bubi chen / jack lesmana / jazz / photos / post

Bubi Chen Jazz,Jazz,Jazz

Jazz, Jazz, Jazz

SEJAK remaja dia sudah tampak "nakal". Dalam usia 13 tahun dia sudah berani mengaransemen beberapa ciptaan musikus dunia seperti Beethoven, Chopin dan Mozart ke dalam irama jazz. Karena perbuatan ini rupanya tak disenangi guru musiknya, dia selalu bersembunyi-sembunyi tiap kali mencobanya. Tapi pada suatu sore sang guru, Jozef Bodmer, memergoki anak asuhannya tu sedang asyik memainkan sebuah aransemen jazz. Guru berkebangsaan Swiss itu terdiam. Lantas tersenyum. Dua tahun kemudian, seusai mengajar, Bodmer justru mendorong agar muridnya itu lebih mendalami jazz. "Saya tahu itulah duniamu yang sebenarnya," katanya. Si kecil Bubi melonjak kegirangan. Dan 20 tahun kemudian, namanya tak bisa dipisahkan dari perkembangan musik jazz di Indonesia. Bubi Chen tampil sebagai salah seorang tokoh jenis musik yang berasal dari masyarakat Negro-Amerika itu.

Buta Huruf

Mengapa memilih jazz? Improvisasinya lebih kaya, tidak seperti musik klasik yang begitu terikat menurut rel-rel tertentu. Dalam jazz, aturan yang telah ditetapkan komposernya bisa saja diingkari. Si pemain tidak harus selalu tunduk kepada komposer," katanya. Dalam "bazaar jazz" di Balai Sidang Senayan, pertengahan bulan lalu ia menonjol dengan tingkahan pianonya di antara bintang-bintang jazz lainnya (TEMPO, 23 Januari). Bersama kelompoknya, ia juga memainkan In Sentimental Mood ciptaan si raja jazz, Duhe Ellington, dengan keunggulan teknis yang meyakinkan.

Bubi Chen 9 Februari ini genap berusia 44 tahun. Masa bayinya ia lewati dengan alunan biola ayahnya, Tan Khing Hoo, yang saat itu lebih menyukai musik pop. Tapi menginjak 4 – 5 tahun, si kecil Bubi–anak bungsu dari delapan bersaudara ini — sudah sering mendengar jazz yang dimainkan kakakkakaknya. "Sejak kecil lingkungan saya sudah lingkungan jazz," katanya. Tapi untuk menanamkan dasar-dasar musik, pada usia 4 tahun ia mengikuti kursus piano klasik pada seorang guru musik berkebangsaan Italia, Di Lucia. "Sampai sekarang saya sangat mengagumi lelaki itu," kata Bubi. Betapa tidak. Di Lucia, sang guru, mampu mengajar balok not kepada Bubi yang ketika itu masih buta huruf. Setahun dalam asuhan orang Italia itu, Bubi sudah mampu memainkan nomor-nomor klasik karya Chopinatau Mozart. Keunggulan metode mengajar Di Lucia itu sampai sekarang tak bisa ditiru oleh bekas muridnya. "Murid-murid saya yang paling muda sekarang berusia 7 tahun, murid kelas I SD, jadi bukan buta huruf lagi," katanya.

Dua tahun di tangan Di Lucia, Bubi belajar pada Jozef Bodmer, selama delapan tahun. Dalam usia 17 tahun, Bubi Chen sudah berani mengajar. Tapi sementara itu ia mengikuti kursus tertulis pada Wesco School of Music di New York (1955-1957). Tentu saja ia memilih kursus itu, sebab gurunya tak lain Teddy Wilson, murid dedengkot jazz, Benny Goodman. "Dari kursus itu barulah saya ketahui istilah-istilah ilmiah dalam musik jazz," katanya. Sejak itu ia lantas belajar sendiri. Ini tak sulit, sebab bintang jazz ini menguasai bahasa Belanda, Inggris dan sedikit Jerman.

Berkacamata minus, ia juga gemar membaca. Semua jenis buku–dan terutama, tentu saja, buku-buku musik. Buku-buku itu dipajang rapi di ruang tamu dan kamar kerjanya. "Saya juga punya koleksi 1.300 piringan hitam jazz dari berbagai era dan negara," tambahnya. Di rumahnya yang baru di Kupang Indah, Kompleks Darmo Permai, Surabaya, Bubi, yang punya nama baru Suprawoto, tinggal bersama istrinya, Anne Chiang, dan keempat anak lelakinya. Si sulung, Suhartoyo, 18 tahun, kelas 111 SMA, "Sejak berusia enam tahun sudah belajar piano, main jazz." Anak kedua Suparnoto, lebih mahir main drum. Anak ketiga Susyana "lebih suka melukis." Sedang si bungsu Serena, 31/2 tahun, juga sudah mulai kursus musik.

