c'blues / photos / post

C’Blues Nama yang tak Pernah Pupus

Mendengar nama grup C’Blues sekitar tahun 70-an, seakan-akan membawa kita akan pengaruh musik blues yang kala itu sedang memasuki dunia musik Indonesia. Terlebih lagi dengan eksisnya sang ikon blues, John Mayall dan Blues Breaker, serta beberapa nama lain yang membawa gaung musik blues lebih keras bergema, seperti yang dimainkan oleh Chiken Shack, Livin Blues dan Cuby+Blizzard.

Padahal nama C’Blues sendiri sebenarnya diambil dari bahasa Sunda seblu yang berarti ‘tidah rapi/kumal’. Namun diplesetkan menjadi C’Blues agar lebih terdengar kebarat-baratan dan keren. Grup ini didirikan di Bandung sekitar awal tahun 60-an. Di antara para pendirinya terdapat nama Soleh Soegiarto dan Utte Taher (keduanya juga adalah pendiri grup Freedom of Rhapsodia, setelah keluar dari C’Blues).

Album perdana

Dalam menapaki jejak karier grup C’Blues sejak lahir hingga terakhir, baru pada formasi ke-6 inilah mereka mulai menunjukkan kreativitasnya dalam berkarya, khususnya mencipta lagu-lagu dan merekamnya di studio. Di formasi ke-6 ini didukung oleh Idang (leader, drums, vokal); Adjie Bandi (sax, violin, vibe, vokal); Mamat (organ, vokal eks band The Comets); Nono (bass, vokal eks band Djoko Dolok); dan Bambang (gitar, vokal).

Warna musik yang dimainkan C’Blues sebenarnya sangat beragam, namun sejak kehadiran Adjie Bandy (alm) sebagai pemain biola, sangat memengaruhi warna musik yang sudah ada. Terutama, perpaduan antara musik tiup (brass section) dengan gesekan biola Adjie Bandy yang variatif. Seakan-akan mendapat suntikan darah baru, grup ini pun akhirnya masuk ke dalam dunia rekaman dengan melahirkan album perdana bertajuk Arjati. Lagu ini sendiri adalah ciptaan G De Fretes diaransir ulang oleh C’Blues menjadi agak berbeda dari versi aslinya dengan duet vokal antara Adjie Bandi dan Mamad terdengar sangat menarik.

Tak heran jika sejak kemunculan album perdana ini, pecinta musik Indonesia semakin mengenal keberadaan grup C’Blues sebagai salah satu grup musik brass rock yang punya ciri khas tersendiri dalam aransemen musiknya. Beberapa lagu dalam album perdana tersebut, masih menyisakan beragam corak dan warna musik. Termasuk warna musik rock yang dipadukan dengan gesekan biola Adjie Bandy, dalam lagu Nenek Jang Tua.

Kepopuleran C’Blues di dunia rekaman tidak diimbangi dengan padatnya aktivitas pentas pertunjukan mereka. Minimnya publikasi dan promosi membuat kesempatan untuk mengisi acara di pentas-pentas pertunjukan sangat sedikit. Ini pulalah yang membuat beberapa personel grup ini merasa kurang maksimal dalam bermusik. Tak heran setelah menyelesaikan album mereka yang kedua berjudul Ikhlas, Mamad (organ, vokal) lebih memilih hengkang ke Medan, Sumut, untuk bergabung dengan Jelly Tobing yang juga pernah memperkuat formasi C’Blues yang sudah terlebih dahulu bergabung dengan grup rock The Minstrel’s yang saat itu sedang membuka lowongan, karena ditinggal oleh beberapa personelnya dan mempunyai prospek bermusik lebih baik.

Kehadiran album kedua yang melambungkan nama C’Blues dengan lagu andalannya Ikhlas serta beberapa nomor hit, seperti Derita Tiada Akhir, semakin memperkokoh keberadaan warna musik ala C’Blues yang enak didengar dan aransemen musiknya yang cukup solid. Tak heran jika kedua album C’Blues ini (Arjati dan Ikhlas) semakin diburu para kolektor piringan hitam maupun kolektor kaset lagu-lagu lama Indonesia hingga saat ini. Karena musiknya hampir tak pernah membosankan dan masih menyisakan aransemen yang relatif berkualitas dibandingkan dengan rekaman grup-grup seangkatannya.

Musik keroncong

Dengan di latar belakangi kesuksesan lagu Keroncong Harapan selain lagu Ikhlas di album kedua, C’Blues pun mulai menyiapkan materi untuk album berikutnya (album ketiga) dengan porsi musik keroncong yang lebih dominan. Di saat yang bersamaan terjadi pergantian formasi di mana Yongky (organ, alto sax, vokal), keluar dan bergabung dengan grup rock Hookerman dari Jakarta dan sempat pula sebagai road manager grup rock tangguh asal Jakarta, God Bless pada 1975.

