kunokini / photos / post

Reinkarnasi KunoKini

Grup musik yang membaurkan unsur kuno dengan kekinian dalam album debut bertitel Reinkarnasi.

Donât judge a book by its cover. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk Bhismo, Akbar, dan Bebi yang tergabung di sebuah grup musik bernama KunoKini. Selain Bhismo yang memang terlihat eksentrik dengan rambut gimbal yang menjadi mahkotanya, tato yang terlukis di lengannya, perhiasan yang tersebar di beberapa bagian tubuhnya, dan baju anak pantai bermotif bunga-bunga yang dikenakannya; Akbar dan Bebi terlihat seperti anak muda biasa dengan kaos, celana jeans, dan sepatu keds santai.

Namun, siapa sangka mereka semua memiliki kepedulian dan kepekaan yang sangat tinggi terhadap Indonesia, baik itu dari segi kebudayaan maupun segi sosial. Band yang menamakan diri mereka atas dasar pembauran unsur kuno yang berasal dari alat musik yang mereka pakai dan unsur kekinian yang mereka gunakan sebagai bahasa dalam membawakan lagu-lagu mereka ini baru saja merilis album debut berjudul Reinkarnasi (demajors). Berikut wawancara Rolling Stone Indonesia dengan band antik yang telah mengharumkan nama Indonesia lewat festival-festival musik di luar negeri ini.

Kalian menciptakan dan memainkan musik yang tidak menggunakan instrumen standar seperti gitar, bass, keyboard, atau drum. Seberapa yakinkah kalian bahwa musik kalian akan didengarkan oleh masyarakat Indonesia?

Akbar (A): Kalau dari seberapa yakinnya, kami yakin. Yakin di sini maksudnya, kami sudah mulai melihat kebangkitan masyarakat Indonesia yang mulai mencintai hasil karya negeri sendiri, seperti contohnya Indonesia Unite. Ini suatu momen yang pas juga buat kami.

Bhismo (Bh): Yakin, karena kalau mau beda ya sekalian beda saja, jangan tanggung-tanggung. Kami juga yakin karena isu yang kami bawa itu soal Indonesia, negeri kami sendiri; baik dari kebudayaannya, dari keseniannya. Sekarang juga mulai terlihat di kiri kanan depan belakang, mulai banyak yang menyuarakan hal yang sama, sedangkan kami sudah dari 2003. Untungnya, sekarang momennya lebih pas.

Kalian sudah beberapa kali main di luar negeri. Bagaimana perbedaan audiens lokal dengan audiens luar?

A: Sangat jauh. Dari sisi antusiasmenya, orang kita itu kalau suka dengan suatu band, ya sudah hanya sekedar suka. Kalau di sana, komunikasi dan interaksinya nikmat sekali.

Bh: Kalau dari masyarakat orang-orang asingnya, mereka sudah pasti suka dan itu kami tidak usah heran karena mereka memang suka dengan Indonesia, tapi yang bikin saya heran itu adalah orang-orang Indonesia yang ada di sana. Mereka juga suka sekali dengan kami. Beda dengan masyarakat Indonesia yang di sini. Waktu itu ketika saya tanya mengapa mereka menyukai kami, mereka bilang bahwa mereka rindu dengan Indonesia, bahwa mereka merasa jauh dengan kebudayaan Indonesia.

Apakah ada perasaan sinis karena kalian belum terlalu diapresiasi di negeri sendiri?

A: Terkadang ada sih (tertawa).

Be: Tapi ya itu masih proses, mudah-mudahan saja.

Bh: Kami ingin berusaha lagi agar bisa main di luar lagi untuk melebarkan sayap. Tapi soal di Indonesia, alhamdulillah tanggapan masyarakat terhadap KunoKini yang saya lihat dan saya rasa itu sudah mulai bagus. Kalau dipandang sebelah mata sih, masih juga.

Be: Tapi tidak masalah, nantinya mereka akan sadar bahwa apa yang mereka pandang sebelah mata itu punya mereka juga dan mereka harus peduli.

Kini kalian menggunakan additional player karena ada satu orang personil KunoKini yang keluar. Apakah hal ini memberikan perubahan ke arah yang lebih baik atau justru sebaliknya?

A: Alhamdulillah, saya merasa sangat oke. Walaupun baru latihan dan baru masuk, komunikasi di musiknya enak sekali. Alhamdulillah tidak ada masalah.

Tapi kalian tetap menyesali keluarnya satu orang personil itu?

Bh: Menyesali, tapi ya sudahlah. Itu rasanya seperti putus hubungan dengan kekasih tercinta. Istilahnya kami sudah make love, lalu tiba-tiba âYah, gitu doangâ¦â? Tapi tidak apa-apa, buktinya kami masih berdiri, masih berjalan, tidak pengaruh juga.

Almarhum Mbah Surip terletak di urutan nomor 1 di thanks list di album kalian. Ada hubungan spesial apa antara Mbah Surip dengan kalian?

Bh: Sejarah kami dulu sama beliau juga awalnya. Sering bertemu, sering ngobrol, sering jamming di panggung. Itu dari tahun 2003, dari sebelum dia terkenal.

