bram / dianne / pahama / photos / post

Pahama,Ketika Harmoni Suara Bertahta

Pada dekade 70-an, sebagian besar remaja Indonesia tengah keranjingan membentuk vokal grup. Demam vokal grup melanda siswa SMP dan SMA. Berbagai ajang festival vokal group akhirnya diadakan di berbagai tempat. Tembang-tembang yang dibawakan biasanya adalah lagu-lagu tradisional maupun lagu rakyat atau yang kerap disebut folk song.

Kecenderungan rata-rata vokal grup yang ada saat itu terletak pada tata aransemen vokal yang senantiasa dibuat complicated dan sarat pernah pernik. Hingga terkadang melodi orisinal dari lagu yang dibawakan menjadi sulit untuk dikenali lagi.

Saat itu grup-grup vokal jazz seperti The Manhattan Transfer hingga Sergio Mendes menjadi acuan dalam sederet kegiatan vokal grup. Tak jarang pula yang menyelusupkan perangai musik Latin, seperti yang ditorehkan kelompok Bimbo.

Harmoni vokal akhirnya menjadi bahagian terpenting dalam vokal group. Pecahan-pecahan nada pun menjadi tuntutan untuk sebuah vokal grup yang berkualitas. Selain Bimbo, saat itu pun dikenal pula kelompok vokal yang cenderung nge-jazz, seperti Noor Bersaudara.

Bintang radio & TV

Lantaran begitu menjamurnya kegiatan vokal grup yang berlangsung dari Sabang hingga Merauke, akhirnya muncullah sebuah ajang yang kemudian memasukkan vokal grup sebagai salah satu bagian dari ajang kompetisi vokal.

Pada tahun 1976, untuk kali pertama digelar ajang kompetisi bertajuk Bintang Radio dan Televisi Remaja. Konon, acara ini diadakan untuk lebih menjaring bakat-bakat seni suara dari kalangan anak remaja. Pada akhirnya ajang Bintang Radio & Televisi Remaja 1976 ini memang berhasil menjala sosok penyanyi yang kelak menjadi bagian terpenting dalam konstelasi musik pop di negeri tercinta ini.

Lalu mencuatlah Harvey Malaiholo sebagai Juara 1 Remaja Pria, Rafika Duri sebagai Juara 1 Remaja Wanita, dan Pahama sebagai Juara 1 Vokal Grup. Pahama yang berasal dari Bandung memang pantas didapuk menjadi juara 1. Mereka menyimpan kualitas musik yang lebih dibanding para kontestan lainnya. Arransemen dan harmoni vokal Pahama memang terasa lebih kontekstual dan wajar. Tidak mengada ada.

Dalam Bintang Radio & TV Remaja itu, Pahama yang terdiri dari Raymond Patirane, Denny Hatami, Bram Manusama, dan I Ketut Riwin, membawakan lagu Pergi untuk Kembali karya Minggoes Tahitu, yang berhasil menjadi Juara 1 Festival Lagu Pop Indonesia 1975, dan sebuah lagu rakyat Maluku bertajuk Waktu Hujan Sore-sore.

Penampilan Pahama yang segar, santai, dan seolah tanpa beban berhasil memukau khalayak. Kekompakan dalam mengolah vokal adalah modal utama kelompok yang pemusiknya terdiri dari beragam suku bangsa, seperti Maluku, Sunda, dan Bali.

Menjamur

Kelompok Pahama dibentuk tahun 1975, di saat Bandung tengah diriuhkan dengan menjamurnya kelompok-kelompok vokal, seperti Double SB, GPL Unpad, Stairway, Mythos, Kharisma Vokal Group, Nobo, dan yang telah mencuat sejak akhir era 1960-an, Bimbo.

Jika Pahama cepat melejit dan dikenal luas, tak perlu diherankan. Mungkin, karena kelompok ini didukung sederet pemusik yang kreatif dan penuh bakat. Raymond Pattirane, misalnya, memang dibesarkan dari keluarga pemusik. John Pattirane, sang ayah, merupakan sosok yang membina dan mengarahkan tata musik, terutama harmonisasi vokal kelompok Bimbo.

