakal bubar. Namun, isu perpecahan tersebut langsung disangkal oleh personel grup ini. Menurut Harry, Nono, Pang, dan Zaenal Abidin, kabar miring itu sengaja ditiupkan oleh orang-orang yang tidak suka dengan keberadaan grup musik ini. Tapi karena isu itu sempat membuat De Hands kehilangan kesempatan untuk show di beberapa kota-kota besar di Tanah Air.

Redup

Lambat laun nama De Hands semakin menghilang, bukan karena kontrak rekaman mereka berakhir sampai dengan album ke lima Balada Cinta dan satu album pop melayu Mari Berjoget, tetapi lebih disebabkan oleh adanya pergeseran warna musik pop yang mendayu ke arah pop yang lebih progresif dari ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 77. Otomatis lagu-lagu pop yang biasa dikumandangkan De Hands semakin tergeser dan selera penikmat musik pun berubah, seperti komposisi dan lirik yang sudah mulai dianggap berbobot, ketika beredar album Badai Pasti Berlalu

Namun, untuk seorang Mus Mudjiono, situasi demikian tidak mengurangi rasa musikalitasnya dalam memperkaya warna musik yang belum terjamah sebelumnya. Di awal tahun 83-an, Nono dan kawan-kawan sesama musisi asal Surabaya memperkenalkan grup barunya bernama Jakarta Power Band. Grup ini sempat melambungkan nomor hit mereka bertajuk Acuh dalam irama pop progresif yang diperkaya dengan unsur musik tiup. Di susul kemudian beberapa solo album rekaman di antaranya Arti Kehidupan ciptaan Oddie Agam, tembang yang sempat populer ketika itu.

Setelah sukses dengan solo kariernya, nama Mus Mudjiono pun sering dikaitkan dengan grup-grup musik jazz, baik sebagai vokalis maupun gitaris. Keterkaitan sosok Mus Mudjiono dengan grup De Hands pun seakan-akan hilang tak berbekas dalam belantika musik pop Indonesia. Malahan beberapa tahun kemudian, Nono lebih dikenal sebagai salah satu gitaris jazz terkenal, dan sempat bermain bersama grup jazz Funk Section, pimpinan alm Christ Kayhatu, di berbagai kafe di Jakarta, sekitar tahun 94-an.

Semoga tembang Hallo Sayang milik grup De Hands dapat menjadi salah satu lagu legendaris yang harus dikoleksi bagi penggemar musik pop Indonesia.

Diskographi

Hallo Sayang (Indra Record,1973 )

Maafkan Daku ( Indra Record,1973 )

Salam Terakhir ( Indra Record,1974 )

Vol 4 (Indra Record )

Balada Cinta ( Indra Record, 1976 )

POP Melayu ‘Mari Berjoget ( PT Yukawi,1976 )

Republika/mellowtone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s