Bubi Chen yang juga menggemari fotografi dan elektronika sejak masih duduk di SMA St. Louis Surabaya sebenarnya bercita-cita menjadi dokter atau insinyur. "Rupanya takdir menyeret saya ke arah lain," katanya. Dorongan musik tampaknya jauh lebih kuat. Sehari-hari Suprawoto yang berambut tebal dan lebih sering mengenakanT-shirt itu cukup sibuk. Pagi dan sore (pukul 8 – 13 dan pukul 16 – 20) padat dengan acara mengajar piano kepada 40 orang siswanya. "Kursus itu lebih banyak diadakan di rumah daripada di Yasmi," katanya. Selama ini Bubi memang bekerja di yayasan musik Yasmi, tapi mulai April nanti ia pindah ke Yayasan Musik Victor. Beberapa orang bekas muridnya kini sudah punya nama. Misalnya Hendra Wijaya yang bergabung dengan Abadi Soesman Samuel si juara elekton dan Widya Christianti, yang sering memperkuat acara Telerama TVRI juga memainkan elekton.

Belakangan hampir setiap malam Bubi rekaman di studio Julia Recording Surabaya bersama grupnya, Crcle. "Saya sedang membuat album soft jazz dengan vokal," katanya. Vokalisnya para pendatang baru: Pauline Nainggolan, Elsye Louis, Elsye Dianita.

Ngak-Ngik-Ngok

Berapa imbalannya? Bubi enggan menyebut. "Yang jelas di bawah Rhoma Irama, " katanya sambil tertawa. Tapi yang penting, menurut Bubi, adalah usahanyamemasyarakatkan jazz. "Langkah pertama dengan soft jazz atau rock jazz, yaitu corak yang mudah dinikmati. Kemudian dengan vokal sesuai dengan selera masyarakat," katanya,’nanti secara bertahap diperkenalkan bahwa jazz tak perlu dengan vokal."

Para anggota Circle umumnya pemusik remaja, seperti Sani (bas), Kus (drum), Tri Wijayanto (gitar), Rahmat Suwondo (vibes). Menurut Bubi, grup ini,"Merupakan penerus grup yang pernah dibentuk kakak saya dulu, Yopie Chen, yang bernama Chen Brothers."

Sebagai guru piano dan musikus, Bubi Chen merasa tidak kekurangan. Seorang kawan dekatnya menyebut penghasilan Bubi dari kursus pianonya sekitar Rp 500.000/bulan. Belum lagi kalau dikontrak main di Hotel Bumi Hyatt Surabaya atau rekaman untuk Granada Recording (Jakarta), Julia Recording atau TVRI Surabaya. Meski begitu, rumahnya yang baru dan lumayan bagus itu tidak dibeli dengan uangnya sendiri. "Ini hadiah dari orangtua saya," katanya.

Di masa remaja Bubi, jazz belum banyak dikenal orang. Bahkan di zaman Jepang musik rakyat Negro itu dilarang. Kakak-kakak Bubi waktu itu terpaksa bermain dengan bersembunyi-sembunyi, sementara piringan-piringan hitam disimpan di kamar bawah tanah. "Kalau ketahuan Jepang, seisi rumah bisa ditahan," kata Bubi. Di zaman Orde Lama jenis musik ini jua diharamkan karena termasuk jenis "ngak-ngik-ngok" yang dikecam Soekarno. Tapi pada 1965 Bung Karno mengajak Bubi Chen dkk keliling Eropa Barat dan Timur, juga Aljazair. "Ketika itu dikenal dengan nama Misi Kesenian Lenso," katanya. Di negeri-negeri itu mereka tak mungkin bermain jazz. Sebab di tanah air, Lekra/PKI yang ketika itu biasa bersuara keras, menganggap jazz sebagai "musik imperialis/kapitalis". Begitu Orde Baru lahir, lahir pula Tl All Star yang kemudian melakukan muhibah ke Eropa, mengikuti jazz di Berlin dan Dusseldorf.