Kekerabatan antara Pahama dan Bimbo pun kian erat. Apalagi, ketika Pahama berhasil menjuarai Bintang Radio & TV Remaja bidang Vokal Group, Bimbo telah mengamati secara seksama sepak terjang Pahama. Pada akhirnya Bimbo pun bersedia menggarap produksi album perdana Pahama pada tahun 1977 melalui label Bimbo Recording System. Jaka Harjakusumah dari Bimbo terlibat sebagai penggarap tata musik Pahama. Jaka pun ikut menyumbangkan lagu Nelayan Tua untuk album Pahama.

Di album ini, selain menulis lagu-lagu sendiri, seperti Dari Judul (Denny Hatami),Cinta dan Bahagia (Bram Manusama), dan Oplet Dago (Raymond Patirane), Pahama pun menyanyikan kembali hit karya Minggoes Tahitu yang dipopulerkan Melky Goeslaw pada tahun 1975, Pergi Untuk Kembali, di samping lagu-lagu rakyat, semisal Waktu Hujan Sore-sore.

Karya sendiri

Setahun berselang Pahama merilis album keduanya di Musica Studio, mereka tetap membawakan lagu karya sendiri dan lagu-lagu rakyat. Untuk pertamakali di album keduanya, Pahama menambah formasinya dengan seorang penyanyi wanita bernama Dianne Carruthers yang berasal dari Australia. Dianne merupakan kekasih dari Bram Manusama. Keduanya, Bram dan Dianne, bahkan sempat merilis sebuah album duet yang menyanyikan lagu-lagu karya Jimmie Manoppo, Oetje F Tekol, dan Yance Manusama.

Di tahun 1978, Bram dan Dianne diajak oleh Chris Manuel Manusama, abang Bram yang pernah mendukung grup rock, Tripod dan Hookerman, untuk menyanyikan lagu ciptaannya, Kidung, yang berhasil masuk 10 besar dalam ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1978.

Di awal 1980-an, pasangan Bram Manusama dan Dianne Carruthers yang telah resmi menikah sebagai sepasang suami-isteri mengundurkan diri dari Pahama. Mereka lalu bermukim di negeri Kangguru. Kemudian Pahama sering berkolaborasi dengan mantan Puteri Indonesia, Tika Bisono, baik di panggung pertunjukan maupun rekaman.

Satu persatu personel Pahama mulai mundur, seperti gitaris, Ketut Riwin, yang memilih tinggal di Bali. Riwin mengelola sebuah kafe di Legian Bali. Sejak itulah nama Pahama secara perlahan mulai meredup dan menghilang. Pahama sempat tampil bersama Tika Bisono dalam album kemanusiaan bertajuk Suara Persaudaraan (1986) yang digagas komposer James F Sundah.

Raymond Patirane tetap menggeluti musik sebagai guru vokal dan penata vokal di berbagai album rekaman. Ketut Riwin pun tetap bermain musik. Riwin yang nama lengkapnya IGN Ketut Riwiyana, membentuk sebuah grup jazz dengan latar etnik bernama Tropical Transit pada tahun 1991. Kelompok ini masih tetap aktif manggung. Bahkan, salah satu karya Riwin dipakai dalam proyek kolaborasinya dengan perancang busana Ika Mardiana dan penari, I Nyoman Sura, pada event Hong Kong Fashion Week 2006 yang bertemakan Java

DISKOGRAFI

1. Pahama Vol 1 (Bimbo Recording System 1977)

2.Pahama Vol 2 (PT Musica Studios 1978)

Album Duet 1.Bram & Dianne, Kisah (PT Musica Studios 1979)

2.Denny Hatami & Tika Bisono, Engkau Cintaku (Paragon Record 1983)

Album Kompilasi

1.Dasa Tembang Tercantik LCLR 1978 (Duba Records 1978)

2.Dasa Tembang Tercantik LCLR 1979 (Duba Records 1979)

3.Dasa Tembang Tercantik LCLR 1981 (Lolypop Record 1981)

4.Suara Persaudaraan (Aquarius 1986)

(Denny Sakrie/KPMI )

Republika Senin, 06 Agustus 2007/mellowtone/indolawas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s