mogi darusman / photos / post

Gemerutuk Musikal Mogi Darusman

Denny Sakrie/KPMI

Air mukanya keras. Hampir jarang menyungging senyum. Tatapan matanya tajam seolah siap menerkam. Guratan syair lagunya sarat gugat. Ingatkah Anda dengan penggalan lirik ini?

Kau tahu rayap-rayap, makin banyak dimana-mana

Di balik baju resmi

Merongrong tiang negara

Kau tahu babi babi makin gemuk di negeri kita

Mereka dengan tenang

Memakan kota dan desa

Rayap-rayap………

Lirik lagu bertajuk Rayap-Rayap ini ditulis oleh Mogi Darusman dan Teguh Esha, seniman yang melahirkan novel Ali Topan Anak Jalanan dan melodinya diambil dari hits The Cats She Was Too Young karya Piet Veerman, sahabat Mogi di Eropa. Lagu kontroversial ini direkam dalam album Aje Gile di tahun 1979.

Bayangkan, di era Orde Baru, ada sosok pemusik yang luar biasa berani melakukan kritik terbuka terhadap pemerintah. Sesuatu yang di zamannya nyaris musykil. Tapi itu dilakukan Mogi Darusman, anak seorang diplomat yang menghabiskan separuh masa remajanya di negara-negara Eropa. Ironisnya, Mogi menempatkan diri sebagai oposisi sejati yang sangat sinis terhadap rezim Soeharto yang tengah berkuasa.

Hebatnya, Mogi Darusman siap menerima risiko dari apa yang telah dilakukannya. Albumnya dibreidel. Ia pernah meringkuk di kantor Polsek Senayan, Jakarta. Ia pernah dicekal seusai manggung, karena memojokkan Presiden Soeharto dan berbagai aktivitas berskala ekstrem lainnya.

Alhasil, karena kredo bermusiknya yang senantiasa bermuara pada ranah kritik sosial, sosok Mogi Darusman disejajarkan dengan pemusik-pemusik seperti Harry Roesli, Gombloh, Leo Kristi, atau Iwan Fals. Semangat antikorupsi sudah dicanangkannya sejak awal meniti karier di negeri tercinta ini. Sebelumnya, sejak akhir dasawarsa 60-an, Mogi memang telah menjejakkan kaki dalam industri musik pop di Eropa. Tahun 1969, ia telah merilis single perdananya bertajuk Born In A Second Time yang dirilis di Jerman dan Belanda.

Mogi Darusman bahkan mewakili negara Austria dalam ajang ‘World Pop Song Festival 1971’ yang berlangsung di Budokan Hall Tokyo, Jepang. Saat itu ia sempat masuk ke tahap semifinal yang kedua pada 26 November 1971 dengan membawakan karyanya sendiri bertajuk Puppet On Life.

Di acara yang sama, Indonesia mengirimkan wakil yaitu Elly Sri Kudus dengan lagu With The Deepest Love of Djakarta karya Mochtar Embut. Dua tahun berselang, Mogi yang dikenal dengan nama populer Mogi D, kembali mewakili Austria pada Festival El Boccacio di Barcelona, Spanyol dan Folk Song Festival North Ontarioa pada tahun 1975 di North Ontario, Kanada.

Siapa Mogi Darusman?

Jika menyebut nama ini, orang senantiasa berkonotasi tentang sosok seniman pemberontak yang selalu menghujam pendengarnya lewat sederet lagu-lagu beratmosfer protes. Gemerutuk lagu-lagunya gamblang, lugas bahkan nyaris tanpa tedeng aling-aling.

Pria ini dilahirkan di Bogor, 13 September 1947, dari pasangan Boesono Darusman dan Mariati Mahdi Marzuki. Mogi bersaudara sepupu dengan politikus, Marzuki Darusman dan Candra Darusman, pemusik yang lebih banyak berkutat di ranah jazz.

Karena mengikuti ayah tercinta yang berkarier sebagai diplomat, menjadikan kehidupan masa kecil hingga remajanya justeru berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya. Ketika di bangku SD kelas 1, Mogi telah menetap di India. Seterusnya ia dan keluarganya hengkang ke Amerika hingga Eropa. Yang lama adalah ketika Mogi bermukim di negara asal Wolfgang Amadeus Mozart, Austria.

Karier musiknya justeru berkembang pesat di negara ini. Mogi selama lima tahun mengenyam pendidikan musik formal di sebuah konservatorium musik di jurusan Penata Musik dan Instrumen Gitar. Selain menguasai permainan gitar, ia juga terampil bermain piano hingga harmonika. Mogi pun memainkan musik rock, jazz, hingga blues.

Pulang kampung

Di tahun 1978, Mogi yang telah menikah dengan wanita Jerman bernama Gizela, pulang kampung ke Jakarta. Kegiatannya di dunia seni pun mulai difokuskan di Indonesia. Mogi memang seniman komplet. Tak hanya menguasai musik, ia pun menekuni seni teater, koreografi tari, dan seni ballet.

Makanya tak heran belum setahun bermukim di Jakarta, Mogi pun ditawari bermain dalam film layar lebar Perawan Desa (1978), Di Ujung Malam (1979), dan Dokter Karmila (1981). Entah kenapa dalam film-filmnya itu, Mogi senantiasa kebagian peran antagonis. Misalnya, dalam Perawan Desa, ia memerankan sosok anak muda berandal yang memperkosa wanita penjual jamu. Film ini memang diinspirasikan dari peristiwa nyata tragedi Sum Kuning, tentang pemerkosaan wanita penjual jamu di Yogyakarta.

Sejak mengeluarkan album Pusing di tahun 1992, Mogi memang nyaris tak pernah merilis album lagi. Tiba-tiba ia seperti raib ditelan bumi. Namun, antara tahun 1998 hingga 2003, ia sesekali muncul dalam komunitas penggemar musik blues di Jakarta. Di komunitas ini, Mogi sesekali melakukan jam session memainkan blues melalui gerayangan jemarinya di atas tuts piano atau meniup harmonika.

Kini, Mogi Darusman yang dahulu terlihat tangguh, kini terbaring sakit tanpa daya.

Republika, Senin, 09 April 2007/Jejak Musik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s