gombloh / photos / post / soelih

Puas Bisa Mengabadikan Musikus Legendaris Surabaya

Puas Bisa Mengabadikan Musikus Legendaris Surabaya

Astanto Al Budiman

http://www.jawapos.co.id/

Tugas akhir Masnuna tergolong unik di kampusnya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Dia membuat buku biografi almarhum Gombloh, musikus Surabaya yang kondang era 1980-an, untuk meraih gelar sarjana dalam Program Studi Desain Komunikasi Visual (Diskomvis), Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.

Di radio, aku dengar…

lagu kesayanganmu

kutelepon di rumahmu

sedang apa sayangku…

kuharap engkau mendengar

dan kukatakan rindu…

Lirik lagu Kugadaikan Cintaku itu menjadi salah satu lagu hit Gombloh yang hingga kini masih enak didendangkan dan didengar. Lagu tersebut seolah tak lekang oleh zaman, sehingga generasi sekarang pun masih mengenalnya.

Salah seorang di antaranya adalah Masnuna yang belum lama ini mengabadikan perjalanan hidup penyanyi balada bernama asli Soedjarwoto Soemarsono tersebut dalam sebuah buku. Buku biografi itu sekaligus merupakan tugas akhirnya untuk meraih gelar sarjana.

Buku berukuran 19 x 20 sentimeter tersebut didesain klasik. Nuna -panggilan Masnuna- menggunakan kertas cokelat, lebih tua dibanding kertas buram. Buku setebal 140 halaman itu juga dilengkapi foto-foto almarhum dari masa ke masa. Pada sampul depan, Nuna memasang gambar Gombloh lengkap dengan kacamata hitam. Di bawahnya tertulis judul buku tersebut: Gombloh Pahlawan Seniman Surabaya.

Buku tersebut memuat kisah perjalanan hidup penyanyi jalanan yang sukses di dapur rekaman itu. �Semua saya gambarkan dalam biografi ini. Mulai sebelum terkenal hingga menjelang meninggalnya,� jelas alumnus Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Surabaya tersebut.

Nuna juga menyertakan gambar monumen patung Gombloh di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya serta gambar kuburan Gomloh di Makam Tembok Surabaya pada halaman terakhir.

Selain itu, ada cerita yang mengilustrasikan dan mendeskripsikan roda perjalanan sosok musikus legendaris itu. Mulai Gombloh bergaul di Dewan Kesenian Surabaya sampai masuk dapur rekaman.

Tak lupa, Nuna menyertakan sejumlah lagu hit karya sang maestro. Di antaranya, Kebyar-Kebyar, Kugadaikan Cintaku, Hong Wilang Bawono Langgeng, Selamat Pagi Cintaku, dan Kedamaian.

Lantaran Nuna kuliah di jurusan Diskomvis, buku karyanya itu pun harus menonjolkan sisi artistik dan komunikasi, selain kontennya. Karena itu, dia betul-betul memperhitungkan tata letak, pemilihan jenis huruf, pewarnaan, cropping foto, dan sisi perwajahan lainnya.

�Karena ini buku biografi tokoh yang jaya pada era 80-an, image visualnya harus bisa menggambarkan era itu,� ujarnya.

Nuna mengaku membutuhkan waktu tiga minggu untuk membuat desain buku klasiknya tersebut. Dia juga harus bekerja keras untuk mengumpulkan arsip serta dokumentasi foto penyanyi yang meninggal pada 1988 tersebut. Itu tidak mudah karena ternyata Gombloh dan keluarganya tak banyak menyimpan foto-foto tersebut.

Maka, langkah pertama yang diambil Nuna adalah menemui istri Gombloh, Wiwik, yang kini tinggal di kawasan Mulyosari. �Bu Wiwik waktu itu sangat sulit ditemui. Setiap kali saya ke rumahnya, dia tak ada,� ujar Nuna.

Perlu dua bulan bagi Nuna untuk bisa bertemu istri Gombloh itu. Dari Wiwik, dia mendapat banyak informasi penting mengenai musikus seangkatan Iwan Fals tersebut.