Pada tahun 1974, Adjie Bandy (biola, vokal) pun mundur dari C’Blues, karena merasa ide dan tatanan musik kelompok ini sudah tidak selaras dengan jiwa bermusiknya. Ia akhirnya bergabung dengan grup Gipsy (Keenan Nasution dkk) dan sempat bermain di restoran Ramayana milik Pertamina di New York, Amerika Serikat.

Jelly Tobing, (drummer grup rock The Minstrel’s) sempat bereksperimen dengan double bass drum ditambah dengan peralatan musik tradisional gong dalam beberapa kesempatan pertunjukan The Minstrel’s di beberapa kota di Sumatra Utara. Ulah semacam ini, bagi seorang drummer pada saat itu dianggap sesuatu yang unik dan menarik.

Sekembalinya Adjie Bandy dari New York bersama grup Gipsy di pertengahan 1975, ia sempat bergabung dengan grup Cockpit, di mana di situ berkumpul beberapa musisi rock kenamaan seperti Bangun Sugito (yang sedang menjalani skorsing dari manajemen The Rollies); Paulce Endoh (vokal); Emmand Saleh; Nadjib Usman, dan Harry (keduanya eks Rasela) dan mereka sempat dikontrak bermain musik di sebuah klub malam di Singapura.

Reuni tidak sengaja dari mantan anggota C’Blues pun terjadi di dalam grup rock Brotherhood, Jakarta. Yongky (eks C’Blues & Hookerman) dengan Mamad (eks C’Blues dan The Minstrel’s) bergabung bersama Tommy (eks Hookerman) dan Fadil Usman (eks the Minstrel’s) juga Faried Hardja (alm), yang saat itu masih dengan gaya rambut kribonya, sebagai vokalis utama.

Setelah hengkang dari Cockpit diakhir 1975, Adjie Bandy membentuk grup baru dibantu oleh beberapa musisi Jakarta. Grup yang diberi nama Contrapunk ini sempat melahirkan satu album rekaman dengan judul Putri Mohon Diri. Sepak terjang Adjie Bandy di dunia musik setelah itu semakin diperhitungkan sebagai seorang pencipta dan composer/ penggubah lagu. Tak heran jika lagu Damai Tapi Gersang ciptaan Adjie Bandy pada World Popular Songs Festival di Tokyo, Jepang pada November 1977 yang dibawakannya bersama Hetty Koes Endang, berhasil menyabet Outstanding Song Award.

Keberadaan nasib grup C’Blues sendiri dengan para personel yang tersisanya, menyiratkan suatu ide dari sang manajer, Sakti Siahaan untuk mempersatukan lagi keberadaan grup C’Blues ini. Pada 1976, mereka sempat membuat album baru lagi di PT Yukawi, namun kabar berita rekaman ini semakin kabur. Selain itu keberadaan grup ini, jauh dari publikasi yang memadai, sehingga sulit memonitor perkembangan grup ini selanjutnya.

Namun demikian, kekompakan para personel C’Blues di luar panggung maupun dalam kesehariannya patut diacungi jempol. Karena sampai saat ini mereka masih sering berkumpul dan secara kekeluargaan masih erat layaknya persaudaraan abadi. Tak heran ketika Komunitas Pencinta Musik Indonesia (KPMI) merayakan ulang tahun yang pertama di kawasan Kemang, Jakarta pada akhir 2006 lalu, para personel C’Blues ikut memeriahkan acara sekaligus pentas nostalgia dan reuni mereka. Lagu Ikhlas yang menjadi tembang masterpiece mereka ikut diperdengarkan melalui vokal Jelly Tobing (drums, vokal) bersama dengan lagu hit lainnya Derita Tiada Akhir oleh Idang (flute, vokal), Yongky (keyboard), dan personel yang lain membuat suasana nostalgia, bahagia bercampur haru.

Idang, sang peniup flute sempat mengomentari penampilan mereka sebagai sesuatu yang langka, dan ia secara bercanda mengatakan bahwa ia bukan pemain seruling dalam tampilan terakhir bersama grup C’Blues di atas panggung.

Discografi

1. Arjati, Studio Remaco RLL 106, 1972

. Ikhlas Studio Remaco RLL 139, 1973 (Fauzi Djunaedi/KPMI )

Republika Selasa, 13 Mei 2008

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=333820&kat_id=383

PS : terimakasih buat mas jejaklangkah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s