Menurut Bubi, di kawasan Asia saingan berat Indonesia dalam hal musik jazz hanyalah Jepang. "Dengan negeri-negeri Asia lainnya kita berani deh. Apalagi dalam dasawarsa 80-an sekarang," ujarnya. Sekarang selain punya grup sendiri, Circle, Bubi Chen juga bergabung dalam The New Indonesian All Star. Grup ini lanjutan dari The Indonesian An Star (yang dibentuk pada 1966 oleh Mas Jos dari Irama dan Radio El-Shinta, Jakarta) setelah mengalami pergantian beberapa pemain. Misalnya Yopie Chen diganti Benny Likumahua, Jack Lesmana diganti Kiboud Maulana. Pertengahan 1976, bersama The Indonesian All Star, Bubi Chen dkk pernah menyuguh kan eksperimen musik dengan beat reog di Jakarta. "Saya melihat gamelan reog itu punya ritme yang kuat. Ketika itu juga saya selipkan unsur dinamika Bali dan harmoni Sunda," katanya. Sebelumnya, 1967, dalam sebuah festival jazz di Berlin, Bubi dkk memperdengarkan nomor Summertime dengan mengikutsertakan kecapi Sunda. Sebuah majalah jazz terkemuka, Down Beat, sehabis pertunjukan itu menggelarinya sebagai pianis terbaik di Asia.

Asal Nge-Jazz

Bubi mencatat: sejak 1979 jazz mulai dikenal masyarakat Indonesia secara luas. "Dan sekarang ini luar biasa, belum pernah jazz mendapat sambutan sehangat seperti sekarang," katanya. Bandband remaja main jazz, sandiwara Srimulat juga membuka pertunjukan dengan jazz. "Tapi semua itu baru asal ngejazz saja. Mereka masih perlu belajar dalam waktu lama," komentarnya.

Sekarang memang baru kalangan menengah dan atas saja yang menggandrungi jazz. Bagi Bubi, hal ini justru aneh. "Sebab sebenarnya jazz lahir dari kalangan masyarakat bawah yang miskin dan tertekan. Saya tak habis heran kenapa begitu," katanya. Segera ia menambahkan "Itu mungkin karena masyarakat sekarang lebih kritis dari masyarakat sepuluh tahun yang lalu." Dulu orang suka hanyut oleh musik pop yang manis dan enak. Sekarang orang tampaknya lebih menyukai kebebasan untuk mengungkapkan isi hati dan pikiran. "Ini agaknya menjadi ciri masyarakat sekarang. Dan musik yang memberi kemungkinan seperti itu ialah jazz. Harmoni, dinamika, improvisasi lebih bersifat ungkapan pribadi," katanya.

Bagi Bubi pribadi, bermain jazz merupakan "kehidupan" tersendiri. Yaitu pada saat jarijemarinya memainkan piano atau keyboard. "Semua duka lenyap seketika, sebaliknya gejolak suka muncul di haribaan jazz –ap,lagi bila mendapat apresiasi khalayak," kata Bubi Chen alias Suprawoto.

Majalah Tempo 6 Februari 1982 & mellowtone

Bersama Jack Lesmana

Djanger Bali – (SABA, 1967)

Jazz Masa Lalu & Masa Kini – (Hidayat, 1976)

Album Studio

Bubi Chen & Kwartet – (Lokananta, 1959)

Bubi Chen and His Fabulous 5 – (Irama, 1962)

Bubi Chen – Buaian Asmara (1967)

Lagu Untukmu – (Irama, 1969)

"Bila Ku Ingat (Bubi Chen With Strings)" – (Irama, 1969)

Margie Segers & Bubi Chen "Terpikat" (Hidayat, 1975)

Mengapa Kau Menangis – (Irama Tara)

Just Jazz – (Virgo Ramayana)

Mr. Jazz

Instrumental Piano – Pop Indonesia (Nirwana)

Bubi Chen Plays Soft and Easy (Atlantic Records, 1977)

Musik Santai (Atlantic Records)

Jazz Meeting Vol.1 – Recoding Live In Bandung (Hidayat)

Rien Djamain & Jack Lesmana Combo – "Telah Berlalu"

Selembut Kain Sutera – (Hidayat)

Kau Dan Aku – (Hidayat)

Bubi Di Amerika – (Hidayat 1984)

Kedamaian – (Hidayat, 1989)

Bubby Chen and his friends – (Bulletin, 1990)

Virtuoso – (Legend Records, 1995)

Jazz The Two Of Us – (Legend Records, 1996)

Judge Bao – (Legend Records, 1996)

Romantiques – The Way We Were (Legend Records, 1996)

Mei Hua San Lung – (Legend Records, 1997)

Nice ‘n Easy – My Way (Legend Records, 1997)

Nice ‘n Easy – Love Me Tender (Legend Records, 1997)

Nice ‘n Easy – What a Wonderful World (Legend Records, 1997)

Romantiques – Monalisa (Legend Records, 1997)

Romantiques – All I Am (Legend Records, 1997)

A.S.I.C. Australia Singapore Indonesia Connection -(Legend Records, 1998)

The Many Collours of Buby Chen

Bubi Chen Plays Rock

Best Of Me;; – (Platinum, 2007)

Wonderful World – (Sangaji Music)

Buaian Asmara – (DeMajors, 2007)
















3 thoughts on “Bubi Chen Jazz,Jazz,Jazz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s