Bebi (Be): Dari awal kami berdiri sampai sekarang, hanya dia saja yang tidak bisa mengucapkan KunoKini. Beliau menyebut kami dengan nama GonoGini.

(semua tertawa)

Bh: Dia juga memberikan warna baru untuk orang-orang gimbal. Dulu ketika di angkutan umum, orang-orang melihat saya bak kriminal, setelah Mbah Surip terkenal orang-orang jadi, âEh, gimbal gimbalâ¦â? (tertawa)

Di lagu âRasa Sayangeâ? terdapat lirik yang sangat provokatif mengenai Malaysia sebagai tukang klaim kebudayaan Indonesia, apa yang ingin kalian capai dengan lirik tersebut?

Bh: (tertawa) Sebenarnya sih bukan hanya untuk Malaysia saja, tapi juga untuk negara-negara yang suka mengambil dan memungut apa yang menjadi hasil kami.

Be: Termasuk orang-orang Indonesianya sendiri.

Bh: Iya, di lagu itu kami juga menyalahkan orang-orang Indonesia. Kalian sebagai bangsa kenapa diam saja selama ini? Kenapa kalian baru ribut ketika budaya sudah banyak yang hilang? Tapi kalau jadinya provokatif, itu tinggal bagaimana pendengar menerimanya. Kalau dari saya pribadi, saya hanya membuka fakta yang sebenar-benarnya itu seperti apa. Saya ingin menyadarkan orang-orang Indonesia bahwa keadaannya seperti ini, kalian mau bagaimana?

Bh: Yes. Babylon itu seperti sebuah sistem, corporate, perusahaan, pemerintah, baik dari Amerika ataupun Indonesia, yang memiliki kebijaksanaan yang timpang. Kenapa mereka harus memerintahkan apa yang harus kita lakukan di negara kita sendiri? Kami punya nasib dan pembelajaran sendiri.

Be: Banyak hal, seperti di Freeport, dari pabrik sampai kompleks Freeportnya itu bagus, tapi di sekitarnya keadaannya itu sangat sangat mengenaskan. Seperti di film Denias, orang-orang di pinggiran Freeport itu betul-betul tidak bisa hidup.

Bh: Seperti di LSM PBI, mereka mendatangkan orang-orang luar untuk mengurus orang-orang di Papua. Nah itu juga, saya merasa, âWah, ini ada LSM dari luar ikut campur tangan urusan Indonesia. Emang negara gua perlu lo bantu?â? Tapi kalau kembali dipikir, âKalau bukan mereka yang datang ke sini, gua nih ngapain? Gua ngapain sih sehari-hari?â?

Be: Kesannya tuh kami jadi tidak peduli, padahal kalau dipikir kepedulian kami itu sangat tinggi. Anak-anak muda kepeduliannya juga sangat tinggi dengan hal itu.

Bh: Masih banyak miskomunikasi atau propaganda tidak jelas yang bisa kami lakukan.

Be: Dan itu kembali lagi, pandangan sebelah mata antara orang Indonesia dengan orang Indonesia atau orang Indonesia dengan orang asing. Pandangan orang Indonesia ke orang Indonesia itu sebelah mata, tapi kalau orang Indonesia ke orang asing itu, âWah, ayo câmonâ¦â?

Bh: Orang-orang LSM itu juga tidak dibayar banyak, hanya Rp 1.000.000,00 per bulan. Itu gila.

Be: Ya, seperti gengsi orang-orang Indonesia yang memandang produk dalam negeri dengan sebelah mata. Tapi kalau produk luar, mereka membanggakan sekali, padahal produk luar produksinya ya di sini juga. Banyak hal lah, seperti Adidas menggunakan motif batik, waktu Piala Dunia tahun berapa membuat bolanya di Tangerang, dan lain lain.

Bh: Makanya tadi kenapa agak provokatif, itu karena provokatif lebih kepada yang, âAyo nih, kita tuh sebenarnya bisa. Apa sih yang lo takutin untuk Indonesia maju?â? Kalau kalian takut perubahan, ya berarti sucks jadi kalian.

Be: Untuk alat musik juga, kenapa tidak mencoba menaikkan alat musik tradisional Indonesia dan menjadikan itu sebagai sesuatu yang mahal? Seperti Jepang yang sangat mencintai taiko dan sakuhachi-nya dengan menghargai alat-alat itu dengan harga ratusan juta. Tapi yang dijual bukan sakuhachi-nya, melainkan proses pembuatannya. Kenapa kita tidak seperti itu? Kita itu bisa kaya ya dari kebudayaan, belum bisa dari teknologi dan segala macamnya. Untuk mencapai itu, kita harus memulai dengan kebudayaan terlebih dulu.

Kalian lebih ingin dianggap sebagai penyebar musik kebudayaan asal Indonesia atau band yang peduli dan peka terhadap keadaan sosial di Indonesia?

(semua tertawa)

Be: Kami inginnya disebut sebagai band yang peduli dengan Indonesia.

Sumber : Rolingstone

2 thoughts on “Reinkarnasi KunoKini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s