broery pesulima / journal / post

NOSTALGIA Broery Manggung Lagi



Jumat, 5 Maret 2010 | 05:30 WIB

�Broery akan saya naikkan ke atas panggung lagi,� kata Dimas Wahab, ketika berkumpul bersama Idris Sardi, Abadi Soesman, dan Ronny Makasuci di sebuah restoran di Citos (Cilandak Town Square) di Jakarta Selatan akhir tahun lalu.
Theodore KS

Ternyata mereka sedang merencanakan susunan lagu dan penataan musik untuk menghadirkan Broery di atas panggung. Kedengarannya memang sensasional. Soalnya, Broery yang lahir pada 25 Juni 1948 di Ambon itu tutup usia 7 April 2000, 10 tahun lalu di Jakarta. Bersama beberapa anak muda dari sebuah perusahaan iklan, Dimas Wahab mempelajari kemungkinan hologram Broery tampil di atas panggung.

�Jadi dia bisa berduet dengan Dewi Yull atau Vina Panduwinata seperti yang pernah dilakukannya dalam rekaman semasa hidupnya,� tutur Dimas, yang mengajak Broery menjadi vokalis Medenasz karena grup musik pimpinan Dimas itu kehilangan penyanyinya, Djoko Soesilo, yang ditembak seorang perampok di jalan Cimandiri, Cikini, tahun 1964.

Broery berteman baik dengan pianis jazz Bonar Simorangkir, yang juga adalah wartawan harian Sinar Harapan yang kemudian menjadi harian Suara Pembaruan. Berkat Bonar, Broery bertemu Dimas Wahab, Pomo serta Enteng Tanamal dan Fuad Hasan, yang kemudian membentuk band The Pro’s. Bersama grup ini Broery melanglang sampai ke New York, setelah menghasilkan album pertama yang berisi lagu-lagu Barat populer waktu itu, �Danny Boy�, �Love is Blue�, �Blowing in the Wind�, �Before You Go�, dan empat lagu lainnya di perusahaan rekaman Irama.

�Difficult character�

�Sifat Broery sebenarnya susah-susah gampang. Ada yang bilang dia angkuh, sombong. Sementara yang lain mengatakan overacting, semau gue, egois, nyentrik, manja, sampai yang paling ekstrem; sakit! Menurut Lin dari Lex Trio, Breory nyentrik, sedangkan menurut Nien Lesmana (istri Jack Lesmana, ibu pemusik jazz Indra Lesmana), Broery memiliki difficult character. Setahu saya Broery bertingkah seperti itu karena terpaksa,� kata Berty Lumanauw yang menjadi manajer Broery tahun 1972 hingga 1986. Berty yang sekarang duduk di kursi roda tinggal di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Berbagai tanggapan tentang Broery itu membuat kerabat dan teman-teman Broery sendiri bertanya kepada Berty, �Kok lu tahan sih ngurusin dia?�

�Broery tidak bisa sendirian dan saya lihat tidak ada yang mau mengurusinya, bahkan banyak yang antipati, jadi saya mencoba menemani dia. Memang tabiatnya sering sulit dipahami, misalnya kalau ngambek dia bisa tidur sepanjang hari,� alasan Berty.

Hadi Sunyoto hari HP Records juga punya pengalaman unik dengan Broery. Dia memproduksi album-album rekaman Broery yang sukses seperti Aku Jatuh Cinta, Hati Yang Terluka, Jangan Ada Dusta Di Antara Kita, Kharisma Cinta, Rindu Yang Terlarang, dan VCD Karaoke paling laris tahun 1999 16 Seleksi Best of the Best Broery Marantika-Dewi Yull yang terjual lebih dari 150.000 keping.

�Meskipun lebih muda tiga tahun, saya menganggap Broery sebagai anak yang memerlukan perhatian. Dia manja dan sering minta perhatian yang lebih banyak. Setiap kali bertemu, Broery pasti minta uang untuk transpor, jajan, atau main golf,� tutur Hadi Sunyoto.