Menurut Wiwik, sebenarnya suaminya itu tidak sendirian dalam berproses. Dia mempunyai grup band bernama Lemon Trees Anno 69. Dalam band itu, ada dua perempuan yang selalu mendampingi kiprah Gombloh. Mereka adalah Soelih dan Ratih, backing vocal band itu.

�Lewat mereka itulah saya mendapat banyak gambaran tentang karir Gombloh. Mulai kebiasaan-kebiasaannya dan bagaimana dia bekerja dalam grup bandnya,� ungkap perempuan kelahiran 12 Mei 1984 tersebut.

Dari cerita kakak beradik,
Soelih Estoe Pangesti dan Ratih Winanti, Nuna bisa mendapat gambaran betapa Gombloh punya kebiasaan �nyentrik�: tak pernah mandi. �Saya sebutkan dalam buku itu bahwa Gombloh jarang mandi. Dia mandi dan keramas seminggu sekali, sehingga rambutnya yang panjang banyak ketombenya,� papar Nuna. �Kerjaannya suka nggaruk-nggaruk kepala,� tambah Nuna menirukan cerita Ratih.

Tapi, di balik kegembelannya, secara pribadi Gombloh baik hati kepada siapa saja yang dikenal. Di sekitar rumahnya, yang kebetulan tak jauh dari kawasan �merah�, Gombloh sering membantu PSK (pekerja seks komersial) yang sedang sakit dan tak punya uang.

�Gombloh pernah membiayai pengobatan PSK yang kena AIDS,� jelas Nuna yang diwisuda pada 19 Februari lalu tersebut.

Bukan hanya itu. Gombloh juga kerap mengajak PSK ke studio rekaman. �Timbangane koen nunggu tamu, ayo melok aku nang studio (daripada kami menunggu tamu, ayo ikut aku ke studio, Red),� ujar Nuna menirukan cerita Soelih yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Unair itu.

Sikap peduli Gombloh kepada anak-anak dan pengamen jalanan juga dirajut dalam biografi itu. Saat manggung di beberapa konser, Gombloh sering mengajak anak-anak jalanan dan musisi jalanan untuk mengiringi lagunya. �Pulangnya, anak-anak tersebut dikasih uang Rp 10.000. Waktu itu, uang segitu sudah banyak,� ungkap Soelih kepada Nuna.

Nuna juga menemui sahabat Gombloh, Rokhim Dakas, seniman teater yang sering dijumpai di Balai Pemuda Surabaya. Selain Rokhim, Nuna berdiskusi dengan orang-orang di Dewan Kesenian Surabaya. �Saya mewawancarai Pak Rokhim lebih dari lima kali. Sambil cangkrukan dan minum kopi,� katanya.

Tak lupa, dia juga menemui kakak kandung Gombloh bernama Anwar di kiosnya di kawasan Embong Malang, Surabaya. �Dari Pak Anwar, saya mendapat cerita masa kecil Gombloh,� ucapnya.

Setelah semua data terkumpul, Nuna mulai menyusunnya menjadi sebuah biografi. Tak diduga, setelah jadi dan diterbitkan terbatas -untuk kepentingan ujian TA-, buku itu mempunyai 140 halaman.

Buku karya Nuna tersebut sempat dilirik sebuah penerbit buku untuk diterbitkan secara komersial. Namun, belum ada deal antara keduanya. �Kata penerbit, untuk mencetak buku itu dalam jumlah banyak, ongkosnya cukup mahal. Sebab, kertas yang saya pakai bukan kertas HVS biasa,� jelasnya.

Nuna memakai kertas art paper untuk sampul dan kertas rivers untuk halaman dalam. �Bagi saya, kertas itu bisa diganti. Yang penting, sejarah musisi legendaris tersebut bisa dikenang masyarakat lewat buku,� tegasnya. (*/ari)

5 thoughts on “Puas Bisa Mengabadikan Musikus Legendaris Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s