Sementara itu, Idris Sardi menambahkan, �Bersama Broery dan penyanyi lainnya, seperti Grace Simon, Titiek Shandora, Muchsin, Anna Mathovani, dan Nanin Sudiar, saya sempat tampil dalam film Lagu Untukmu tahun 1973, di samping sebagai ilustrator musik. Meskipun Broery bagus main di beberapa film, bagi saya dia adalah aktor dalam dunia menyanyi. Dia menarik suara dengan gaya dan caranya yang tidak dimiliki penyanyi lain, membuat sebuah lagu menjadi miliknya dan lebih indah.�

Ketika dites Chris Pattikawa, pengarah acara siaran musik TVRI, Broery menyanyi sambil tiduran di lantai sampai akhirnya terlelap. Broery tertawa terpingkal-pingkal meskipun bahan pembicaraan dengan Chris Pattikawa dan beberapa orang lainnya tidak begitu lucu, sampai mengempaskan dirinya ke
lantai.

Katanya dia ingin eksentrik seperti Si Burung Merak Rendra. Akibat ulahnya itu, Chris Pattikawa justru mengusirnya, tetapi Broery pantang menyerah. Dia datang kembali dan minta maaf.

Broery juga adalah pencinta ulung. Mulai dari Ambon, Jakarta, Singapura, Tokyo, sampai New York, dia merajut kisah cinta yang banyak di antaranya hanya diketahui teman dekatnya. Wartawati majalah bahasa Inggris Fanfare yang terbit di Kuala Lumpur pernah dirayunya, dengan judul â€?Lonely and Misunderstoodâ€? edisi Oktober 1979, wartawati itu antara lain menulis, â€?He chose to come in late. And with the cool confidence of a man well accustomed to public performances, Broery Marantika made a classic ’superstar’ entrance. The deliberate lingering at the doorway followed by a dramatic removing of showy showbiz sunglasses. Then, the arrogant strut, the slow swagger across the room, the casual sneeping glance at the people, and the swinging of tlie sunglasses, …. all his movements very studied, deliberate. As I watched the show, I thought: The arrogant beast..,! But he moves beautifully……..â€?

�Gadis-gadis Malaysia menjadi penggemar yang mengelu-elukan Broery di mana-mana. Ketika kami berbelanja di tempat umum habis waktu untuk meladeni mereka. Saya senang melihat bagaimana dia kembali bersemangat dan menapak dengan tegar dalam hidup dan kariernya,� kata Rinto Harahap yang menemani Broery manggung di Malaysia. Rinto mencipta lagu �Aku Jatuh Cinta� dan �Aku Begini Engkau Begitu� yang membangkitkan Broery kembali setelah perceraiannya dengan penyanyi Singapura, Anita Serawak, tahun 1986.

�Tahun 1991 saya merekam album Broery Dalam Gelora Cinta di Metropolis Studio dan Sarm West Studio, London, selama dua minggu dan menghabiskan biaya Rp 200 juta. Cukup mahal memang, tapi pantas untuk seorang penyanyi sekelas Broery. Saya bangga dengan rekaman itu, yang menurut saya terbaik dari rekaman Broery,� kata Dimas Wahab.

Karena kebanggaan itulah Dimas mencoba mengingatkan masyarakat kembali pada Broery. �Akan tetapi, jangankan anak-anak muda, yang seusia saya saja banyak yang lupa-lupa ingat pada penyanyi terbaik yang kita miliki itu. Sementara Nat King Cole, Frank Sinatra masih dikenal dan tetap dikenang.

Sepuluh tahun sudah Broery meninggalkan kita, apakah dia akan dilupakan begitu saja?� tanya Dimas yang berusaha menaikkan Broery kembali ke atas panggung, seperti hologram Elvis Presley (8 Januari 1935-16 Agustus 1977) berduet dengan Celine Dion di panggung American Idol.

Dari sekian banyak penyanyi muda yang hadir sekarang, menurut Dimas, hanya Rio Febrian yang nyambung dengan Broery. Padahal kita memiliki penyanyi muda berbakat seperti Afgan, Vidi Aldianto, Petra Sihombing dan masih banyak yang lainnya.

Theodore KSPenulis Masalah Industri Musik
koleksi Theodore KS Broery tidak hanya berjaya di atas panggung, tetapi juga mengumpul trofi-trofi keberhasilan lagu-lagu yang direkamnya seperti �Angin Malam�, �Cinta�, �Aku Jatuh Cinta�. �Aku Begini Engkau Begitu�. �Ja- ngan Ada Dusta Di Antara Kita�, �Hati Yang Terluka�, �Kharisma Cinta�, dan �Rindu Yang Terlarang�.

6 thoughts on “NOSTALGIA Broery Manggung Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s